RiderTua.com – Belum ada apa-apa, mendadak hasil penjualan di pasar mobil di Indonesia menurun drastis bulan lalu. Padahal ini bisa menjadi momen yang tepat untuk menjaga penjualannya agar tetap stabil, tapi apa daya kondisi di pasarnya masih belum kondusif.
▶Daftar Isi
Pasar Mobil Alami Penurunan Hasil Penjualan Lagi
Penjualan mobil tahun ini sepertinya tidak bisa dimaksimalkan seperti tahun lalu dengan penurunan penjualan yang sudah terjadi dua kali. Terakhir hasilnya menurun karena ada libur Lebaran yang membuat semua aktivitas produksi dan pengiriman mobil agak terhambat. Tapi ini bukan menjadi masalah bagi produsen, sebab ini sudah menjadi sesuatu yang biasa dihadapi tiap tahunnya.

Masalahnya, penjualan mobil ternyata menurun kedua kalinya di tahun ini, tepatnya di bulan Mei, dengan penjualan wholesales hanya tercatat 69.219 unit saja, turun 14,3 persen dari penjualan bulan lalu. Padahal penjualan wholesales bulan April 2026 bisa tembus 80.779 unit, melebihi angka 80 ribu unit dan sudah menjadi hasil yang cukup memuaskan. Sementara penjualan retail juga menurun hingga 5,1 persen, atau hanya ada 71.890 unit saja yang terjual.
Meski ada penurunan penjualan yang cukup signifikan, total penjualan mobil dari bulan Januari hingga Mei 2026 mencapai 359.490 unit, naik 8,8 persen dari tahun lalu. Ini untuk penjualan retail, sementara penjualan wholesales juga naik 12,8 persen atau 359.015 unit terjual. Tentu ada yang aneh dengan hasil ini, sebab total penjualannya masih cukup bagus, tapi tidak dengan penjualan per bulannya.

Kondisi Pasar Masih Kacau
Penurunan penjualan mobil ini disebabkan oleh kondisi pasar yang belum menentu, terlebih kondisi ekonomi yang tidak stabil akibat nilai tukar mata uang yang tidak begitu stabil. Ini membuat harga mobil ikut terpengaruh, termasuk harga suku cadangnya, jelas ini sudah cukup membuat pemilik maupun calon konsumen mobil pusing karenanya. Membeli mobil saja sudah sulit, belum lagi membayar biaya perawatan berkala mobil kalau dibutuhkan, termasuk mengisi bensinnya.
Selain itu, insentif mobil listrik belum juga diterapkan meski sudah disiapkan sejak bulan lalu, dan ternyata penerapannya baru bisa dilakukan sekitar bulan ini. Padahal sudah ada banyak orang yang menunggu insentifnya diberlakukan lagi sejak diberhentikan awal tahun ini. Karena pelaksanaannya ditunda hingga bulan Juni, tidak heran kalau banyak konsumen yang memilih menunda membeli mobil listrik baru.

Penjualan BEV Menurun?
Kalau sudah begini, penjualan mobil listrik bisa menurun di bulan Mei, tapi untuk sekarang belum ada hasil finalnya. Sebelumnya Jaecoo J5 EV menjadi model BEV terlaris hingga bulan April, dan hasilnya ini sudah dipertahankan sejak sekitar awal tahun ini dari rivalnya. Dengan penurunan penjualan ini, entah apakah J5 EV bisa mempertahankan posisi teratasnya dari trio BEV BYD, yaitu M6, Sealion 7, dan Atto 1, yang menjadi ancamannya sejauh ini.
Untuk mobil hybrid mungkin penjualannya masih cukup bagus, karena model seperti Kijang Innova Zenix HEV yang laris terjual sampai sekarang. Sementara mobil PHEV mungkin bakal ikut terpengaruh seperti mobil listrik walau bisa saja lebih parah lagi. Meski pilihannya kini lumayan banyak, kalau penjualannya hanya mentok ratusan unit per bulan jelas ini belum cukup untuk mencetak hasil penjualan lebih maksimal.

Nampaknya mempertahankan performa penjualan mobil di Indonesia hingga akhir tahun 2026 bakal lebih sulit dari yang dibayangkan. Bagaimana tidak, dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, harga bensin naik drastis, sampai insentifnya yang belum diberlakukan membuat produsen kesulitan menjual mobilnya disini. Produsen bisa saja kesulitan memulihkan penjualannya kalau hasilnya mencapai titik terendah seperti di tahun 2020.
Tapi kalau mereknya seperti Toyota, memulihkan penjualan mobil membutuhkan waktu lama tergantung dari kondisinya. Jadi bisakah penjualan bulan ini dipulihkan? Mungkin tidak, selama harga mobil dan suku cadangnya terus naik, apalagi harga bensinnya ikut naik.






