RiderTua.com – Halo sobat pembaca RiderTua. Danilo Petrucci, mantan pembalap MotoGP yang kini berkompetisi di Superbike di tim pabrikan BMW, ikut berkomentar soal MotoGP musim 2026 yang baru saja menyelesaikan balapan pembuka musim di Thailand.
Ketika dia ditanya, apakah Marc Marquez kembali menjadi favorit untuk mempertahankan gelar dunianya musim ini? Rider Italia itu menjawab, “Ya, tidak diragukan lagi dia memulai musim sebagai favorit. Tahun lalu dia tidak punya rival kuat yang benar-benar dapat menantangnya, kecuali adiknya Alex. Jadi untuk saat ini, saya melihat ada semacam pengulangan dari tahun lalu. Harapannya, Pecco Bagnaia dan terutama Marco Bezzecchi akan ikut terlibat dalam persaingan.”
Danilo Petrucci: Jangankan Gaji Tinggi, Di Kelas yang Lebih Rendah Termasuk Superbike, Membayar untuk Balapan Adalah Hal yang Biasa

Namun Marc Marquez baru saja pulih dari cedera yang dideritanya usai crash di Mandalika pada Oktober tahun lalu. Apakah kondisi fisiknya memungkinkan untuk kembali menjadi juara dunia? “Sulit untuk mengatakannya. Saya rasa dia ingin membuktikan bahwa dia masih yang terbaik. Mungkin di awal musim dia akan sedikit kesulitan jika cedera bahunya masih mengganggunya. Tetapi dalam jangka panjang, dia pasti kembali ke performa terbaiknya,” jawabnya Danilo Petrucci.
Aprilia tampil sangat kuat sejak tes pramusim dan hal itu juga ditunjukkan pada balapan akhir pekan di Thailand, dimana Marco Bezzecchi mendominasi dengan menjadi yang tercepat dalam latihan hari Jumat, meraih pole position, dan menang dalam race utama hari Minggu. Tapi sayangnya rider asal Rimini itu crash dalam sprint. “Saya melihat Aprilia tampil sangat baik dalam tes Thailand. Sebagai orang Italia dan sebagai teman, saya mendukung Bezzecchi karena dia sangat bersemangat dan orang yang hebat. Tetapi juara dunia musim ini adalah Marc Marquez,” tegas Petrux.
Ada wacana, gaji minimum pembalap MotoGP sebesar €500.000 atau Rp 9,7 miliar per tahun. Kebijakan ini diambil agar gaji pembalap top yang mencapai belasan juta Euro tidak terlalu jomplang dengan gaji pembalap papan menengah, karena semua pembalap sama-sama punya risiko besar di lintasan
“Saya berharap aturan itu sudah ada ketika saya masih balapan. Tentu saja fair jika para pembalap dibayar dengan layak. Sayangnya di kelas balap yang lebih rendah termasuk Superbike, membayar untuk balapan adalah hal yang biasa. Tim sering bergantung pada pembalap untuk membawa sponsor atau dana segar, bahkan di kelas Moto2 dan Moto3. Semoga, pemilik baru (Liberty Media) akan lebih serius dalam hal ini. Terlepas dari apapun, ini adalah pertanda baik,” jelas rider berusia 35 tahun itu.

Petrucci juga menyinggung soal Phillip Island yang akan dicoret dari kalender MotoGP mulai tahun depan. “Ketika sesuatu dihapus, pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Phillip Island adalah sirkuit yang indah, dengan lokasi yang juga luar biasa indah. Sangat sedih jika harus meninggalkannya. Masalahnya, MotoGP menginginkan infrastruktur yang lebih modern. Tapi paddock di Phillip Island sudah kuno dan kurang memadai. Pitnya kecil, fasilitasnya minim, dan rumah-rumah serta restoran di sekitar area paddock semakin meluas. Sayangnya, sirkuit yang indah hilang,” ujar Petrux.
Soal debut Toprak Razgatlioglu di MotoGP, Petrucci mengatakan, “Ketika saya menaiki motornya, saya lebih memahami di mana letak kekuatannya. Sayangnya, di MotoGP itu hampir kebalikan dari apa yang seharusnya dia lakukan dengan ban Michelin. Dia memiliki bakat yang luar biasa, kontrol roda depan yang mengesankan. Masalahnya adalah ban Michelin harus digunakan dengan tepat. Kita harus late braking tetapi dengan lembut, lalu berakselerasi. Sedangkan dia selalu menggunakan ‘pola segitiga’, mengerem keras lalu mengurangi kecepatan. Dengan ban ini, mengerem dalam kondisi motor miring sangat sulit. Tapi saya yakni dia akan berhasil dalam beradaptasi.”

Dari banyaknya pembalap senior, Petrucci mengaku terkesan dengan Dani Pedrosa. “Ketika Pedrosa dalam performa terbaiknya, melihat pembalap sekecil itu melaju begitu cepat dengan teknik yang luar biasa. Di Sepang, dengan aspal yang licin bahkan saat berjalan kaki, dia melahap 20 lap dengan merasakan setiap milimeter lintasan. Stoner tampil bagus di Phillip Island, dengan roda depan selalu terangkat di setiap tikungan sambil siliding dimana pun,” katanya.
Petrucci juga menyebut legenda MotoGP Valentino Rossi. “Cara mengerem Rossi sangat luar biasa sehingga sangat sulit untuk disalip saat mengerem. Suatu kali roda depan motornya nyaris terkunci dan sliding sejauh 20 meter. dia masih bisa menyelamatkannya. Saya sedang berada di posisi ke-2 di Le Mans pada 2018, saya sempat berkata, ‘ole, dia crash, saya yang menang’. Dan saat saya mengatakannya, dia sudah kembali menegaskkan motornya,” pungkas Petrucci.









