Lexus LX Kini Inden Sampai Dua Tahun di Indonesia!

LEXUS RiderTua.com – Lexus LX baru saja diluncurkan di Indonesia beberapa waktu lalu. Kembaran dari Toyota Land Cruiser ini membawa model anyar yang lebih mewah dan tampil lebih sporty. Namun Lexus LX ternyata memiliki waktu tunggu inden hingga dua tahun di Indonesia. Ini mungkin terjadi karena adanya gangguan pada produksinya di Jepang.

Baca juga: Lexus Hentikan Pemesanan SUV LX di Jepang!

Lexus LX Inden Sampai Dua Tahun

LX boleh dibilang sebagai versi lebih mewah lagi dari Land Cruiser, meski sama-sama berupa SUV full-size kelas premium. Hanya saja model ini dijual di bawah merek Lexus, sehingga menjadikannya lebih eksklusif. Apalagi LX dibekali dengan sejumlah fitur lengkap nan canggih, serta mesinnya yang bertenaga.

Walau tidak merinci harganya, LX menjadi incaran bagi konsumen di Tanah Air. Namun dengan inden yang kini bisa sampai dua tahun, sepertinya ada banyak peminatnya, tak hanya dari Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Seperti Land Cruiser, LX hanya diproduksi di Jepang saja.

(Viva)

Senasib Dengan Land Cruiser?

Beberapa waktu lalu, Lexus mengumumkan penghentian pemesanan untuk LX di Negeri Sakura. Kebetulan ini diumumkan setelah Toyota menghentikan keran pemesanan Land Cruiser 300 di pasar global. Jadi ada indikasi kalau keduanya mengalami masalah pada produksinya.

Kondisi pasar yang belum kondusif serta terjadinya krisis chip semi-konduktor menjadi penyebab dari dihentikannya pemesanan Land Cruiser 300 dan LX. Toyota dan Lexus sudah mengusahakan untuk bisa memenuhi semua permintaan akan kedua mobilnya tersebut di pasar global. Walau ini artinya mereka harus berhenti menerima pesanan baru dari konsumen untuk sekarang.

Tapi untuk LX, pemesanannya hanya dihentikan di Jepang saja, sehingga negara lainnya seperti Indonesia tidak terkena dampaknya. Walau antrian indennya kini sudah cukup lama.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page