Enea Bastianini: Jack Miller, Jorge Martin dan Saya Berebut Kursi di Tim Pabrikan Ducati

RiderTua.com – Enea Bastianini: Jack Miller, Jorge Martin dan saya berebut kursi di tim pabrikan Ducati… Pembalap Gresini Racing itu menjadi kejutan di awal musim MotoGP 2022 dengan kemenangannya di GP Qatar. Itu merupakan kemenangan pertamanya sekaligus kemenangan perdana tim di kelas MotoGP. Ini artinya, mereka berhasil mewujudkan impian pemilik tim mendiang Fausto Gresini. Di seri kedua GP Mandalika, rider asal Italia itu hanya mampu finis ke-11. Meski begitu dia tetap tak tergoyahkan di puncak klasemen dengan 30 poin.

Enea Bastianini: Jack Miller, Jorge Martin dan Saya Berebut Kursi di Tim Pabrikan Ducati

Enea Bastianini mengaku masih sulit memercayai kemenangannya di Qatar. “Saya mulai percaya setelah 2 atau 3 hari. Pada awalnya semua berjalan normal bagi saya, tetapi hari berikutnya saya memikirkannya lagi dan saya berkata pada diri sendiri ‘wow, ini kemenangan pertama di MotoGP’. Dan saya mulai menyadarinya,” kata Bestia sambil tertawa.

Pol Espargaro mendominasi hampir seluruh balapan di GP Qatar, namun kemudian dia melebar di tikungan 2. Kesempatan ini tak disia-siakan Bastianini untuk langsung menyalip dan mengambil alih sebagai pemimpin balapan.

“Saat saya lepas rem dan masuk tikungan, saya mendengar suara Honda-nya. Dan dari sudut mata, saya melihatnya melebar. Ternyata di tikungan 2 saya tidak lagi mendengar suara mesinnya. Jadi saya berkata pada diri sendiri ‘Saya unggul, sekarang saya harus mengelolanya’. Pada lap terakhir saya memperhatikan layar raksasa, memang benar Brad Binder dekat, tetapi tidak cukup dekat untuk menyerang saya,” ungkap rekan setim Fabio di Giannantonio itu.

Bestia menambahkan, “Saya senang dihargai oleh semua orang. Momen melintasi garis finis sungguh luar biasa. Pada saat itu terjadi ledakan emosi. Trek lurus itu terasa begitu panjang sehingga tampak abadi. Itu ajaib, memenangkan balapan pertama dengan tim Gresini yang tidak pernah menang di MotoGP sejak 2006. Benar-benar menyenangkan.”

“Indah sekali. Saya berada di tim yang dari sudut pandang tertentu masih baru. Tapi sayangnya Fausto tidak ada lagi. Jadi, langsung menang di awal musim itu luar biasa. Saya langsung percaya diri, juga berkat pengalaman yang saya peroleh dari tahun lalu. Saya hanya berharap, sekarang mereka tidak merasa terlalu nyaman (terlena),” imbuhnya.

Dengan kemenangan ini, pembalap berusia 24 tahun itu mendapat banyak pujian. “Menurut pendapat saya, pujian terbaik adalah yang disampaikan oleh rival dan rekan setim kita. Saya senang dihargai oleh sesama pembalap, mulai Franco Morbidelli hingga legenda balap Giacomo Agostini. Dan pada hari Selasa usai balapan, sedikit demi sedikit saya mencernanya. Saya mencoba untuk menenangkan diri dan menikmatinya,karena tidak melakukan itu akan menjadi kesalahan,” kenangnya.

Bastianini menunggangi Desmo GP21, bukan GP22 terbaru seperti tim lainnya. “Seperti yang telah kita lihat, GP21 adalah motor yang luar biasa dan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan GP22, menjadi motor yang telah mencapai batas pertumbuhannya. Ini mungkin akan menjadi kekurangan di masa depan. Tetapi untuk saat ini, ini motor yang penuh dengan hal-hal yang positif,” imbuh rider asal Rimini-Italia itu.

Bestia juga berbicara tentang karakteristik Desmosedici GP21 yang paling mengejutkannya. “Stabilitas adalah hal pertama yang membuat saya terkesan. Setelah beberapa lap pertama dengan GP21, saya mengerti mengapa saya begitu kesulitan dengan GP19. Aspek lain yang menarik adalah power delivery mesin. Itu dua faktor yang membantu saya,” jelasnya.

Dengan hasil tersebut dan feeling yang bagus di atas motor, tak heran jika Bastianini pasang target mengakhiri musim di posisi 5 besar dalam klasemen. “Itu adalah target yang telah saya tetapkan untuk diri sendiri, meskipun dalam balapan apa pun bisa terjadi. Anggap saja menyelesaikan musim di 5 besar akan membuat saya senang,” ujarnya sambil tersenyum.

Gigi Dall’Igna terpantau mengincar Bastianini, jadi ada kemungkinan suatu saat dia bisa duduk di tim pabrikan Ducati. “Tetapi saya juga menyadari bahwa dia juga memperhatikan Jack Miller dan Jorge Martin. Saya pikir kami bertiga bersaing untuk mendapatkan tempat di tim pabrikan tahun depan. Saya senang Dall’Igna ‘mengawasi’ saya, saya pikir dia akan membantu saya sepanjang tahun. Tetapi untuk saat ini saya ingin membuktikan diri,” lanjutnya.

“Di masa depan saya ingin berada di level yang sama dengan pembalap lain, untuk lebih baik atau lebih buruk tahun ini, jika semuanya berjalan dengan baik, dapat dikatakan bahwa GP21 lebih baik dari GP22, jika tidak, dapat dikatakan bahwa aaya kekurangan sarana untuk bisa cepat, jadi untuk tahun 2023 saya menargetkan motor tahun 2023,” tegasnya.

Favorit Juara Dunia: Pecco, Quartararo, Marquez, Mir dan Martin

Mengenai musim ini, Bastianini terpacu untuk mengakui siapa yang menjadi favoritnya untuk merebut gelar juara MotoGP. “Nama pertama yang terlintas di pikiran adalah Pecco Bagnaia, Fabio Quartararo, Marc Marquez, Joan Mir dan Jorge Martin,” ungkapnya.

Secara psikologis, Bastianini mengambil langkah maju yang luar biasa antara 2019 dan 2020 ketimbang secara fisik. Dia mengatakan, “Dulu saya mengalami kesulitan mengekspresikan diri sebaik mungkin. Untuk waktu yang lama saya kira itu adalah tentang masalah fisik, tetapi pada kenyataannya saya perlu mengambil langkah maju secara mental.”

“Pada tahun 2020 saya menemukan ketenangan yang tepat untuk mencapai hasil tertentu. San saya berhasil memenuhi impian saya untuk memenangkan gelar (Moto2). Sejak saat itu saya lebih percaya diri dan sekarang saya tidak ragu dengan apa yang bisa saya lakukan,” pungkasnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives