RiderTua.com – Luca Marini dan Valentino Rossi adalah saudara satu ibu yakni Mama Stefania Palma dengan ayah yang berbeda. Ayah Luca adalah Massimo Marini, sedangkan ayah Vale adalah mantan pembalap Graziano Rossi. Jarak usia Luca dan Vale adalah 18 tahun. Jadi, saat Luca berumur beberapa bulan Vale dinobatkan sebagai Juara Dunia 125cc di Brno atau gelar dunia pertamanya dari total 9 gelar juara dunia yang diraih rider berjuluk The Doctor itu.
Marini tumbuh di masa ketika kakaknya bertransformasi dari pembalap muda berbakat asal Italia menjadi salah satu bintang terbesar dalam sejarah balap motor. Sejak kecil, Marini kerap menemani Rossi ke berbagai sirkuit balap dan menyaksikan langsung kesuksesan sang kakak dari sudut pandang yang jarang dilihat orang lain.
Luca Marini: Saya Melihat Apa yang Terjadi di Balik Layar Kesuksesan Valentino Rossi

Luca Marini mengatakan, “Saat masih kecil, saya mengikuti kakak saya ke berbagai tempat dan negara di seluruh dunia. Saya turut merayakan kesuksesannya. Kita semua tahu apa yang sudah dicapai Vale. Saya juga melihat apa yang terjadi di balik layar. Hal itu sungguh menginspirasi dan memberikan kesan mendalam bagi saya. Saya menikmati setiap momen dan ikatan istimewa dengan Vale. Saya berusaha belajar darinya.”
Marini melihat dari dekat bagaimana Rossi berkembang dari Juara Dunia 125cc menjadi juara dunia di kelas 250cc dan pada akhirnya mendominasi di kelas utama. Rossi meraih 9 gelar juara dunia dan 115 kemenangan Grand Prix sebelum pensiun pada akhir tahun 2021. Pada saat itu, Marini sudah lebih dulu terjun ke MotoGP.
Meski punya hubungan keluarga dengan pembalap sekelas Rossi, Marini harus membuktkan kemampuannya sendiri di setiap jenjang balap junior. Pada 2013, dia menyelesaikan Kejuaraan Moto3 Italia di peringkat 4 dengan meraih total 6 podium. Pada tahun yang sama, dia juga menjalani debutnya di Kejuaraan Dunia Balap Motor sebagai pembalap wildcard di Misano. Namun sayangnya, balapan tersebut berakhir lebih awal karena crash di tikungan pertama.
Marini berkompetisi di Kejuaraan Moto3 Spanyol pada 2014, kemudian pindah ke Kejuaraan Moto2 Eropa pada 2015. Pada 2016, dia memulai musim penuh pertamanya di Kejuaraan Dunia Moto2 bersama tim Forward Racing. Lalu dia bergabung dengan tim milik kakaknya Rossi yakni Sky Racing Team VR46 pada 2018. Maro meraih podium Kejuaraan Dunia pertamanya di Sachsenring dan merayakan kemenangan Grand Prix perdananya di Sepang.
Pada 2019 Marini meraih 2 kemenangan lagi. Setahun kemudian, Marini bersaing memperebutkan gelar dunia Moto2. Dengan kemenangan di Jerez, Misano, dan Barcelona akhirnya dia sukses sebagai runner-up hanya terpaut 9 poin dari Enea Bastianini yang menjadi juara dunia Moto2 2020. Akhirnya pada 2021 dia naik MotoGP.
Banyak orang mengira bahwa membawa nama keluarga dalam hal ini dengan kakaknya Rossi, membuat tekanan yang diterima Marini sangat besar. Namun dia punya pandangan yang berbeda. “Saya tidak merasa berada di bawah tekanan yang lebih besar. Setiap pembalap MotoGP menghadapi tekanan yang luar biasa. Balapan di level ini sulit, dan sejak awal saya sudah belajar cara menghadapinya,” ungkap rider berusia 28 tahun itu.

3 musim pertama Marini di MotoGP dijalaninya dengan mengendarai motor Ducati. Setelah menyelesaikan debutnya bersama tim Sky VR46 Avintia, dia pindah ke tim VR46 MotoGP yang baru didirikan pada 2022. Sejauh ini musim terbaiknya di kelas utama adalah musim 2023. Marini finis di posisi ke-2 di GP Amerika sekaligus menjadi podium MotoGP pertamanya. Lalu dia juga naik podium dalam sprint race di Argentina, Thailand, dan Qatar. Dia mengakhiri musim di peringkat 8 dalam klasemen. Selanjutnya, Marini mengambil langkah berani dengan meninggalkan tim VR46.
Pada 2024 Marini pindah ke tim pabrikan Honda. Dia berupaya membangun kembali pabrikan paling sukses dalam sejarah MotoGP tersebut. Namun setelah 3 tahun, dia harus mengakhiri kerjasamanya dengan HRC. Tahun depan disaat MotoGP memasuki era baru dengan motor 850cc dan ban Pirelli, Marini pindah ke tim Tech3 KTM.
Marini mengaku bahwa MotoGP menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. “MotoGP adalah bagian besar dalam hidup saya. Kami mencapai kecepatan puncak yang luar biasa. Bahkan saat memosisikan tubuh di balik fairing, kita bisa merasakan betapa kencangnya laju motor. Saat melakukan pengereman dan keluar dari balik fairing, tekanan angin terasa sangat kuat, sehingga kita harus berpegangan dengan erat. Rasanya luar biasa. Saya sangat menyukainya!” pungkas suami Martha Vicenzi itu.

Menjelang balapan kandang Marini di Misano akhir pekan ini, dia berada di peringkat 11 sekaligus menjadi pembalap Honda dengan peringkat terbaik di klasemen. Kemudian di belakangnya ada rookie dari tim LCR Diogo Moreira yang menempati peringkat 14, lalu Johann Zarco ke-17, dan rekan setimnya Joan Mir ke-18.












