Luca Marini: Saya Pembalap yang Paling Dibenci Maverick Vinales

RiderTua.com – Meskipun Luca Marini menunggangi Ducati GP22 terbaru, pembalap Mooney VR46 MotoGP itu mengeluh masih kesulitan dalam akselerasi dan menyalip. Di GP Le Mans, pembalap berusia 24 tahun itu finis ke-9 setelah start dari posisi ke-15 di grid dan merupakan pertama kalinya dia berhasil masuk 10 besar musim ini. Rider asal Italia itu mengakui bahwa saat ini sangat sulit baginya untuk menyalip, dia hanya menunggu pembalap lain membuat kesalahan. Marini memberi contoh konkret. “Saya pikir, musim ini dan juga tahun lalu, saya adalah pembalap yang paling dibenci Maverick Vinales. Setiap kali dia di belakang saya, saya mencoba untuk tidak membiarkannya menyalipku”.

“Race pace Vinales jauh lebih cepat dari saya, tetapi dia tidak bisa menyalip saya mungkin karena tekanan ban atau perasaan dengan ban depan. Jika kita tidak membuat kesalahan selama 27 lap, pembalap di belakang kita tidak akan bisa menyalip kecuali kita punya kecepatan yang jauh lebih tinggi di trek lurus. Tapi itu bukan kasus saya saat ini,” ujar putra Mama Stefania itu sambil tersenyum.

Luca Marini: Saya Pembalap yang Paling Dibenci Maverick Vinales

Mengenai kesulitannya dalam akselerasi dan menyalip, Marini mengatakan, “Michelin perlu fokus pada ban depan untuk membuat balapan lebih baik.”

Tentang finis ke-9 yang berhasil diraihnya di GP Prancis, Marini menambahkan, “Saya harus puas dengan apa yang saya rasakan di atas motor. Itu mungkin balapan pertama, di mana saya cepat. Apalagi saat saya balapan seorang diri. Sekarang sangat sulit bagi saya untuk menyalip di belakang pembalap lain. Saya kalah banyak di semua fase akselerasi. Meskipun rem saya lebih kuat ketimbang yang lain, saya datang ke titik pengereman berikutnya terlalu jauh jarak di belakang. Jadi tidak mungkin menyalip pembalap lain jika saya tidak ingin mendahuluinya.”

Luca Marini
Luca Marini

“Saya tidak begitu senang dengan hasilnya karena saya merasa kami bisa melakukan yang lebih baik. Kami pasti bisa finis di 5 besar, tapi kami masih kehilangan sesuatu. Tetap saja, saya senang dengan balapan ini, karena bagian mana yang perlu kami tingkatkan sudah jelas. Kita bisa melakukan sedikit lebih baik. Kami dapat meningkatkan motor dan terutama elektronik bahkan lebih, untuk menjadi lebih baik.”

Maro melanjutkan, “Tentu saja kita harus berada di Q2 setelahnya, untuk dapat menunjukkan balapan yang bagus. Sangat sulit untuk menyalip dengan ban yang kami gunakan, karena tekanan dan suhu ban meningkat. Menyalip pada fase pengereman itu sulit karena semua pembalap melakukan late braking”

“Motor MotoGP ini luar biasa, bannya juga luar biasa. Menurut saya, Michelin melakukan pekerjaan yang bagus dengan ban belakang dan meningkatkannya jauh lebih baik dibandingkan tahun 2019. Tapi sekarang mereka harus fokus pada ban depan sehingga kami bisa menunjukkan performa balapan yang lebih baik. Karena selama ini, kita hanya bisa berada di belakang pembalap lain dan menunggu dia melakukan kesalahan. Jika dia tidak membuat kesalahan, manuver menyalip sangat tidak mungkin dilakukan.”

Itu pernyataan yang tidak biasa bagi seorang pembalap Ducati. “Ya, itu aneh,” tegas adik Valentino Rossi itu.

Postur Tubuh

“Saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena postur saya lebih tinggi atau bobot saya lebih berat dari pembalap lain. Itu bisa menjadi opsi untuk menetapkan berat minimum untuk pembalap plus motor. Jika Carmelo (Ezpeleta) atau IRTA ingin melakukan itu, saya akan melakukannya. Saya pikir mungkin lebih fair. Ini juga terjadi di sport lain dan kelas balap motor lain, misalnya di Moto2. Saya tahu, itu mirip dengan Danilo Petrucci. Tapi saya tidak tahu apakah itu masalahnya atau apakah ada sesuatu yang lain. Tapi itu bisa menjadi permulaan,” ujar rekan setim Marco Bezzecchi itu.

“Ketika saya melahap satu lap, saya kehilangan kecepatan di lintasan lurus (start-finish), kemudian kecepatan antara tikungan 6 dan 7 dan antara 7 dan 8, lalu antara 8 dan 9,” kata Marini setelah race 27 lap di Sirkuit Bugatti.

“Sekarang saya melakukan late braking karena motor kami luar biasa dalam hal itu. Saya mencoba menggunakan kekuatan itu dan saya banyak berkembang di area itu. Mungkin saya masih kehilangan sesuatu di bagian terakhir fase pengereman, tapi kami sedang mengusahakannya. Setelah balapan ini, kami punya pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mengelola dan meningkatkan fase ini,” imbuhnya.

“Tapi kami tidak tahu mengapa saya kalah begitu banyak dalam akselerasi. Saya kalah di gigi kedua, ketiga dan keempat. Ducati pasti melihat data dan mencoba menemukan cara untuk membantu saya. Karena saya merasa, seperti itulah yang saya alami karena saya tidak bisa menyalip. Saya merasa seperti Fabio (Quartararo). Sangat sulit untuk hanya mengatur posisi kita, tidak membuat kesalahan dan tidak membiarkan pembalap di belakang kita menyalip,” pungkas Marini.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page