RiderTua.com – Setelah merakit mobilnya di Indonesia, BYD bisa memenuhi permintaan di pasarnya lebih cepat lagi. Seharusnya mobil yang sudah dirakit lokal dibanderol lebih terjangkau ketimbang model impornya, tapi ini tidak berlaku untuk mobilnya BYD.
▶Daftar Isi
M6 dan Atto 1 Dirakit Duluan di Indonesia
BYD M6 dan Atto 1 menjadi andalannya di pasar roda empat, dengan penjualan yang didapatnya selama beberapa tahun terakhir masih membawanya sebagai merek mobil listrik nomor satu disini. Jelas mereka sulit digempur oleh kompetitornya dengan lini produk yang cukup beragam, dari mobil SUV, MPV, hatchback, sampai sedan. Apalagi harganya yang lumayan terjangkau, tentu tidak mengherankan kenapa model seperti Atto 1 bisa laris manis.

Kedua model ini juga yang dirakit lebih dulu begitu pabriknya selesai dibangun, tapi jelas alasannya cukup jelas, karena keduanya laris terjual di pasarnya masing-masing. Terlebih BYD masih harus memenuhi permintaan di pasarnya setelah penjualannya sempat merosot beberapa bulan lalu. Ini terlihat jelas dari penjualan Atto 1, dimana modelnya bahkan terjual ratusan unit saja selama bulan Mei, meski akhirnya mereka bisa memulihkannya.
Tapi sebenarnya hasil yang didapat dalam beberapa bulan terakhir merupakan unit CBU yang tersisa, sebelum mereka mengisinya dengan model rakitan lokal. Begitupun dengan BYD M6, low MPV yang kini tersedia dalam varian listrik murni dan PHEV, sementara versi PHEV-nya baru dirilis beberapa bulan lalu. Walau begitu, ini bisa menjadi momen yang pas baginya untuk meningkatkan penjualannya lebih jauh lagi agar bisa unggul jauh dari Chery dkk.

Harga Masih Sama?
Biasanya kalau mobil sudah dirakit lokal, seharusnya harga modelnya bisa dipatok lebih murah lagi. Tentu ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena dengan komponen lokal lebih tinggi, harganya bisa ditekan lebih jauh, sehingga modelnya bisa mencetak hasil penjualan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Sayangnya baik BYD M6 maupun Atto 1 masih dibanderol seperti model CBU-nya meski sudah dirakit disini.
Sebenarnya harga untuk model impor sudah termasuk insentif yang diberikan, jadi harganya bisa lebih murah dari model CBU tanpa insentif. Jadi kalau sudah dirakit lokal, modelnya tetap dipatok dengan harga yang dipotong dari insentif mobil impor, kecuali kalau komponen lokalnya ditambah. Tapi untuk BYD, mereka sudah punya banyak komponen lokal untuk mobilnya, sehingga mereka nggak perlu repot-repot meningkatkannya demi mengejar target tahun depan.

Baru Tiga Model yang Dirakit
Seperti yang diketahui sebelumnya, baru ada tiga mobil yang diproduksi di Indonesia, yaitu BYD M6 EV dan DM serta Atto 1. Model lainnya mungkin bisa menyusul kalau jumlah permintaannya lebih banyak dari kapasitas impornya, tapi sejauh ini belum ada model yang bisa menyamai M6 dan Atto 1. Sealion 7 memang cukup laris terjual, namun dengan performa penjualan yang tidak seberapa, sepertinya sulit bagi model ini untuk dirakit lokal.
Begitupun dengan Atto 3, Dolphin, dan Seal, meski sebagai mobil pertamanya di Indonesia ketiganya terjual lebih sedikit ketimbang Atto 1 dan M6. Entah bagaimana dengan mobil baru yang sewaktu-waktu diluncurkan di pasar, apa nanti langsung dirakit lokal atau tidak. Semuanya tergantung dari tingginya permintaan di segmen tujuannya, dan untuk sekarang baru dua model yang cukup laris terjual.

Sementara itu, M6 DM benar-benar menjadi andalannya di pasar PHEV meski baru diluncurkan. Harganya yang nggak sampai Rp 500 jutaan saja sudah menjadikannya sebagai harga mobil PHEV yang lumayan terjangkau, jadi tidak heran kenapa modelnya bisa begitu laris setelah dirilis. Hasil yang didapatnya juga membuatnya unggul dari Chery Tiggo 8 CSH yang selama ini menguasai pasar PHEV di Indonesia.
Atto 1 nampaknya mampu mempertahankan performa penjualannya yang kini pulih kembali setelah sempat terpuruk beberapa bulan lalu. Lalu M6 EV tetap mencetak hasil penjualan yang memuaskan meski berada di tengah kepungan kompetitornya yang kini membawa model hybrid.












