RiderTua.com – Mobil bensin sebenarnya masih banyak dicari, sih, karena banyak yang bergantung pada mobil jenis ini. Namun diprediksi mobil konvensional bakal terus tergerus oleh mobil ramah lingkungan, sampai tersisa tiga persen yang terjual di tahun 2035.
▶Daftar Isi
Mobil Ramah Lingkungan Gerogoti Pasar Mobil Bensin
Volkswagen menjadi salah satu diantara merek mobil yang berjualan mobil ramah lingkungan di pasar global. Line-up mobil listrik ID yang dijualnya menjadi andalannya sampai sekarang, dan modelnya juga disambut baik di berbagai negara termasuk Indonesia. Meski untuk sekarang mereka baru menjual satu model BEV berupa ID Buzz, tapi modelnya sudah disambut baik di pasarnya.

Sejauh ini Volkswagen terus mengamati seperti apa perkembangan di pasar roda empat seluruh dunia, dan mereka melihat makin banyak mobil ramah lingkungan yang dijual. Kalau sudah begini, mereka memprediksi mobil bermesin konvensional bakal semakin terpinggirkan oleh mobil ramah lingkungan, dan penjualannya bakal terus menurun tiap tahunnya. Diprediksi hanya ada 3 persen penjualan mobil di seluruh dunia disumbangkan oleh mobil bensin di tahun 2035.
Mungkin kedengarannya cukup aneh, tapi memang ada benarnya, karena mobil listrik sampai hybrid makin banyak dicari konsumen di seluruh dunia. Apalagi makin banyak produsen yang menawarkan model dengan harga terjangkau, seperti yang dilakukan oleh merek asal China belakangan ini. Namun tidak semua negara selalu mencatat angka penjualan cukup tinggi dari mobil jenis ini, terlebih dengan peminat mobil listrik yang disebut sempat menurun drastis.

Insentif Khusus
Disebutkan penjualan mobil listrik di China mengalami penurunan akibat konsumen yang beralih ke mobil hybrid dan sejenisnya setelah insentif BEV ditiadakan mulai awal tahun ini. Jelas ini bisa berpengaruh besar bagi penjualan di pasarnya secara keseluruhan, karena China selalu menjadi penyumbang penjualan tertinggi di seluruh dunia. Konsumen di Eropa disebut juga beralih ke mobil hybrid karena harga BEV yang dianggap terlalu mahal.
Harga yang mahal ini menjadi alasan kenapa merek China menawarkan BEV murah, sebelum pemerintah setempat mencegah invasi mobil murah dari negara tersebut. Seperti Amerika Serikat yang mencegat merek dari China untuk memasuki pasarnya demi melindungi merek lokal, alhasil merek ternama seperti BYD hingga Chery nggak bisa masuk ke negara ini. Sehingga mereka harus beralih ke negara lainnya yang punya peluang tinggi untuk mencetak hasil penjualan yang lebih bagus.

Dukungan Infrastruktur
Mungkin apa yang diprediksi Volkswagen cukup menarik, meski ini cukup sulit terwujud kalau dukungan infrastruktur di sejumlah negara masih terbatas. Kalau ketersediaan stasiun pengisian daya baterai mobil masih terbatas, melakukan elektrifikasi mobil di suatu negara bakal sulit dilakukan. Indonesia sudah bisa mencapai tahap lanjutan dari elektrifikasi di pasar roda empat, tapi penjualannya belum bisa melampaui mobil BEV.
Selain itu, sejumlah produsen mulai mengalihkan fokusnya ke jenis mobil lainnya yang dianggap lebih menguntungkan penjualannya. Honda misalnya, dimana mereka menghentikan pengembangan sejumlah mobil listrik terbarunya setelah memperkirakan bakal mendapat kerugian akibat mobil jenis ini. Walau mereka masih tetap menjual BEV, jumlahnya tidak sebanyak yang diperkirakan, dan mereka juga bakal terus memperluas lini mobil hibridanya.

Ketika merek China beramai-ramai menjual mobil listrik murah di Indonesia, merek Eropa hampir tidak sering terlihat membawa model serupa ke sini. Kebanyakan diantaranya merupakan merek mobil mewah, dan modelnya dibanderol lebih mahal dari model yang dijual oleh kompetitor asal Negeri Tirai Bambu. Jelas pasar yang dituju sangat berbeda, dan kalaupun mereka ingin menyasar pasar entry level bukan perkara mudah kalau rivalnya sudah menguasai pasarnya duluan.
Volkswagen seharusnya juga bisa memperluas lini mobil listriknya kalau ingin melihat penjualan mobil BEV meningkat drastis. Masalahnya baru ada satu model yang dijual, itupun modelnya ditempatkan di kelas yang sama dengan Alphard dkk. Menyasar segmen entry level mungkin sudah terlalu sulit, apalagi dengan banyaknya rival yang bakal dihadapinya nanti.






