RiderTua.com – Hasil penjualan di pasar roda empat bulan lalu tidak begitu bagus dengan penurunan cukup signifikan. Banyak diantaranya yang dibuat keok gara-gara kondisi di pasarnya yang tidak menentu, tak terkecuali merek mobil asal China ini, yang terkenal karena mobil listriknya.
▶Daftar Isi
Penjualan Model BEV-nya Menurun Drastis Karena Ini?
BYD sudah lama berjualan mobil listrik di Indonesia, dan inilah yang memberikannya pangsa pasar mobil listrik tertinggi. Model seperti M6, Sealion 7, sampai Atto 1 disambut baik sejak pertama kali dirilis dan bisa terjual ribuan unit tiap bulannya. Bahkan M6 dan Atto 1 menjadi BEV terlaris disini, masing-masing di tahun 2024 dan 2025, membuktikan kalau merek yang satu ini sudah nggak bisa diremehkan lagi.

Tapi bulan lalu mereka benar-benar kesulitan menjual mobil, dengan hasil mencapai 895 unit terjual selama sebulan. Padahal empat bulan sebelumnya mereka bisa menjual lebih dari 1.000 unit per bulan, seperti di bulan Januari yang tembus 4.879 unit, Februari 4.653 unit, Maret 2.941 unit, dan April 4.625 unit. Penjualannya turun drastis di bulan Maret karena adanya libur Lebaran, dan ini sudah menjadi hal wajar.
Jelas yang menjadi pertanyaan yaitu soal anjloknya hasil yang didapatnya di bulan Mei, karena tidak biasanya mereka menjual kurang dari 1.000 unit mobil. Ini menimbulkan pertanyaan soal apa yang terjadi dengan BYD sepanjang bulan lalu, terlebih soal nasib Atto 1. Sebab mobil mungil ini awalnya terjual ratusan unit tiap bulannya, tapi bulan lalu hanya ada puluhan unit yang terjual.

Gara-gara Kondisi Pasar?
Memang BYD terpengaruh oleh kondisi pasar mobil yang kacau belakangan ini, dan kondisi ekonomi juga membuat konsumen harus berpikir dua kali sebelum membeli mobil. Namun biasanya penurunan penjualannya tidak separah yang dialaminya, jadi sebenarnya apa penyebabnya? Ternyata ini diakibatkan oleh proses transisi basis produksi ke lokal, atau dalam arti lain mereka tengah melakukan persiapan lanjutan sebelum memproduksi mobilnya disini.
Sejak awal mereka sudah mempersiapkan pabrik untuk produksi mobilnya di Indonesia, dan pembangunannya rampung sekitar akhir tahun 2025 atau awal 2026. Namun persiapannya memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, dimana sekitar kuartal pertama tahun ini seharusnya mereka bisa merakit mobilnya. Mereka harus melalui proses transisi ke produksi lokal yang berdampak serius pada penjualannya.

Produksi Mobil yang Tertunda
Tidak heran kalau penjualan model terlaris seperti Atto 1 hingga M6 merosot tajam, dimana keduanya hanya menjual 28 unit dan 197 unit. Sealion 7 kini menjadi andalannya dengan penjualan keduanya yang turun drastis, dan sepertinya BYD sudah menyiapkan produksi untuk kedua mobil listrik unggulannya tersebut. Sementara model seperti Atto 3 dan E6 masih cukup bagus, tapi entah bagaimana dengan hasil penjualan dari Dolphin dan Seal.
Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang lumrah terjadi, dan yakin penjualannya bakal pulih seperti sebelumnya setelah produksinya dimulai. Untuk sekarang mereka masih terus melakukan persiapan lainnya, dan setelah rampung mereka bisa merakit mobil listriknya. Kapan produksinya bisa dimulai mereka belum bisa mengumumkannya untuk sekarang, sementara kompetitornya sudah duluan merakit mobilnya sejak beberapa tahun lalu.

M6 dan Atto 1 memang menjadi mobil listrik terlaris di Indonesia, tapi kini popularitasnya dikalahkan oleh kompetitor senegaranya. Terlebih Jaecoo J5 EV yang banyak dicari konsumen belakangan ini dan merebut posisi teratas di pasar BEV, sementara Atto 1 tersingkir akibat adanya proses transisi ke produksi lokal. M6 juga tidak bisa berbuat apapun setelah modelnya dikalahkan oleh Atto 1 tahun lalu, walau performa penjualannya masih cukup stabil.
Kini M6 mendapat varian PHEV agar menambah lebih banyak pilihan di pasarnya, sekaligus menjadikannya mobil PHEV pertamanya di Indonesia. Sementara Sealion 7 yang diungguli oleh kedua model tersebut juga tetap mencetak hasil cukup bagus dari yang didapatnya selama dua tahun terakhir.






