RiderTua.com – Halo pembaca setia RiderTua. Saat ini Iker Lecuona membalap di Superbike bersama tim pabrikan Ducati dan menempati peringkat 2 dalam klasemen setelah 2 seri pertama musim ini. Dalam sebuah wawancara rider Spanyol itu menyoroti perbedaan antara WSBK dan MotoGP. Sebagai informasi, Iker pernah balapan di MotoGP pada 2020 dan 2021 bersama KTM di tim Tech3.
“Superbike jauh lebih menyenangkan. Di MotoGP semuanya sangat tertutup untuk umum. Fans yang ingin bertemu pembalap idolanya harus menunggu hingga 1, 2, 3, atau bahkan 5 jam di depan garasi hanya untuk mendapatkan tanda tangannya. Mau hujan atau panas mereka tetap bertahan. Sedangkan di Superbike, mereka bisa langsung bertemu. Jadi pembalap dan fans lebih dekat dan suasananya jauh lebih santai,” jelas Lecuona.
Iker Lecuona: Gaya Balap Marc Marquez Sulit Ditiru dan Dipahami

Dalam 2 musim di MotoGP, Lecuona hanya menempati peringkat 20 dalam klasemen. Hasil yang sangat jauh dari kata mengesankan. “Saya kurang beruntung karena terjadi COVID dalam debut saya. Seharusnya ada 21 balapan dalam semusim, tapi hanya digelar 12 balapan. Dan dari 12 balapan tersebut, saya hanya ambil bagian dalam 10 balapan karena di 2 balapan terakhir yaitu Valencia dan Portimao, saya tertular COVID,” ungkap rider berusia 26 tahun itu.
Iker melanjutkan, “Di tahun kedua saya, semua pembalap sudah mengantongi kontrak hinggga 2022, sementara saya tidak. Posisi saya waktu itu, harus dapat kontrak atau keluar. Buat saya, turun ke Moto2 bukanlah sebuah langkah mundur karena saya masih sangat muda. Pada usia 19 tahun, saya melakukan debut MotoGP di Valencia.”
Iker mengalami masalah fisik yang cukup serius. “Saya terkena sindrom kompartemen lagi padahal sudah 2 kali operasi. Lalu saya menjalani operasi untuk ketiga kalinya. Dalam 4 atau 5 balapan pertama, saya sangat menderita. Saya tidak ingin naik motor, tidak ingin bepergian, tidak ingin berlatih, tidak ingin bertemu dengan teman-teman, dan saya berlatih secukupnya saja. Hidup saya hanya balapan, finis, pulang, lalu mengurung diri,” jelasnya.

Iker mengungkapkan momen sulit saat tahu dia tidak mendapat tempat di MotoGP untuk 2022. “Secara pribadi sangat berat. Saya sempat berada dalam situasi yang salah, tapi itu pelajaran hidup. Sebenarnya saya sudah tahu bahwa saya akan dicoret dari tim bersama rekan setim saya Danilo Petrucci. Kami baru tahu saat melihat berita bahwa pembalap resmi untuk tahun depan sudah diumumkan,” ujarnya.
Akankah Lecuona ingin kembali ke MotoGP? “Saya selalu bilang ini bukan selamat tinggal, melainkan sampai jumpa lagi. Bahkan saat meninggalkan Honda, saya juga bilang begitu. Saya tidak berakhir buruk dengan Honda. Kini saya bersama Ducati dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jika menutup sebuah pintu, dipastikan kita tidak akan kembali lagi. Tapi soal kembali ke KTM? Saya selalu bilang tidak. Karena saya tidak ingin dikelilingi oleh orang-orang yang memperlakukan atlet atau pembalap seperti itu,” tegasnya.
Banyak belajar dari legenda MotoGP Valentino Rossi. “Valentino adalah pria yang sangat baik. Mungkin saya mengerem lebih keras dibandingkan dia, tapi KTM memang kuat dalam pengereman. Pada akhirnya setiap motor punya DNA tersendiri. Valentino sangat mahir. Cara dia mengangkat motor saat keluar tikungan, sangat luar biasa. Dia adalah pembalap yang sudah melalui banyak era, sehingga dia tahu bagaimana cara agar terus berkembang. Gaya balapnya berubah-ubah, seperti ada 10 pembalap dalam satu orang,” tegasnya.

Soal Marc Marquez, Lecuona mengatakan, “Terus terang saya tidak banyak melihat data Marc. Dia menikung dengan cara yang sangat berbeda dari pembalap lain. Dia punya sesuatu yang sangat spesial, gaya balap unik yang hanya cocok untuk dirinya sendiri. Sulit ditiru dan dipahami. Saat masuk ke tikungan, dia tidak peduli dengan apa pun, tidak peduli apakah motornya akan bergerak seperti apa. Saya hanya sekali atau dua kali melihat telemetri, lalu saya rasa itu tidak masuk akal. Akhirnya saya belajar dari pembalap lain, karena gaya balap Marc benar-benar di level yang berbeda. Itu luar biasa.”
“Mencapai level Marc sangatlah sulit. Bahkan dengan Ducati, sekarang terlihat jelas bahwa dia sangat kuat pada bagian depan dan pengeremannya luar biasa. Hanya sedikit pembalap yang bisa melakukan itu. Saya tidak bisa membandingkan Kevin Schwantz dengan Marc Marquez. Saya juga tidak bisa membandingkan Valentino Rossi dengan Carlos Checa di masanya, atau dengan Alex Criville. Karena semuanya sangat berbeda, sehingga rasanya tidak adil jika harus menentukan pembalap nomor 1,” pungkas Lecuona.






