RiderTua.com – Pembaca RiderTua yang budiman. Carlo Pernat mengkritik keras penyelenggaraan GP Brasil. Di satu sisi, balapannya berlangsung sangat seru yang dimenangkan duo Aprilia. Namun di sisi lain, penyelenggaraannya sangat buruk.
“Grand Prix ini punya dua sisi. Satu sisi dari segi organisasi dan sisi lainnya dari segi olahraga, dua hal yang sama sekali berbeda. Dari sisi organisasi, ini sama sekali tidak bisa diterima. Karena mustahil Kejuaraan Dunia MotoGP 2027 diadakan di sirkuit dengan curah hujan yang begitu tinggi. Kita tahu musim hujan di Goiania terjadi pada bulan Maret dan di trek yang kondisinya tidak bagus. Tidak masuk akal bisa muncul lubang sebesar itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar mantan manajer itu.
Carlo Pernat: GP Amerika di COTA akan Jadi Penentu Marc Marquez

Menurut Carlo Pernat, puncak masalah terjadi beberapa menit sebelum start, ketika Race Direction memutuskan untuk mengurangi jarak balapan. “6 menit sebelum balapan dimulai, ketika semua pembalap sudah berada di grid start, direktur balapan melihat kondisi sirkuit memburuk dan langsung menghilangkan 8 lap. Jadi balapan dijalankan dengan motor yang tidak disetel dengan benar. Ini tidak profesional. Kalau mau naik level, seharusnya lebih baik dari ini. Ini justru kemunduran total,” tegasnya.
Terlepas dari masalah lintasan di sirkuit Ayrton Senna, Pernat memuji performa Aprilia. “Meskipun balapan dipangkas 8 lap, tetap luar biasa dengan Aprilia mendominasi. Ada dua indikator yang menunjukkan bahwa sekarang Aprilia setara dengan Ducati di Kejuaraan Dunia tahun ini. Setara baik dalam hal motor, karena telah mengalami lompatan signifikan dan lebih mudah dikendarai, maupun dalam hal pembalap,” jelas manajer gaek asal Italia itu.
Pernat juga memuji performa Marco Bezzecchi dan Jorge Martin. “Kita melihat bahwa Bezzecchi kembali ke performanya seperti di akhir musim 2025 dan dia fantastis. Dan ‘big surprise’nya adalah Martin. Setelah setahun praktis tidak balapan karena crash serta mengalami masalah mentalitas dan fisik, berhasil kembali ke lintasan dan akan menjadi rival kuat bagi Marco,” ujarnya.

Namun Pernat juga memperingatkan Aprilia terkait kesulitan mengelola dua pembalap top dalam tim yang sama. “Ada satu masalah, tapi sebenarnya ini masalah yang semua tim inginkan. Ini ibaratnya seperti dua ayam jago di kandang ayam betina, tetapi Bezzecchi dan Martin sama-sama sangat kuat,” imbuhnya.
Pernat menilai bahwa GP Amerika di Austin akhir pekan ini akan menjadi penentu untuk mengukur performa Marc Marquez yang sebenarnya. “Ujian sebenarnya akan terjadi Minggu depan di Austin, tempat dia hampir selalu menang. Jika dia tidak menang di sana dan Bezzecchi bisa mengalahkannya, maka kita harus mulai berpikir bahwa kejuaraan tahun ini akan sangat berbeda,” tegasnya.
Pernat mengkritik penampilan Pecco Bagnaia. “Dia sudah kehilangan arah, kembali ke Bagnaia yang kita lihat tahun lalu. Sekarang tim pabrikan Ducati hanya punya satu pembalap yakni Marc Marquez dan satu pembalap underdog yang sangat kuat bernama Fabio Di Giannantonio. Kemarin Fabio bertarung dengan baik melawan Marquez meskipun Marc tidak dalam kondisi terbaiknya. Fabio bahkan berhasil menyalipnya dan menunjukkan bahwa dia tidak takut padanya. Dan itu positif,” ungkapnya.

Di sisi lain, Pernat juga menyoroti krisis yang dialami Yamaha dan KTM. “Tim lain hampir tidak terlihat. Yamaha sempat terlihat menjanjikan di Sprint race dengan Fabio Quartararo. Tetapi kemudian ketika balapan utama yang lebih panjang, mereka menghilang. Pada akhirnya, hampir semua KTM kesulitan kecuali Acosta. Sementara Vinales sedang mengalami krisis,” jelasnya.
Pernat juga menyinggung hubungan antara Maverick Vinales dan Jorge Lorenzo. “Saya tidak akan terkejut, jika dia segera berpisah dengan Jorge Lorenzo sebagai pelatihnya. Mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat berbeda,” pungkasnya.








