RiderTua.com – Saat menghadiri acara World Ducati Week di Misano, Marc Marquez mengungkapkan bahwa salah satu kelemahan terbesarnya adalah dirinya sendiri. Namun kelemahan sekaligus kekuatannya inilah yang membuatnya bisa mendominasi MotoGP selama bertahun-tahun. “Itu memang menjadi salah satu kelemahan dalam karier olahraga saya. Saya selalu masuk ke tikungan tanpa melihat risiko dan batasnya. Saya baru menemukan batasnya setelah saya terjatuh, bukan sebelumnya,” ungkap juara dunia MotoGP 7 kali itu.
Seiring bertambahnya usia dan setelah mengalami beberapa kali cedera serius, kini Marquez belajar dan berusaha untuk mengendalikan insting tersebut. “Sekarang sedikit demi sedikit saya bisa menemukannya. Itu sangat membantu, karena saya harus mengendalikan naluri itu terutama secara fisik. Kalau saya balapan mengikuti naluri alami saya seperti dulu, tubuh saya tidak akan mampu mengikutinya,” jelas rider berjuluk Baby Alien itu.
Marc Marquez: Valentino Rossi Mampu Memenangkan Balapan Tanpa Harus Menjadi yang Tercepat

Menurut Marc Marquez, tahun ini dia cukup sering mengalami crash di FP1. “Tahun ini itu sering terjadi di FP1. Dulu, saya hampir tidak pernah mengalaminya sebanyak sekarang. Saya keluar dari pit berdasarkan naluri, tapi tubuh saya tidak merespons apa yang ingin saya lakukan. Kemudian, sepanjang akhir pekan saya berusaha menemukan cara membalap yang memungkinkan saya untuk cepat tanpa hanya mengandalkan insting,” ungkap rider berusia 33 tahun itu.
Dulu, Marquez punya ciri khas mampu melakukan penyelamatan yang spektakuler. “Sekarang itu mustahil dilakukan. Begitu sudut kemiringan motor sekitar 62 derajat, bagian aerodinamika mulai bergesekan dengan aspal dan kedua roda mulai kehilangan traksi. Dulu, motor sangat tidak stabil. Dengan Honda, saya harus selalu membalap hingga batas kemampuan. Oleh karen itu, secara alami saya bisa menurunkan kaki, menggunakan bahu, atau mengerahkan tenaga untuk kembali menegakkan motor,” jelas juara dunia 9 kali itu.

Terkait perbedaan antara operasi besar yang dia jalani pada 2022 dan operasi terakhir usai GP Prancis kemarin, Marquez menjelaskan, “Operasi pada 2022 jauh lebih penting. Lengan saya terpelintir hingga 34 derajat dan tidak berfungsi secara normal. Operasi terakhir dilakukan karena masalah saraf yang muncul setelah crash di Indonesia. Masalah itu hanya terjadi saat di atas motor, tapi kalau berada di rumah saya benar-benar normal. Operasi yang terakhir skalanya jauh lebih kecil, dan sejauh ini saya hanya merasakan sedikit peningkatan.”
Marquez tak bisa melupakan pengalaman pertamanya menunggangi Ducati Desmosedici. Saat itu dia mengaku sempat merasa gugup. “Setelah 12 tahun mengendarai Honda, saya ragu apakah saya mampu mengendarai motor lain. Saya sangat gugup sebelum tes. Saya mengatakan hal tersebut pada Michele (Masini/manajer tim Gresini), adik saya (Alex Marquez), dan Nadia (Padovani/pemilik tim Gresini). Saya tidak yakin semuanya akan berjalan lancar. Tapi begitu keluar dari garasi, semua keraguan itu hilang. Setelah lap pertama, saya berpikir, ‘pada akhirnya ini hanyalah dua roda dan sebuah motor. Jika motornya bagus, semuanya akan berjalan lancar’. Dan semua keraguan saya pun hilang,” ungkap pemenang 101 balapan di semua kelas balap itu.
Sebelum menjalani debutnya di MotoGP, Marquez tampil memukau pada tes pertamanya dengan motor prototipe MotoGP di Austin pada 2013. Marquez menegaskan bahwa dia tidak pernah menganggap dirinya lebih unggul dari pembalap lain. “Saya tidak pernah berpikir bahwa saya punya bakat yang lebih besar ketimbang rider lain. Saya selalu menganggap bahwa rival saya lebih baik dari saya. Pikiran itu memaksa saya untuk terus bekerja keras. Kalau berpikir bahwa kitalah yang terbaik, maka kita akan sangat mudah terlena,” jelasnya.
Tapi Marquez tak menampik bahwa di beberapa balapan penampilannya memang luar biasa. “Sepanjang karier saya, saya pernah melakukan hal-hal yang berbeda. Ada beberapa yang baik, tapi ada juga beberapa yang buruk, tetapi tetap berbeda. Saya ingat tes Austin yang berjalan dengan sempurna. Saat saya kembali ke pit disana sudah ada Dani Pedrosa, Valentino Rossi, dan Jorge Lorenzo. Saya lebih cepat 1,5 detik. Mereka lalu bertanya kepada saya, apakah saya memotong tikungan (shortcut)? Dengan tegas saya menjawab, ‘tidak’. Hanya saja semuanya berjalan sangat mudah hari itu,” kenangnya.
Menariknya, Marc Marquez juga memuji mantan-mantan rivalnya Rossi, Lorenzo, Pedrosa, dan Stoner. Pertama dia terkesan dengan konsistensi Jorge Lorenzo. “Konsistensinya sangat mengesankan. Dia akan tiba di sirkuit dan mampu menyelesaikan seluruh balapan selalu dengan selisih waktu kurang dari 0,2 detik,” ujarnya.
Mengenai Dani Pedrosa, Marquez mengatakan, “Bagi saya, dia adalah talenta murni. Mengendarai motor MotoGP dengan postur tubuh dan berat badan seperti itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pembalap dengan bakat yang luar biasa. Dia pantas memenangkan Gelar Dunia.”
Marquez juga menyoroti kecepatan eksplosif Casey Stoner. “Memecahkan rekor lap sirkuit hanya pada lap ke-3 adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan. Kemampuan untuk langsung melaju kencang adalah kelebihan terbesar Casey. Dia tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi,” ungkapnya.

Sedangkan untuk musuh bebuyutannya Valentino Rossi, Marquez mengaku terkesan dengan kecerdasannya saat balapan. “Seringkali, selama balapan akhir pekan dia tidak terlihat terlalu menonjol. Tetapi begitu balapan di hari Minggu, dia mampu mengelola balapan seperti tidak ada pembalap yang lain. Dia mampu memenangkan balapan tanpa menjadi yang tercepat. Dan ketika dia menjadi yang tercepat, dia tahu bagaimana mengelola situasi dengan sempurna,” jelas rider tim Ducati Lenovo itu.
Dengan kata lain, Marquez menilai kekuatan terbesar Rossi bukan semata-mata kecepatan dalam satu lap, melainkan kemampuan membaca jalannya balapan, mengelola ban, memilih timing yang tepat untuk menyerang, serta kemampuan mengambil keputusan terbaik hingga garis finis.
Saat diminta mendefinisikan dirinya sendiri, Marquez menegaskan, “Karakter saya. Saya selalu memiliki ciri khas saya sendiri, keyakinan pada saya sendiri, dan saya tetap berpegang teguh pada hal itu sampai akhir.”

Setelah menjalani 10 seri musim 2026, Marc Marquez berada di peringkat 5 dengan mengumpulkan 153 poin atau tertinggal 40 poin dari pemimpin klasemen yang baru Jorge Martin. Sementara rekan setimnya Pecco Bagnaia berada di peringkat 8 dengan perolehan 130 poin.














