RiderTua.com – RiderTua readers, ada update nih dari paddock. Start dari posisi ke-14, Luca Marini keluar dari lap pertama di posisi ke-12 dan bertahan hingga di lap ke-20 dari 26 lap di GP Thailand hari Minggu. Setelah ban Marc Marquez kempes, Alex Marquez crash, dan rekan setimnya Joan Mir gagal finis lantasan masalah teknis, rider Honda Castrol itu naik ke posisi ke-9. Namun di lap terakhir dia disalip Franco Morbidelli sehingga Marini akhirnya finis di posisi ke-10 tertinggal 19,1 detik dari pemenang Marco Bezzecchi (Aprilia).
“Menurut saya balapan yang cukup sulit bagi semua pembalap. Bukan hanya karena suhu yang tinggi, tetapi juga karena manajemen ban. Ban depan situasinya sangat sulit. Setelah hanya 4 lap saja, suhu dan tekanan ban melonjak tinggi. Saya tidak bisa lagi mengerem dalam-dalam di tikungan dan tidak bisa berbelok dengan cukup cepat. Padahal saat ini, sebenarnya itu salah satu kekuatan kami karena motor telah meningkat secara signifikan di area tersebut. Tetapi kami tidak dapat memanfaatkannya dalam balapan karena suhu dan tekanan ban terlalu tinggi,” jelas Marini.
Luca Marini: Panas Bikin Salah Satu Kekuatan Honda Hilang di GP Thailand

Secara umum, performa Luca Marini sesuai dengan level Honda saat ini. “Itu kurang lebih sesuai dengan performa aktual kami. Tetapi semuanya sangat bergantung pada posisi start. Start dari posisi ke-14 sangatlah tidak mudah. Sebenarnya start saya bagus, tetapi kehilangan 3 posisi di trek lurus. Setelah itu, saya hanya bisa mempertahankan posisi karena race pace hampir semua pembalap sangat mirip,” ungkap rider berusia 28 tahun itu.
Marini melanjutkan, “Lap time dan potensi semua pembalap sangat berdekatan. Start dari depan dan punya ruang kosong di depan adalah kunci untuk membuat ban bekerja lebih baik. Kami tahu, kami harus meningkatkan lap time kami. Kami harus start lebih jauh di depan dan mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk kualifikasi, bukan hanya membuat motor lebih cepat untuk satu lap saja. Kalau kami nisa melakukan itu semua maka hasilnya akan meningkat.”
Marini menjelaskan bahwa kondisi ekstrem di Thailand bukanlah tantangan besar bagi para pembalap, melainkan bagi motor. “Tidak, secara fisik sama sekali bukan masalah. Masalahnya lebih pada ban, daya tahan, dan performanya. Terlalu panas. Dengan semua komponen aerodinamis, sekarang kami mengerem hampir selambat motor Moto2,” jelas rider asal Urbino Italia itu.

“Kami memberi tekanan yang sangat besar pada ban. Kalau cuacanya sepanas ini, menjadi sulit. Kami harus berhati-hati untuk memperlakukan ban selembut mungkin dan menyelesaikan balapan dengan sebaik mungkin. Di siis lain, secara fisik dan mental cukup mudah. Meski begitu, sebenarnya treknya tidak terlalu sulit,” imbuh adik legenda Valentino Rossi itu.
Soal ban belakang, Marini menanggapinya dengan sedikit bercanda. “Ya, kami harus mengelolanya tetapi itu menyenangkan. Kami bisa mengendalikannya, Saya mengaturnya,” pungkasnya sambil tersenyum.

Sementara itu : Kalau kata Aleix Espargaro yang sekarang jadi test rider Honda HRC, Honda RCV versi 2026 memang sudah maju dibanding 2025, tapi laju mereka masih kalah cepat dibanding lonjakan para rival. Target realistisnya saat ini ya tembus 10 besar dulu, jangan mimpi podium dulu. Masalah utamanya masih klasik: traksi belakang di Honda RC213V-26 yang kurang menggigit. Aero sudah dibenahi buat nambah tekanan ke ban belakang, depan juga di-set buat nambah top speed, tapi grip tetap jadi titik lemah yang belum kelar. Memang sekarang selisihnya tinggal setengah detik per lap, lebih baik dari musim lalu yang sampai satu detik, tapi kalau dihitung sepanjang balapan penuh, jarak itu tetap jadi jurang yang susah banget ditutup cepat. Intinya, progres ada… tapi PR-nya masih numpuk dan Honda belum benar-benar kembali jadi ancaman.
Seri MotoGP selanjutnya akan digelar di Sirkuit Ayrton Senna Brasil pada 20-22 Maret mendatang.








