RiderTua.com – Mengekspor ke luar negeri bisa menjadi pilihan bagi produsen mobil kalau penjualan mobil di dalam negeri kurang bagus. Meski kebanyakan mengirim produknya sendiri, ada juga yang mengirim unit untuk merek lainnya, walau model tersebut berupa produk dari perusahaan induknya.
βΆDaftar Isi
Ekspor ke Luar Negeri Tembus Ratusan Ribu Unit
Daihatsu mampu mengirim 42.205 ribu unit mobil ke luar negeri hingga bulan April lalu, dan ini sudah menjadi hasil yang cukup bagus mengingat kondisi di pasar global tidak menentu. Secara keseluruhan ada 159.662 unit mobil yang diekspor selama periode Januari hingga April 2026, dan tidak sedikit ada yang dikirim ke Jepang. Memang hasilnya cukup memuaskan, meski sempat ada penurunan di bulan Maret lalu akibat libur Lebaran.

Unit yang dikirim Daihatsu ke luar negeri cukup beragam modelnya, dan Gran Max menjadi salah satu diantaranya yang diekspor. Modelnya sempat mengalami masalah di Jepang karena unitnya yang nggak memenuhi standar disana, sehingga harus ditarik agar kesalahannya diperbaiki agar bisa dievaluasi standar keselamatannya. Tapi sejak saat itu, nggak ada masalah lainnya soal mobil niaga ini, dan ekspornya masih lancar jaya sampai sekarang.
Ternyata Gran Max bukan hanya model yang dikirim ke Jepang, karena ada juga kembarannya dari Mazda yang ikut diekspor, bahkan dirakit lokal di Indonesia. Model tersebut tidak lain adalah Mazda Bongo, dan mungkin ini terdengar aneh tapi nyata, sebab Bongo sudah lama dirakit disini. Meski model yang diekspor kebanyakan berupa model minibus, Bongo masih laris terjual di kampung halamannya, begitupun dengan kembarannya dari Toyota, yaitu Town Ace atau Lite Ace.

Produksi Mobil Toyota
Ternyata dari 42 ribu unit yang diekspor, 40 persennya disumbangkan oleh Toyota Raize, sementara Wigo menyumbang 25 persen, dan Lite/Town Ace sebesar 18 persen. Sebenarnya Daihatsu nggak hanya merakit produknya sendiri, tapi juga produknya Toyota, walau ini bukan sesuatu yang mengejutkan lagi, mengingat keduanya sudah lama saling merakit produknya. Terkadang Toyota yang merakit mobilnya Daihatsu, tapi merek berlogo D ini yang paling banyak merakit mobil Toyota.
Selain Raize, Rush juga banyak dikirim ke Negeri Sakura, tapi belum jelas berapa persen kontribusi yang didapat dari model low SUV (LSUV) ini. Bisa jadi kontribusinya lebih kecil dari yang dibayangkan, namun setidaknya itu sudah bisa membantu memberikannya hasil ekspor yang begitu memuaskan. Terlebih mereka tidak hanya mengirim unitnya ke kampung halamannya, tetapi juga di Asia, Amerika Selatan, sampai Timur Tengah.

Tetap Mengirim Produknya
Melihat dari lini produk yang dijualnya, tentu tidak mengherankan kalau Daihatsu punya banyak model untuk diekspor, meski produknya belum selengkap lini produknya Toyota. Tapi karena mereka dikenal sebagai merek mobil entry level, membuat produknya banyak dicari konsumen di seluruh dunia, meski kebanyakan mereka mengirim mobil niaga Gran Max dkk. Namun model inilah yang jadi andalannya sampai sekarang, itupun penjualannya masih cukup bagus, entah itu di Indonesia atau negara lainnya.
Tetap saja, lini mobil penumpangnya tetap diminati banyak orang meski dengan ketatnya persaingan di pasarnya. Banyak diantaranya seperti Sigra yang mencetak penjualan cukup bagus, begitupun dengan Terios, Xenia, hingga Rocky yang tetap diandalkan di segmennya masing-masing. Meski dengan Avanza yang kini dirakit Toyota, mereka masih punya produknya sendiri yang diproduksi lokal.

Sementara itu, penjualan mobil yang didapatnya masih menempati posisi kedua di pasar mobil di Indonesia hingga bulan lalu, tepat di belakang Toyota. Memang keduanya tidak bisa dipisahkan lagi, baik dari hasil penjualan secara keseluruhan maupun saling produksi mobil satu sama lain. Beberapa diantaranya juga sukses diekspor ke luar negeri dan mencetak penjualan cukup bagus, dengan 20 persen dikirim ke Jepang.
Mungkin untuk sekarang ekspor masih menjadi andalannya di tengah kondisi pasar yang amburadul akibat sejumlah faktor baik di dalam maupun luar negeri.






