RiderTua.com – Meski Jorge Martin start dari pole position, dia keluar pada lap pertama di posisi ke-3. Awalnya rider Pramac itu harus membiarkan Miguel Oliveira dan Pecco Bagnaia melaju didepannya. Namun dengan cepat dia mampu meninggalkan pembalap Trackhouse Aprilia itu, tapi Martin membutuhkan dua upaya untuk menurunkan Bagnaia ke posisi ke-2. Setelah dua lap, pembalap Spanyol itu gagal menyalip pembalap Italia itu dari dalam di tikungan 1. Namun tak lama kemudian, Martin mampu menyalipnya di tikungan 8.
“Itu adalah manuver menyalip yang bagus. Kami tidak terbiasa melakukan manuver menyalip di tikungan 8 apalagi saat melawan Pecco,” ungkap Martin.
Jorge Martin : Di Sachsenring Kita Tidak Boleh Membalap Terlalu Agresif

Jorge Martin menyebut taktik lawannya sebagai alasan manuver ambisiusnya. “Saya melihat dia (Pecco Bagnaia) berusaha menjaga bannya agar tidak cepat habis. Jika saya memimpin, saya akan melakukan hal yang sama 100 persen. Sebagai orang di belakangnya, saya harus mengambil keuntungan dari itu,” jelas rider berusia 26 tahun itu.
Menjelang akhir balapan, Martin merasakan efek dari pendekatan agresifnya. “(Akibat gaya agresif) Saya membayarnya kemudian, karena cengkeraman ban belakang saya hanya tersisa sedikit. Namun saya senang bisa mendapatkan kembali posisi saya yang hilang,” imbuh calon pembalap pabrikan Aprilia itu.
Martin kaget karena awalnya sempat turun ke posisi ke-3 karena strateginya berbeda. Dia kehilangan posisinya karena kesalahan pengoperasian sasis yang dapat diatur ketinggiannya, meski sebenarnya startnya bagus. Fakta bahwa dia mampu kembali memimpin hanya dalam dua lap adalah kuncinya. “Jika saya tetap berada di posisi ke-3 hanya untuk satu lap lagi, saya mungkin akan semakin tertinggal,” ujar Martinator.
Strategi Martin untuk balapan utama hari Minggu sudah jelas. “Saya ingin tetap menjadi yang pertama di awal,” tegasnya.
Oleh karena itu, pendekatan yang dipilih Bagnaia dalam sprint akan diperlukan. “Di trek ini, kita tidak boleh membalap terlalu agresif, kita harus melindungi ban, melindunginya. Karena kita semua punya masalah dengan keausan ban. Saya mencoba untuk menjadi cepat. Namun saya ingin dapat menambah kecepatan jika ada rider lain di depan saya,” ujar rider Pramac itu.
Fakta bahwa Martin kembali berhasil memenangkan sprint race sangat positif bagi kepercayaan dirinya. Setelah Bagnaia memenangi 5 balapan berturut-turut, terakhir Aleix Espargaro memenangkan sprint race di Montmelo, jelas rentetan kemenangan Bagnaia akan berakhir.
“Kami masih meraih hasil bagus. Namun kemenangan selalu memberi kita kepercayaan diri,” pungkas Martin.






