RiderTua.com – Biasanya pengembangan mobil membutuhkan waktu cukup lama, bahkan ada yang bisa mencapai bertahun-tahun lamanya. Tapi produsen otomotif asal China bisa membuatnya dalam waktu singkat, dan inilah yang mulai ditiru oleh merek lainnya.
▶Daftar Isi
Lamanya Pengembangan Mobil Tergantung Produsen?
Merek seperti Nissan menjadi salah satu diantaranya yang membuat mobil dalam waktu cukup lama hingga 55 bulan, atau lebih dari empat tahun. Ini sudah terlalu lama bagi mereka, apalagi mereka masih harus mengejar ketertinggalannya dari kompetitor di pasarnya yang sudah menjual banyak mobil baru di pasar. Tak sedikit merek asal China bisa cepat berjualan mobil di pasar global karena sudah punya banyak model, sekaligus membuat mobil dalam waktu singkat.

Nissan mulai melihat bagaimana merek China bisa membuat mobil kurang dari empat tahun, atau bahkan bisa kurang dari itu. Merek dari negara ini sudah punya segalanya, termasuk dalam kecanggihan teknologi perakitan mobil yang dimilikinya, dan tidak sedikit ada yang memakai AI. Inilah yang ditiru oleh merek asal Jepang tersebut, dan mereka bisa memangkas waktu pengembangannya dari 55 bulan menjadi 26 bulan, atau sekitar dua tahun.
Kini mereka mengaku kalau merek China menjadi acuan bagi produsen otomotif di seluruh dunia dalam hal teknologi, biaya, dan waktu pengembangan yang dibutuhkan. Sebelumnya hanya merek asal Jepang dan Jerman yang dijadikan rujukan bagi industri otomotif global, kini bergeser ke China. Jelas sudah waktunya bagi merek lainnya untuk mengejar ketertinggalannya dimana merek asal Negeri Bambu semakin mendominasi.

Kalah Laris
Sebelumnya penjualan mobil Nissan sepanjang tahun ini di Indonesia baru mencapai 144 unit, dan hasil tersebut jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan. Mungkin saja mereka juga kalah laris dari kompetitornya di pasar global, dan ini terjadi akibat dominasi merek asal China yang semakin menjadi-jadi. Jelas mereka harus mengejar ketertinggalannya kalau belum mau diungguli oleh kompetitor yang jauh lebih kuat penjualannya.
Tidak hanya Nissan yang menyadari merek China semakin cepat dalam membuat mobil baru, tetapi juga Honda dan Mercedes-Benz. Jelas ini artinya keduanya juga harus ikut mengejar ketertinggalan dari produsen asal negara tersebut, bahkan untuk merek premium seperti Mercy. Meski mereka punya dominasi cukup kuat di pasarnya, merek model premium baru semakin merambah di pasar global.

Model Baru yang Dikembangkan
Waktu pengembangan yang lebih singkat ini mulai diterapkan pada All New Skyline, dan mereka melakukan ini sebelum peluncurannya sekitar musim dingin tahun ini. Setelah Skyline, belum dipastikan apa ada model lainnya yang akan dirakit dengan waktu pengembangan selama 26 bulan tersebut. Tapi setidaknya kini mereka tidak perlu menunggu empat tahun lebih sampai mobilnya siap diproduksi massal dan dijual.
Soal mobil baru, belakangan ini mereka terus melakukan penyegaran terhadap sejumlah modle yang dijualnya, walau model anyar juga tetap dirilis. Terakhir Nissan merilis Sakura Facelift di kampung halamannya yang kini tampil dengan desain lebih modern untuk menghadang kompetitor dari China. Bahkan meski meniru bagaimana waktu pengembangannya bisa dipotong, mereka tetap melawannya dengan memberi penyegaran untuk produk unggulannya.

Sementara di Indonesia, merek asal Jepang ini baru menjual segelintir model baru, dengan X-Trail e-Power menjadi model terakhir yang dirilisnya. Mereka juga membawa Serena e-Power karena pasar MPV sliding door yang masih sangat menjanjikan, terlebih belum banyak model serupa yang dijual di pasarnya. Walau Livina kini tidak mencetak penjualan sebanyak dulu, mereka masih punya Serena yang diandalkan sebagai mobil keluarga.
Belum jelas apa mereka masih punya model anyar lainnya, meski mereka kini sudah punya banyak model yang menarik. Tidak sedikit diantaranya berupa model yang masih dicari di segmennya sampai sekarang seperti X-Trail, walau kini popularitasnya tidak sebanyak dulu karena banyaknya model baru yang dirilis. Mereka mungkin tidak lagi melirik ke segmen entry level.






