RiderTua.com – Luca Marini menegaskan bahwa dia tidak mengeluhkan banyaknya jumlah seri yang saat ini berlangsung 22 seri dalam satu musim, namun dia mengkritik jadwal kalender MotoGP yang menurutnya bisa dipadatkan sehingga pembalap punya lebih banyak waktu untuk beristirahat di musim dingin.
“Bagi saya, jadwal sepanjang tahun ini tidak ideal. Menurut saya, sebaiknya kita menjadwalkan balapan agar lebih berdekatan dan mencoba menciptakan jeda waktu (libur) yang lebih panjang selama musim dingin,” ujar rider Honda Castrol itu
Luca Marini Kritik Kalender MotoGP: Libur Musim Dingin Kurang Panjang

MotoGP musim 2026 ini berlangsung dalam 22 seri (kemungkinan hanya 21 karena GP Qatar pada November mendatang penyelenggaraannya masih belum bisa dipastikan) yang akan berakhir pada 29 November di Valencia. Hanya berselang 2 hari kemudian atau tepatnya pada 1 Desember, musim 2027 dimulai dengan sesi tes Valencia. Setelah itu dimulailah libur musim dingin.
Namun di pekan terakhir bulan Januari, rombongan MotoGP sudah harus berangkat ke Malaysia untuk menjalani dua tes resmi IRTA musim 2027. Pertama, tes shakedown selama 3 hari yang diikuti para tes rider dan rookie (tahun depan ada 3 rookie David Alonso, Izan Guevara, dan Senna Agius/belum dikonfirmasi). Kedua, tes selama 3 hari yang diikuti oleh semua pembalap reguler MotoGP. 10 hari kemudian, pembalap MotoGP akan terbang ke Thailand untuk menjalani tes lagi selama 3 hari di Buriram sekaligus menjadi tes terakhir sebelum musim 2027 dimulai.
Sebelum benar-benar memasuki musim baru, para pembalap juga akan menghadiri acara resmi peluncuran Kejuaraan Dunia MotoGP musim 2027. Acara tersebut untuk pertama kalinya akan digelar di Brasil, dengan tujuan mempromosikan dua balapan yang berlangsung di kawasan Amerika Selatan (Brasil dan Argentina).

Luca Marini menambahkan, “Saya menikmati waktu saat berada di paddock. Selama musim balapan, semuanya terasa sempurna karena kita selalu berada di sana. Bahkan saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu di sini, asalkan sebagai gantinya kita benar-benar mendapatkan waktu istirahat selama musim dingin.”
“Faktanya, sekarang kita tidak punya waktu sama sekali. Bukan hanya untuk benar-benar memulihkan kondisi tubuh, tetapi yang lebih penting, kita juga tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri secara khusus menghadapi musim berikutnya. Tidak ada waktu untuk terus meningkatkan kemampuan kita.”
“Dengan kalender saat ini, praktis tidak ada waktu istirahat sama sekali. Saya berlatih sepanjang tahun. Dengan jadwal yang ada sekarang, mustahil untuk sekadar beristirahat total barang sejenak. Saya membutuhkan seluruh energi saya untuk tetap siap. Tetapi saya ingin memiliki lebih banyak waktu, misalnya untuk benar-benar memulihkan cedera lama. Saya juga ingin meningkatkan kondisi fisik saya dari satu musim ke musim berikutnya. Untuk melakukan itu, dibutuhkan waktu untuk menjalani program fisioterapi yang lebih spesifik,” pungkas adik legenda MotoGP Valentino Rossi itu.
Dari sudut pandang pembalap, pendapat Marini ini memang bisa dipahami. Namun dari sisi penyelenggaraan, memadatkan kalender balap secara signifikan bukan perkara mudah. MotoGP memang mampu menyelenggarakan balapan secara beruntun (back-to-back) yaitu dua seri yang berlangsung pada pekan berurutan. Tetapi jika semua balapan harus digelar setiap minggu tanpa jeda, sistem seperti itu hampir tidak mungkin diterapkan di MotoGP.

Di musim 2026 saja, sudah ada 8 balapan back to back tanpa jeda. Selain masalah logistik, ada persoalan lain yang juga tak kalah penting yaitu cedera pembalap. Jika secara teori seluruh seri digelar setiap satu minggu sekali, maka sistem pembalap pengganti juga harus dipikirkan ulang. Saat ini mencari pembalap pengganti yang tersedia sekaligus berkualitas tinggi sangat sulit, dan masalah tersebut berlaku di hampir semua kelas balap. Artinya, jika kalender semakin padat, akan semakin sulit menemukan pembalap yang tepat untuk menggantikan pembalap utama yang cedera.
Tapi positifnya, pihak MotoGP sendiri tampaknya sadar bahwa 22 seri dalam satu musim sudah mendekati batas maksimal. MotoGP bukan hanya harus memikirkan jumlah balapan, tetapi juga harus menjaga kualitas keseluruhan kejuaraan. Dengan ajang balap motor yang terus berkembang dan semakin besar, standar kualitas setiap seri tidak boleh dikorbankan hanya demi menambah jumlah balapan.












