Ducati Seperti Honda? Saat Rossi Tinggalkan Repsol Honda..?

MotoGP RiderTua.com – Saat paruh kedua musim MotoGP 2022 dimulai, muncul pertanyaan apakah kini Ducati akan seperti Honda?. Sebaris cerita ‘arogansi’ yang membuat Valentino Rossi hengkang dari Honda.. Sebuah kejadian dimana: bahwa para insinyur adalah bagian terpenting dan pembalap hanyalah bagian sekunder. Di bawah kendali bos balap Ducati Gigi Dall’Igna, sikap ini sepertinya semakin menguat. Jeremy Burgess yang pernah bekerja dengan Honda dan pembalap top seperti Wayne Gardner, Mick Doohan dan Valentino Rossi menyimpulkan hal ini dengan tepat. “Bagi Honda, pembalap seperti bola lampu. Ketika salah satu berhenti menyala, mereka akan langsung membuangnya dan memasang yang baru,” katanya..

Apakah Kini Ducati Menjadi Honda versi Baru?

Sikap itu mendorong kepergian Rossi ke Yamaha pada akhir musim 2003, membawa serta Burgess dan ‘geng antipode’nya bersamanya. Vale bertekad untuk membuktikan bahwa pembalaplah yang membuat perbedaan, bukan motornya. Merengkuh 4 gelar dunia lagi bersama Yamaha, mengkonfirmasi pendapat Rossi.

Andai saja Rossi berhenti di situ karena hal sebaliknya terjadi saat dia bergabung dengan Ducati selama 2 tahun. Motor mendikte hasil, dan tidak dengan cara yang baik.

Dari sudut pandang teknis, Desmosedici bukan hanya motor MotoGP yang paling melelahkan di lintasan, tapi juga yang paling bertenaga. Desmodromic valve memang bisa diandalkan. Ini mengurangi torsi drag dan memastikan pembukaan dan penutupan katup yang sangat tepat dan sangat cepat, terutama pada kecepatan tinggi.

Tapi Dall’Igna tidak berhenti di situ. Di Ducati, mesin dikombinasikan dengan serangkaian inovasi pada motor. Pabrikan asal Italia itu adalah pabrikan pertama yang memainkan winglet dan mereka terus mengatur kecepatan dalam hal aerodinamika.

Mereka menyebabkan banyak perdebatan dengan ‘sendok pendingin ban’, sayap roda belakang karena secara resmi itu hanya digunakan untuk mendinginkan ban, tetapi keunggulan aerodinamis tidak dapat diabaikan begitu saja. Mereka menemukan Ride Height Device dan pada awal tahun ini mereka juga memiliki perangkat semacam itu di bagian depan untuk pertama kalinya, yang digunakan tidak hanya di awal tetapi juga selama balapan.

Dalam setiap kasus ini, para rival mencoba untuk menggagalkan perkembangan ini tapi kemudian malah menirunya. Setidaknya sampai tahun ini, ketika protes menyebabkan larangan 2023 pada ‘perangkat apa pun yang mengubah atau menyesuaikan ketinggian motor bagian depan saat motor melaju’.

Serangan dari lawan tentang inovasi Ducati membuat direktur olahraga Ducati Paolo Ciabatti tidak merahasiakan kekecewaannya. “Investasi, waktu dan uang sepenuhnya sesuai dengan anggaran kami. Beberapa produsen menghabiskan banyak uang untuk pembalap mereka. Terserah mereka. Tapi mereka seharusnya tidak mengkritik ketika kita menghabiskan uang untuk pengembangan,” tegas bos asal Italia itu.

Semua ini menggarisbawahi dengan sangat jelas bahwa fokus utama Ducati adalah pada aspek rekayasa.

Ducati Justru Kesulitan Juara dengan Banyak Pembalap

Tetapi kembali ke ‘bola lampu’. Ducati memiliki barisan yang kuat dengan 8 pembalap setidaknya dua kali lebih banyak dari pabrikan lain di lintasan saat ini, dan dalam kasus Suzuki dan Aprilia bahkan empat kali lebih banyak.

Masalahnya hampir semua pembalap mereka ibaratnya mempunyai cahaya 200 watt yang sangat terang. Setiap pembalap Ducati adalah pemenang balapan atau punya potensi dan setengah dari mereka juga telah memenangkan di kelas utama. Empat pembalapnya yakni Pecco Bagnaia, Enea Bastianini, Jorge Martin dan Johann Zarco juga merupakan juara dunia di kelas yang lebih kecil.

Jadi tidak heran jika mereka saling mencuri poin di setiap balapan. Honda tampaknya telah menerapkan strategi bola lampu dengan lebih baik. Setidaknya sejak Wayne Gardner dan Eddie Lawson bertarung untuk memperebutkan gelar pada 1989 di NSR500 Rothman, mereka sebagian besar fokus hanya pada satu pembalap yang sangat moncer. Mereka telah memenangkan sebagian besar gelar pembalap di level tertinggi selama 4 dekade terakhir berturut-turut dengan pembalap top seperti Spencer, Doohan, Rossi, Marquez. Mereka adalah bak serangkaian lampu yang menyala-nyala.

Strategi itu datang dengan membawa risikonya sendiri, dan Honda telah membayar mahal untuk itu selama 2 tahun terakhir. Absennya Marc Marquez berarti musim tanpa kemenangan. Tahun 2020 yang bersejarah, dan hanya membukukan tiga kemenangan pada tahun 2021 dan 2022 yang memperkuat prospek musim tanpa kemenangan lainnya dengan nol poin yang mengecewakan di Sachsenring. Untuk pertama kalinya sejak 1982, tidak ada pembalap Honda yang mencetak satu poin pun.

Tapi Honda tidak sendirian dalam hal ini. Nasib yang sama menimpa Yamaha pada balapan di Assen. Fabio Quartararo dua kali crash dan tidak ada satu pun dari tiga rekan semereknya yang mencetak poin.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page