Pecco Bagnaia: Harus Konsisten!

RiderTua.com – Pecco Bagnaia memenangkan 3 dari 11 balapan musim ini. Rider pabrikan Ducati itu kini menempati peringkat 6 dalam klasemen saat jeda musim panas MotoGP. Setelah menjadi runner-up pada 2021, Pecco menjadi penantang utama untuk perebutan gelar sebelum musim 2022 bergulir. Tetapi sayangnya, dia membuat kesalahan dengan membukukan empat kali nirpoin sehingga dia harus turun peringkat. Selain itu paket GP22 juga tidak mendukung pada seri awal musim ini. Kenapa bisa jatuh? Pecco berujar, “Mungkin saya masih harus belajar bahwa, dalam situasi tertentu kami harus terus nge-push motor dan tidak menyerah. Mungkin terdengar aneh, ketika saya memimpin balapan sendirian, masalahnya lebih kecil. Ketika mengontrol pembalap di belakang saya bukanlah masalah bagi saya. Tapi ketika saya mengikuti pembalap lain, sepertinya lebih mudah untuk membuat kesalahan seperti itu,” katanya..

Selisih antara dia dan juara bertahan Fabio Quartararo yang berada di puncak klasemen adalah 66 poin.

Pecco Bagnaia: Harus Konsisten

Saat Pecco Bagnaia ditanya, apa artinya bagi seorang pembalap ketika semua orang menjagokannya sebagai favorit? “Di awal musim saya cukup yakin bahwa saya bisa memperebutkan gelar berkat peningkatan yang kami lakukan dibandingkan tahun lalu. Favorit teratas, tidak diragukan lagi adalah Fabio sebagai juara dunia,” jawab rider berusia 24 tahun itu.

Murid Valentino Rossi itu menambahkan, “Awal musim tidak berjalan sesuai ekspektasi kami. Mesin kami tidak bekerja dengan baik, kami harus banyak berubah dan meningkat. Saat itu kami berada di jalur yang benar di Portimao dan khususnya di Jerez, tapi itu cukup terlambat. Kemudian saya membuat beberapa kesalahan dan bernasib buruk. Tetapi penting untuk menganalisis, mengapa saya melakukan kesalahan ini dan bagaimana menghindarinya.”

Setelah crash di Sachsenring, Pecco menekankan bahwa dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tapi karena itu crash, itu pasti sebuah kesalahan. Sebenarnya apa masalahnya? “Itu benar-benar sulit untuk dipahami. Tapi musim ini saya dua kali crash pada saat saya pikir saya bisa nge-push lebih keras. Bukan karena kurang konsentrasi, fokus saya cukup normal,” lanjut rider asal Italia itu.

Pecco melanjutkan, “Tapi mungkin saya masih harus belajar bahwa, dalam situasi tertentu kami harus terus nge-push motor kami dan tidak menyerah. Mungkin terdengar aneh, tapi itulah satu-satunya penjelasan yang saya punya. Ketika saya memimpin balapan sendirian, masalahnya lebih kecil. Mengontrol pembalap di belakang saya bukanlah masalah bagi saya. Tapi ketika saya mengikuti pembalap lain, sepertinya lebih mudah untuk membuat kesalahan seperti itu.”

Apa yang lebih besar, euforia setelah menang atau frustrasi setelah crash? “Jujur, kita balapan untuk meraih sebuah gelar, bukan? Memenangkan balapan adalah hal yang fantastis, tetapi ketika kita membuat kesalahan seperti yang saya lakukan, itu lebih menyakitkan ketimbang kegembiraan saat menang. Jika kita menginginkan gelar, sangat penting untuk tampil konsisten. Saya pikir sebagai pembalap, kita semua tahu bagaimana menghadapi tekanan,” tegas murid VR46 Academy itu.

“Di Moto2 saya memenangkan 8 balapan dengan gaya balap agresif dengan bagian depan. Tidak banyak duel saat itu. Namun saya pikir, saya melakukan duel dengan baik karena saya biasanya dapat menebus start yang buruk atau posisi start yang buruk dalam balapan. Tetapi jika balapan tampaknya sedikit menemui jalan buntu, mungkin saya harus terus nge-push,” imbuhnya.

Jika pembalap menang, itulah yang diharapkan dari mereka. Jika pembalap crash, mereka perlu mencoba membangun kembali kepercayaan dirinya. Bagaimana Pecco melakukannya? “Saya biasanya tahu betul pilihan saya. Saya tahu bahwa saya bisa menjadi yang terdepan di semua balapan. Kami menunjukkan setiap waktu bahwa kami punya kecepatan,” jawabnya.

“Jika saya crash atau jika kami punya masalah, saya tahu bahwa kami bisa kembali cepat di balapan berikutnya. Itu bikin saya tenang. Jika terjadi kesalahan, crash atau masalah lain, sangat penting untuk memahami mengapa hal seperti ini terjadi. Pikiran-pikiran seperti ini terus menggelayut di benak saya,” pungkas Pecco.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page