RiderTua.com – Biasanya SUV ladder frame bisa terjual hingga 1.000 unit per bulannya, dan Fortuner serta Pajero Sport selalu unggul dalam hal ini. Namun kenyataannya malah jauh berbeda di bulan Juli 2026, karena hasil penjualannya malah anjlok di bawah angka 1.000 unit.
βΆDaftar Isi
Fortuner dan Pajero Sport Hanya Terjual 500 Unit Sebulan?
Biasanya Toyota selalu mencetak hasil penjualan yang cukup memuaskan dari lini produknya dengan hasil melebihi 1.000 unit tiap bulannya. Namun tidak semuanya bisa mencetak hasil lebih dari itu, karena ada sejumlah model yang hanya terjual ratusan unit per bulan. Biasanya hasil tersebut didapat di segmen yang punya sedikit peminat ketimbang segmen seperti MPV atau SUV.

Ternyata segmen SUV ladder frame juga ikut kena getahnya selama dua bulan terakhir, dengan Fortuner yang terjual kurang dari 1.000 unit. Bulan Juni lalu modelnya hanya terjual 602 unit saja, dan di bulan Juli turun lagi menjadi 504 unit, dan penurunan ini sudah terlihat sejak Juni 2026. Sebab bulan Mei masih bisa terjual lebih dari itu, yaitu 1.224 unit, dan terakhir penjualannya menurun drastis terjadi di bulan April dengan 655 unit.
Tidak hanya SUV-nya Toyota, Mitsubishi Pajero Sport juga menurun drastis penjualannya, hanya saja tren ini terlihat sejak bulan Maret. Kalau biasanya model ini bisa terjual 1.000 unit, kini hanya terjual kurang dari itu, dengan bulan Maret dan April hanya mencetak hasil sebanyak 621 unit dan 655 unit saja. Lalu tiga bulan setelahnya turun drastis menjadi 499 unit, 364 unit, dan 254 unit, dan hasil di bulan Juli menjadi yang paling rendah di tahun ini.

Mobil Diesel Makin Berkurang Peminatnya
Sebenarnya penurunan ini terjadi akibat performa penjualan versi dieselnya yang turun drastis dalam beberapa bulan terakhir. Penjualannya turun akibat harga bahan bakarnya yang naik drastis ketimbang bahan bakar jenis lainnya, dan ini jelas membuat konsumen mengurungkan niat untuk membeli mobil diesel. Akibatnya penjualan sejumlah mobil bermesin diesel terjun bebas, bahkan berdampak serius pada segmen yang menjual model jenis ini.
Toyota juga mengaku kalau penjualan Fortuner menurun hingga 30 persen, belakangan ini, dan Kijang Innova Reborn juga senasib meski penjualannya hanya turun 20 persen. Tetap saja, ini sudah memberikan bukti seberapa parah penurunan penjualan mobil diesel di Indonesia akibat kenaikan harga bahan bakarnya. Belum lagi sejumlah mobil tertentu tidak bisa sembarangan memakai bahan bakar lainnya agar performa mesinnya tetap terjaga.

Hanya Sementara?
Toyota berharap penurunan ini hanya terjadi sementara saja, dan untuk bisa meningkatkan penjualannya mungkin lebih sulit lagi. Selama harga bahan bakar mesin diesel masih terlalu mahal bagi masyarakat Indonesia, meningkatkan penjualan Fortuner bisa lebih sulit dari yang dibayangkan. Jadi untuk sekarang konsumen memilih menunda membeli mobil diesel atau ada juga yang beralih ke versi mesin bensin.
Memang penjualan versi bensinnya tidak selaris versi diesel, terlebih mobil diesel paling diminati karena harga bahan bakarnya cukup terjangkau, setidaknya sampai sekitar pertengahan tahun 2026. Kalau sudah begini, produsen nggak bisa berbuat apapun selain tetap menawarkan lini produk yang ditawarkan di pasar mobil diesel. Tidak hanya ketiga mobil ini saja yang menurun penjualannya, segmen lainnya yang menawarkan mobil diesel berpotensi juga mengalami penurunan penjualan.

Seperti pikap double cabin yang juga berpotensi anjlok penjualannya, dan segmen ini juga diisi oleh produknya Toyota dan Mitsubishi, yaitu Hilux dan Triton. Sebulan lalu Hilux mendapat model generasi terbaru yang juga menawarkan varian listrik murni, tapi harganya tembus lebih dari Rp 1 miliar.
Memang niatnya ingin menghadirkan pilihan selain diesel, hanya saja karena dibanderol terlalu mahal, Hilux BEV mungkin sulit terjual lebih dari 500 unit per bulannya. Apalagi Hilux-Triton masih diimpor dari luar negeri, sementara Fortuner-Pajero Sport sudah dirakit lokal.












