RiderTua.com – Belakangan ini harga mobil terancam naik menyusul kondisi pasar roda empat secara global yang tidak menentu sampai sekarang. Meskipun begitu, ada dua merek yang ogah naikkan harga mobilnya dan memilih bertahan demi bisa menjual mobil murahnya bagi konsumen.
Kenaikan Harga Mobil Ancam Penjualan?
Beberapa merek mobil mulai was-was dengan kenaikan harga mobilnya, jelas karena ini bisa berpengaruh besar bagi penjualannya kalau kenaikannya terlalu signifikan. Bisa-bisa konsumen bakal ogah membeli mobil baru, terlebih kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat konsumen berpikir dua kali sebelum membelinya. Jelas ini bisa menyusahkan produsen yang menargetkan penjualan lebih tinggi dari tahun lalu, karena awalnya mereka mengira kondisinya bakal baik-baik saja.

Meski begitu, masih ada merek mobil yang memilih bertahan karena mereka nggak rela penjualannya menurun begitu saja. BYD menjadi satu dari dua merek yang menahan harga mobilnya untuk sekarang, padahal mereka tengah didera oleh kelangkaan chip semi-konduktor di kampung halamannya. Chip ini cukup penting karena sangat dibutuhkan untuk mobil listriknya, dan tidak hanya BYD yang membutuhkan komponen tersebut, tapi juga merek lokal lainnya.
Tetap saja, mereka ogah menaikkan harga mobilnya karena ini bukan bagian dari strateginya, baik itu strategi jangka panjang atau pendek. Mungkin mereka juga belum mau melakukannya karena khawatir penjualannya bakal terdampak lebih buruk, mengingat BYD memegang pangsa pasar mobil listrik paling tinggi ketimbang merek lainnya. Jelas BYD nggak rela pangsanya menurun drastis gara-gara dua masalah tersebut membuat penjualannya terganggu, apalagi sampai menganggu harga jual mobilnya.

Jualan Mobil Murah
Tidak hanya BYD, Daihatsu juga ogah naikkan harga mobilnya, tapi dengan alasan berbeda dengan BYD. Mereka masih menghitung berapa banyak komponen impor yang didatangkannya dari luar negeri, dan biasanya makin banyak komponen yang diimpor, kenaikan harganya bakal lebih mahal kalau terjadi perubahan kurs. Tapi karena merek mobil asal Jepang ini melokalisasi 80 persen komponen mobilnya, seharusnya kenaikan harganya tidak begitu signifikan.
Meski begitu, mereka belum berani menaikkan harga mobilnya untuk sekarang, tapi kalau nggak kuat mempertahankannya mereka harus melakukan efisiensi pada produksinya. Dengan begitu, mereka bisa menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan dan bisa menahan harga mobilnya, walau belum jelas berapa lama mereka bisa bertahan. Setidaknya ini bisa membuat Daihatsu bertahan lebih lama ketika kondisi pasar tidak begitu bagus akibat banyak masalah yang terjadi tapi masih bisa berjualan mobil murahnya.

Merek Lainnya
Selain BYD dan Daihatsu, belum jelas apakah merek mobil lainnya bakal mengikuti cara serupa seperti keduanya, atau justru tetap menaikkan harga mobilnya. Tentu ini beresiko besar bagi penjualannya, karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, konsumen bakal ogah membeli mobil kalau harganya makin mahal. Agar bisa menghindari dampak buruk dari itu, terkadang produsen melakukan cara serupa seperti Daihatsu, yaitu melakukan efisiensi ongkos produksinya, atau cara lainnya.
Melihat dari apa yang terjadi di Indonesia, sepertinya pasar mobil terancam menurun drastis dari tahun lalu kalau kenaikan harga sudah tidak bisa dihindari lagi. Mungkin penurunannya nggak separah tahun 2020 lalu, dimana penjualannya anjlok parah bahkan sampai ke titik dimana hasilnya menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya untuk sekarang, karena siapa tahu merek mobil lainnya juga ikut menahan harga mobilnya seperti BYD dan Daihatsu.

Merek mobil seperti Toyota masih memimpin pasarnya dengan hasil penjualan yang cukup bagus selama beberapa tahun terakhir, disusul Daihatsu dan Mitsubishi. Sementara pasar mobil ramah lingkungan sedang ramai-ramainya diisi oleh beberapa model anyar, dan kebanyakan dijual oleh merek asal China. Tapi ini tidak membuat merek lainnya gentar, dan tidak sedikit ada yang langsung melawan kompetitor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
Kalau sudah begini, bisa saja penjualan mobil hybrid, PHEV, dan listrik bakal terganggu, dan ini juga menganggu pertumbuhan pasarnya yang sudah terlanjur meningkat drastis.






