Marc Marquez: Antusiasme Penggemar di Indonesia Luar Biasa

RiderTua.com – Marc Marquez: Antusiasme penggemar di Indonesia luar biasa… Meski baru saja pulih dari cedera, Marc Marquez berani duel untuk memperebutkan gelar dunia di musim 2022. Sementara rekan setimnya Pol Espargaro menjadi pembalap tercepat di tes pra-musim di Mandalika, Marc menempati posisi ke-9 dalam timesheet gabungan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, pembalap Repsol Honda itu berbicara mengenai tantangan menjelang musim ke-10 nya di Repsol-Honda.

Marc Marquez: Antusiasme Penggemar di Indonesia Luar Biasa

Marc Marquez pergi ke Indonesia untuk melakoni tes pertama kalinya di Mandalika. Dimana seri ke-2 MotoGP 2022 akan berlangsung di sana pada 20 Maret mendatang. Apa kesan rider berusia 29 tahun itu tentang Indonesia? “Saya ke Jakarta beberapa kali selama beberapa tahun terakhir untuk peluncuran tim. Saya juga pernah ke sana untuk acara Public Relation lainnya. Saya hampir merasa seperti seorang rock star di sana,” jawabnya sambil tersenyum.

Marc menambahkan, “Kami melihat kegembiraan dan antusiasme seperti ini untuk MotoGP di Thailand. Tapi di Indonesia semuanya jauh lebih besar. Saya bahkan melihat perahu dengan nama saya di pulau Lombok. Ya, saya telah mendengar itu. Ada juga banyak hype di hotel saya pada tes Mandalika. Suatu kali saya berpikir, ‘Sekarang saya tersesat’. Orang-orang dalam jumlah besar berkerumun di depan kamar hotel saya.”

“Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa sampai ke hotel dari pantai. Tapi kemudian keamanan tiba. Entah kenapa, saya menyukai antusiasme ini. Karena mereka semua naik gunung dengan skuter kecil dan mengambil posisi di sana untuk melihat saya dari jarak 1 km dari pantai. Itu tidak akan pernah terjadi di Eropa.”

Saat tes Sepang pada bulan Februari, Marc pernah mengatakan bahwa secara mental betapa sulitnya dalam 2,5 tahun terakhir baginya, dengan semua crash, cedera, dan operasi. Apakah secara mental fase ini lebih sulit ketimbang jika dilihat secara fisik?

Marc menjawab, “Tentu saja, terutama cedera terakhir dengan diplopia pada akhir Oktober 2021 secara mental adalah beban terberat. Untuk fisik tidak sulit untuk kembali pulih, tapi ini tentang penglihatan ganda. Tidak ada rasa sakit, tidak terjadi apa-apa, tetapi kita melihat semuanya dua obyek.”

“Sangat-sangat sulit bagi kita untuk menerima ketika kita seorang pembalap pro. Kita harus membayangkan setiap kali kita membuka mata, kita melihat segalanya dua obyek. Jika kita perlu menyembuhkan patah tulang, kita tidak akan merasakan sakit selama kita tetap diam. Bayangkan jika kita memiliki penglihatan ganda, bahkan kita kesulitan mematikan TV karena kita melihat setiap tombol remote ada dua. Terjadi seperti itu selama berminggu-minggu.”

Marc menambahkan, “Saya belum pernah mengalami musim dingin yang menyenangkan selama bertahun-tahun. Ini dimulai dengan operasi di bahu kiri. Kemudian saya merasa baik-baik saja di awal musim, berkompetisi di musim 2019 dan memenangkan gelar. Setahun kemudian, menyusul operasi di bahu kanan. Saya kembali menderita sepanjang musim dingin. Kemudian datang krisis kesehatan dan crash di Jerez pada Juli 2020.”

“Kemudian crash saat latihan off-road pada Oktober lalu. Saya berhasil memenangkan tiga balapan, yang memberi saya keberanian dan kepercayaan diri lagi. Tapi kemudian saya malah menderita penglihatan ganda. Ini seperti kita berada di seluncuran yang terus merosot turun ke bawah.”

“Tetapi dalam fase yang sulit ini, bahkan saya tidak pernah lupa apa target saya. Target saya jelas. Saya ingin bertarung untuk gelar dunia setidaknya sekali lagi. Saya pikir kami membuat kemajuan yang baik dalam proyek ini. Saya masih 29 tahun. Jadi saya pikir, kita masih punya waktu,” imbuhnya.

Akibat Diplopia Latihan dengan Mata Tertutup

Jeda antara tes pramusim terakhir dengan balapan awal musim di Qatar selama 2 minggu. Apakah kurun waktu itu membantu pemulihan lengan Marquez? Apakah itu akan membuat segalanya lebih baik untuk GP Qatar?

Marc melanjutkan, “Akhir-akhir ini, itu tidak banyak membantu. Ya, rasa sakitnya berkurang. Tapi otot masih sakit. Saya tidak diizinkan berolahraga sama sekali selama 6 minggu karena diplopia, hanya diperbolehkan berjalan-jalan. Meski demikian, selama ini saya mencoba melatih otot dengan mata tertutup.”

“Sepanjang hari saya merasa sakit. Karena ketika kita melihat semuanya ada dua, kita seperti mabuk. Dan ketika saya ingin melatih sesuatu, itu tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Saya melakukan latihan selama 50 menit, jika lelah saya langsung duduk di kursi. Tapi setidaknya itu membantu saya mengurangi rasa sakit saat membalap. Tetapi membangun otot masih membutuhkan banyak waktu. Ini juga untuk stamina dan kekuatan,” pungkas kakak Alex Marquez (LCR) itu.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives