Miguel Oliveira: Berapa Harga Sebuah Mimpi?

1

RiderTua.com – Dimulai dari Idemitsu Asia Talent Cup, Afridza Munandar (20 tahun), yang mengalami kecelakaan fatal di Sepang pada November 2019. Dan kini musim 2021 menjadi tahun yang sulit dan menyedihkan bagi dunia balap motor. Jason Dupasquier (19 tahun), Hugo Millan (14 tahun) dan Dean Berta Vinales (15 tahun), tiga remaja berbakat kehilangan nyawa mereka di lintasan balap. Serangkaian kecelakaan tragis memicu perdebatan tentang keselamatan dan banyak menimbulkan pertanyaan. Tak berbeda dengan para jagoan MotoGP. “Kami terjun di olahraga yang berbahaya. Tapi berapa harga untuk mengejar mimpi? Saya tidak berpikir itu layak untuk nyawa manusia,” ujar pembalap Red Bull KTM MotoGP Miguel Oliveira. Menurutnya ada tiga hal yang harus dibenai: pembalap, motor, dan tingkat kedewasaan.

Miguel Oliveira: Berapa Harga Sebuah Mimpi?

“Semuanya bermula di Idemitsu Asia Talent Cup, di mana seorang pembalap meninggal dunia,” kata Miguel Oliveira, mengingatkan Afridza Munandar berusia 20 tahun, yang mengalami kecelakaan fatal di Sepang pada November 2019.

Pembalap asal Portugal itu menambahkan, “Kemudian Jason, Hugo dan terakhir Dean. Saya tidak punya jawaban. Saya punya banyak pertanyaan, untuk mencoba memahami mengapa hal-hal ini terjadi.”

“Tetapi pada akhirnya kami sadar, kami terjun di olahraga yang berbahaya. Semua orang harus tahu itu. Tapi berapa harga untuk mengejar mimpi? Saya tidak berpikir itu layak untuk nyawa manusia. Siapa pun yang pergi ke trek dengan motor balap harus menyadari betapa berbahayanya itu. Serta tahu apa yang bakal terjadi, dan apakah itu benar-benar sepadan dengan risikonya. Setiap pembalap punya pikiran seperti itu,” tegas pemenang GP 15 kali itu.

“Tentu saja, akan ada banyak perdebatan tentang aturan dan format kejuaraan. Tapi pada akhirnya itu bermuara pada tiga hal, pembalap, motor, dan tingkat kedewasaan. Itu yang harus dibenahi, harus hadir ketika anak-anak naik motor di usia 14, 15 atau 19 tahun,” tegas rider berusia 26 tahun itu.

“Kami adalah keluarga yang tumbuh di dunia balap. Ketika tragedi seperti itu terjadi, kami membicarakannya dan mencoba memahami bagaimana semuanya dapat bekerja lebih baik. Kami melihat bahwa Formula 1 telah membuat langkah besar dalam hal keselamatan. Tapi kami sangat tidak terlindungi dengan motor sehingga menjadi sulit, baik untuk FIM dan Dorna,” imbuh rider Red Bull KTM itu.

“Di satu sisi, kita harus memberi sebanyak mungkin peluang bagus bagi para rider muda, untuk memiliki masa depan dalam olahraga ini. Namun, pada saat yang sama, sulit untuk mengontrol seluruh lingkungan dan bagaimana segala sesuatunya dilakukan,” lanjut Oliveira.

“Saya berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi saya sangat percaya diri pada FIM dan Dorna. Mereka adalah dua organisasi yang sangat kuat dan cakap. Saya percaya, ini untuk kepentingan mereka sendiri. Pertama, tentang keselamatan pembalap. Kedua, citra yang diciptakan olahraga ini di masyarakat. Saya pikir kami berada di tangan yang baik,” tegas pemenang tiga kali MotoGP itu.

1 COMMENT

Leave a Reply