Gigi Dall’Igna: Gelar Pembalap adalah Hal yang Paling Penting

RiderTua.com – Gigi Dall’Igna selaku General Manager Ducati Corse ingin meraih Gelar Dunia Pembalap pada 2022. “Penting untuk mempunyai motor yang kompetitif, tapi yang lebih penting (lagi) adalah gelar pembalap,” kata insinyur jenius asal Italia itu. BTW, Ducati Corse berhasil meraih 8 pole position dan 6 kemenangan (Pecco Bagnaia dan Enea Bastianini masing-masing membukukan 3 kemenangan) dalam 11 seri MotoGP tahun ini. Ducati berada di jalur untuk ketiga kalinya secara seri memenangkan Kejuaraan Konstruktor. Meski demikian, masih ada yang kurang. Dalam klasemen pembalap, empat rider Ducati berada di 7 besar. Tetapi Ducati terbaik yakni Johann Zarco kalah 58 poin dari pemimpin klasemen Fabio Quartararo (Yamaha), sementara pembalap favorit Pecco Bagnaia malah kalah 66 poin.

Gigi Dall’Igna: Gelar Pembalap adalah Hal yang Paling Penting

Dalam sebuah wawancara, Gigi Dall’Igna yang pindah dari Aprilia ke Ducati pada Oktober 2013 untuk memenuhi impian terakhirnya memenangkan gelar MotoGP, berbicara secara terbuka tentang tujuan yang dicapai dan tidak dicapai, awal musim yang gagal dan juga Miguel Oliveira.

Di kejuaraan pembalap, Ducati telah tiga kali menjadi juara kedua (runner-up) dalam 5 tahun terakhir bersama Andrea Dovizioso (2017 hingga 2019) dan Bagnaia (2021).

Gigi membawa Ducati kembali ke puncak. Kini Ducati mempunyai 8 motor di lintasan dan 7 pembalap berhasil meraih podium pada tahun 2022. Tetapi situasi di Kejuaraan Pembalap terlihat tidak ada harapan. Sambil tertawa Gigi menjawab, “Ya, situasinya tidak seperti yang kita inginkan.”

Ducati kini telah meraih banyak ‘gol’ di kelas MotoGP. Desmosedici menjadi lebih mudah dikendarai, bahkan pemula seperti Marco Bezzecchi berhasil mencapai podium. Alhasil, Ducati mampu menarik banyak pembalap papan atas. “Jujur, kami tidak merekrut banyak pembalap top. Kami membangun dan mempromosikan sebagian besar pembalap di tim satelit sendiri, ini berbeda dari sebelumnya,” ungkap Gigi.

Gigi menambahkan, “Pada dasarnya, bukan tujuan kami punya banyak pembalap. Ketika kami memulai karir MotoGP dengan pembalap muda, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi pada akhirnya kami cukup senang dengan hasil yang telah dicapai oleh talenta kami. Itulah kenyataannya. Saat ini kami mempunyai lebih dari satu pembalap top di motor kami. Itu selalu menjadi tujuan kami. Banyaknya pembalap bukanlah masalah sebenarnya.”

Jadi di mana masalahnya? Bagaimanapun, awal musim 2022 gagal total, terutama bagi Pecco Bagnaia. “Ya, itu menjadi salah satu masalah. Setelah awal musim, Enea Bastianini memenangkan 3 dari 7 balapan pertama. Setelah beberapa kali gagal Enea berada di peringkat 5 dalam klasemen, sekarang dia kalah 67 poin di belakang Quartararo. Dia berada di bawah tekanan karena dia ingin bergabung dengan tim pabrikan, bukan Miller. Bagaimanapun, pembalap Ducati mengambil banyak poin dari satu sama lain. Saya tidak berpikir itu kesalahan. Saya tak berdaya, hal ini tidak dapat dihindari. Bahkan jika Bastianini duduk di posisi yang berbeda, dia bisa mengambil poin dari pembalap kami,” imbuh general manajer berusia 56 tahun itu.

Penting Punya Motor Bagus, Tapi Gelar Pembalap Lebih Penting

Dulu hanya Casey Stoner yang cepat di Ducati, banyak pembalap lainnya mulai Sete Gibernau hingga Marco Melandri gagal di sana. Langkah demi langkah mereka membuat Desmosedici menjadi motor terbaik di lintasan. Kini setiap pembalap yang penuh harapan menginginkan Ducati. Apakah itu adalah tujuan yang selalu Gigi pikirkan? “Sangat. Yang terpenting adalah punya motor yang kompetitif,” tegasnya.

Memenangkan Kejuaraan Pembalap bahkan lebih penting? “Ya, tentu. Itu yang paling penting. Tapi biasanya kita harus membangun motor yang tepat terlebih dahulu sebelum kita bisa memenangkan Kejuaraan Pembalap,” lanjutnya.

Terkadang pembalap terbaik baru saja menang, seperti Quartararo pada tahun 2021. Pada tahun 2007 Ducati mungkin juga bukan motor terbaik, tetapi Stoner dan ban Bridgestone membuat banyak hal. “Terkadang situasi seperti ini terjadi, tapi terkadang tidak terjadi,” jawabnya.

Pada tahun 2023 Gigi akan memasuki musim ke-10 nya di Ducati. Apakah dia kehabisan kesabaran? “Tidak,” jawabnya.

Apakah Gigi masih punya harapan untuk memenangkan gelar pada tahun 2022? “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tujuan kami adalah mencoba segalanya hingga balapan terakhir. Kami akan melakukannya, tanpa ragu,” lanjutnya.

Di Barcelona, Ducati bernegosiasi dengan Miguel dan manajer selakigus ayahnya Paul Oliveira. Tapi rider asal Portugal itu malah pergi ke RNF-Aprilia, sementara Gresini telah memilih Alex Marquez. Sebenarnya Ducati lebih suka mempekerjakan Oliveira, bukan?
“Diskusi terakhir adalah antara Oliveira dan Gresini Racing, bukan Ducati. Tim harus membuat keputusan akhir,” jawabnya.

Ducati dan Oliveira setuju? “Ya, kami akan senang jika Oliveira mengendarai motor kami di masa depan. Dia adalah pembalap yang sangat saya sukai. Bukan hanya saya, semua orang di Ducati menyukai gaya balap dan sikap mentalnya. Dia tentu saja salah satu pilihan terbaik,” pungkas Gigi Dall’Igna.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page