RiderTua.com – Dalam beberapa tahun terakhir, mobil BEV semakin laris terjual di Negeri Tirai Bambu, tapi ini bisa membuka peluang bagi produsen untuk menjual mobil berkualitas rendah. Tentunya ini dapat membahayakan pengguna kalau komponennya gampang rusak, apalagi baterainya yang bisa lebih boros energi..
Mobil BEV Tidak Bisa Sembarangan Dirancang
Untuk mobil listrik, jelas mobil seperti ini tidak bisa dirancang sembarangan begitu saja, karena sedikit kesalahan bisa berakibat buruk pada keselamatan mobil. Di Negeri Tirai Bambu saja, ada sejumlah batasan yang diberikan untuk mobil jenis ini, termasuk dalam baterainya. Dimana ada regulasi mengenai batas maksimal konsumsi energi berdasarkan bobot kendaraan baru berlaku hari ini.

Dalam regulasi ini, mobil listrik dengan bobot dua ton hanya bisa menghabiskan energi sebanyak 15,1 kWh per 100 km. Melihat dari konsumsi energinya, ini sudah setara dengan konsumsi energi pada Tesla Model 3, dan angka tersebut cukup ketat untuk model BEV yang dijual sejauh ini. Walau sebenarnya 15,1 kWh/100 km dianggap 11 persen lebih ketat dari rekomendasi sebelumnya, tapi ini akan membuat produsen harus mengikuti standar yang ada.
Dengan regulasi efisiensi energi baterai pada model BEV, diharapkan mobil bisa memiliki jarak tempuh lebih jauh 7 persen dari sebelumnya. Sekaligus mencegah produsen untuk memakai baterai berkapasitas lebih besar demi memberikan jarak tempuh lebih jauh, tapi kalau masih boros energi tidak akan efektif. Selain itu, produsen bisa membuat mobil listrik yang lebih aman.

Sudah Ada Produsen yang Memenuhi Syarat?
Memang regulasi ini cukup ketat, tapi BYD dan Geely disebut sudah memenuhi persyaratan tersebut. Walau ada potensi sejumlah produknya masih belum memenuhi syarat yang berlaku, sehingga keduanya harus menyegarkannya, atau bahkan dihentikan penjualannya. Belum dipastikan apakah masih ada merek lainnya yang juga memenuhi ketentuan yang berlaku ini.

Sepertinya ini akan menjadi awal baru bagi Negeri Tirai Bambu dalam memimpin pasar mobil listrik global. Bahkan dengan adanya aturan seketat ini, produsen bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi yang lebih aman bagi penggunanya.






