Home MotoGP Pemilik Tim Tech3: Satu Motor Per Pembalap Itu Hemat? Hemat dari Mana?

    Pemilik Tim Tech3: Satu Motor Per Pembalap Itu Hemat? Hemat dari Mana?

    Dani Pedrosa - Pit Box KTM
    Dani Pedrosa - Pit Box KTM

    RiderTua.com – Guenther Steiner (pemilik tim Tech3) memperingatkan bahwa MotoGP bisa melakukan kesalahan besar jika aturan satu motor per pembalap benar-benar diterapkan, yang kabarnya akan berlaku mulai 2027. Aturan tersebut dibuat sebagai upaya untuk penghematan anggaran, sebagaimana kita tahu biaya di MotoGP memang sangat mahal.

    Menurut Steiner, MotoGP justru akan boncos jika melakukannya. “Mungkin saya terlalu bodoh untuk memahaminya, tetapi saya tidak tahu dimana letak penghematannya jika hanya memiliki satu atau dua motor. Mengapa jumlah mekaniknya harus berkurang? Maksud saya, kita tetap membutuhkan motor kedua atau cadangan. Hanya saja sekarang semua komponen dan suku cadangnya berada di balik dinding garasi. Jadi, jika kita harus merakit motor, apakah kita membutuhkan lebih banyak atau lebih sedikit orang? Saya rasa tidak,” jelas mantan bos di ajang Formula 1 itu.

    Pemilik Tim Tech3: Satu Motor Per Pembalap Itu Hemat? Hemat dari Mana? Dampak Negatifnya Justru akan Sangat Besar Buat MotoGP

    Guenther Steiner - Herve Poncharal - Tim Tech3
    Guenther Steiner – Herve Poncharal – Tim Tech3

    Guenther Steiner menambahkan, “Mungkin awalnya kita tidak membutuhkan lebih banyak orang, tetapi pada akhirnya kita justru akan membawa lebih banyak personel. Karena jika terjadi crash, kita harus merakit motor cadangan yang setengah jadi di belakang garasi. Sekarang pada saat yang sama kita harus memperbaiki motor utama sekaligus merakit motor cadangan. Jadi saya rasa tidak ada penghematan yang bisa dilakukan. Saya benar-benar tidak mengerti.”

    “Dan kita ‘mencuri’ bagian dari pertunjukan itu sendiri dari para penonton. Siapa bagian terpenting dari olahraga, apa pun itu? Para penggemar. Saya rasa kita mengurangi daya tarik tontonan tanpa alasan yang jelas. Saya pribadi berpikir tidak ada penghematan. Saya diberitahu bahwa penghematan sangat kecil, atau hanya setara gaji satu mekanik per tahun. Tetapi kita menghilangkan banyak aspek menarik dari olahraga ini demi keuntungan yang sangat kecil. Jadi karena itulah saya cukup vokal soal ini, karena saya benar-benar gagal paham,” imbuhnya kecewa.

    Jika aturan satu motor per pembalap diberlakukan, yang jadi ‘korban’ pertama adalah balapan flag to flag di mana pembalap harus ganti motor ketika kondisi lintasan atau cuaca berubah. Karena disinilah letak salah satu keseruan yang disuguhkan MotoGP.

    “Apa yang lebih keren daripada melihat seorang pembalap yang melompat dari satu motor ke motor lain saat hujan? Lihat saja hasilnya di media sosial. Ketika itu terjadi, langsung viral. Orang-orang menganggapnya keren. Dan jika kita menghilangkannya, saya rasa itu bukan keputusan yang cerdas,” tegas Steiner.

    KTM Pit box MotoGP
    KTM Pit box MotoGP

    Kabarnya, masih ada kemungkinan aturan tersebut ditiadakan tergantung dari situasi balapan. Jadi dalam kondisi balapan flag to flag, pembalap diizinkan untuk ganti motor. Namun hal tersebut justru membuat alasan penghematan anggaran semakin dipertanyakan, tetapi setidaknya menghindari pembalap yang terpaksa absen saat dilakukan restart jika motor utama mereka rusak.

    Namun crash dalam latihan atau saat sesi kualifikasi akan membuat pembalap harus menunggu lebih lama di pit, sementara para mekanik menghadapi tekanan yang lebih besar untuk melakukan perbaikan secepatnya.

    Steiner mengaku heran mengapa aturan ini sangat didukung pabrikan. “Saya menentangnya, tetapi para pabrikan tampaknya justru mendukungnya. Saya belum mengerti, apa yang sebenarnya mendorong ide ini. Karena Dorna (MotoGP SEG) tidak mendukungnya. Aturan ini jelas mengurangi daya tarik acara yang mereka jual. Para pabrikan tidak mengerti bahwa mereka mengurangi daya tarik acara mereka sendiri, padahal ini kesempatan bagus buat mereka untuk memamerkan produk mereka kepada dunia,” ujarnya.

    Joan Mir
    Ban Baru Pirelli MotoGP

    Bos berusia 61 tahun itu melanjutkan, “Kita tetap membutuhkan jumlah suku cadang yang sama. Karena jika terjadi crash, kita tetap harus merakit motor kedua. Tetapi alih-alih dalam satu bagian utuh yang siap pakai, motor tersebut terpecah menjadi 200 bagian. Saya harap orang-orang sadar bahwa ini sebenarnya salah satu ide yang tidak terlalu bagus.”

    Jika MotoGP serius ingin mengurangi biaya, Steiner punya solusi yang lebih efektif. “Jika ingin menghemat uang, solusinya sangat mudah yakni batasan anggaran (budget cap). Kita semua tahu, sistem tersebut berhasil di Formula 1. Atau mengurangi pengetesan, sangat mudah sebenarnya,” pungkas Guenther Steiner.

     

    Pemilik Tim Tech3: Satu Motor Per Pembalap Itu Hemat? Hemat dari Mana?
    Pemilik Tim Tech3- Satu Motor Per Pembalap Itu Hemat Hemat dari Mana

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini