Alberto Puig Ditanya ‘Masa Suram Honda’ Malah Bahas Ducati Era Casey Stoner

RiderTua.com – Mulai 2020 hingga 2022, Honda mengalami kemunduran di kelas MotoGP yang cukup signifikan. Kecuali Marc Marquez, RC213V tidak bisa dijinakkan oleh pembalap yang lain. Saat ditanya mengenai masa suram pabrikan motor terbesar di dunia itu di kelas utama, Kepala Tim Alberto Puig lebih suka berbicara mengenai masa lalu dimana Honda mengalami masa kejayaannya. Menurutnya, Ducati bukanlah pabrikan yang bisa dijadikan referensi karena mereka belum pernah memenangkan gelar pembalap sejak 2007. “Untuk waktu yang lama tidak ada yang bisa melaju kencang dengan Ducati kecuali Casey Stoner,” katanya.

Alberto Puig: Tidak Ada yang Bisa Melaju Kencang dengan Ducati Kecuali Casey Stoner

Honda Racing Corporation/HRC tidak mencetak poin di GP Jerman pada 19 Juni lalu, untuk pertama kalinya sejak balapan final di Anderstorp pada 16 Agustus 1981. Tapi tanggal itu sebenarnya tidak relevan karena waktu itu Honda tidak punya motor balap 500cc dan tidak mencetak poin Kejuaraan Dunia sepanjang tahun, mirip dengan 1980, 1979 dan 1978 dan semua tahun setelah 1967 ketika Honda bergerak karena peraturan FIM baru mengenai pembatasan jumlah silinder (125cc /2, 250cc/2, 350cc/3, 500cc/4) dan persneling (maksimal enam) ditarik dari olahraga balap motor dan juga karena akhir dari mesin 4-tak yang mengemuka di kelas kecil.

Sebagai informasi, NS adalah singkatan dari New Stroke. Dan ketika Honda V4 500cc hadir pada tahun 1984, motor itu dijuluki NSR500 yang merupakan singkatan dari New Stroke Racing.

Bencana Honda 2022 mengingatkan pada kegagalan tahun 1979 dengan NR500 4-silinder 4-tak. Musim 2022, Honda hanya meraih satu podium (finis ketiga untuk Pol Espargaro di Qatar) dalam 11 balapan dengan empat pembalap, hasil di klasemen tim dan konstruktor terlihat menyedihkan.

Setelah musim 2019 yang luar biasa (12 kemenangan dan 6 kali finis kedua dalam 19 balapan), Marc Marquez menginginkan motor yang mudah dikendarai yang akan menyelamatkannya dari 35 crash per musim. Sejauh ini Honda masih ‘berutang’ motor ini padanya alias masih belum bisa mewujudkannya.

Sebuah konstruksi baru dibangun untuk tahun 2022, di mana Pol Espargaro langsung akrab dengan motor baru ini, begitu pula rekan satu timnya. Tapi Marquez telah memodifikasinya, dia menginginkan lebih banyak feeling untuk bagian depan, sementara Pol Espargaro terus-menerus memohon untuk lebih banyak cengkeraman di roda belakang.

Dalam dilema ini, Honda tampaknya tersesat dalam pengembangan lebih lanjut. Pabrikan asal Jepang yang telah memenangkan enam gelar dunia pembalap MotoGP sejak 2013 semuanya bersama Marc Marquez, mengalami banyak kemunduran.

Saat Alberto Puig ditanya, setengah musim telah berakhir apakah kini Honda punya ide ke arah mana perkembangan itu harus dibawa? Honda 2022 tidak menjadi hit. Akankah para insinyur harus memulai dari awal dengan motor 2023? “Tidak, kita mungkin tidak harus memulai dari awal. Tapi jelas, kami tidak tampil sebagaimana mestinya. Meskipun kita tahu masalahnya, butuh beberapa waktu sebelum kita bisa menyelesaikannya. Itu fakta, itulah kenyataannya,” tegas manajer tim asal Spanyol itu.

Apakah itu berarti, memulai dari awal atau hanya meningkatkan motor yang ada sekarang yang kini sedang diteliti di Jepang? “Jelas bahwa kami perlu meningkatkan motor dan mencapai performa yang lebih baik. Sudah jelas,” jawab Puig.

Pada tahun 2021 Honda membangun ‘motor custom’ untuk keempat pembalap reguler, yaitu mesin MotoGP yang dibuat khusus. Tapi selain Marc Marquez (memenangkan tiga balapan), semua pembalap Honda kecewa dengan motor ini termasuk Pol Espargaro, Alex Marquez dan Taka Nakagami. Dan itu tidak berubah pada tahun 2022. Stefan Bradl juga tidak dapat mengulangi hasil bagus seperti di tahun 2020 dan 2021.

Puig menjelaskan, “Memang benar bahwa tahun lalu kami membuat motor yang disesuaikan. Karena kami menghormati semua pembalap dan ingin mendengar pendapat dan komentar mereka dari semua pembalap. Marc memenangkan tiga balapan tahun lalu dengan satu tangan. Ini tidak boleh dilupakan.”

Tapi masa lalu tidak lagi relevan. Pada 2022 Honda memulai musim dengan meraih podium di Doha-Qatar, setelah itu menurun. Berapa lama lagi penggemar Honda harus bersabar? Kapan akhirnya dapat menemukan solusi? “Sulit untuk menemukan solusi. Jika kita sudah tahu solusinya, pasti sekarang sudah diterapkan. Kita hanya harus terus berusaha,” lanjutnya.

Saat unit ECU diperkenalkan pada 2016, Honda sempat tertinggal jauh di tes Sepang pertama. Saat itu, HRC punya reputasi mampu memecahkan masalah apa pun dalam waktu singkat. Faktanya, Marc Marquez menang di balapan kedua musim itu di Argentina. Sekarang bahkan Aprilia dan KTM lebih baik dari Honda. Apa yang salah? “Ada banyak hal yang mempengaruhi performa kami. Jika pembalap top kita cedera selama 2 tahun dan kita tidak bisa mengembangkan motor bersamanya, itu berdampak negatif. Itu fakta,” imbuhnya.

Puig menambahkan, “Tapi itu juga fakta bahwa untuk waktu yang lama tidak ada yang bisa melaju kencang dengan Ducati kecuali Casey Stoner. Gigi Dall’Igna telah memastikan bahwa rookie seperti Jorge Martin dapat memenangkan balapan dengan Desmosedici dan pendatang baru seperti Bastianini dan Bezzecchi dapat naik ke podium. Meski begitu, mereka masih belum mampu meraih gelar juara.”

Suzuki dan Yamaha sukses di tahun 2020 dan 2021. Apalagi, saat ini Ducati punya empat pembalap yang menempati posisi 7 besar klasemen pembalap. Pembalap Honda terbaik hanya berada di peringkat 13. Selain itu, Ducati memenangkan Kejuaraan Konstruktor untuk ketiga kalinya berturut-turut. “Saya berbicara tentang Gelar Dunia Pembalap. Mereka harus menang,” pungkas Puig.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page