Mulai FP1 Motor Pecco Tidak Diutak-atik!

1

RiderTua.com – Pecco berujar setelah balapan, bahwa selama seri Aragon motornya tidak di utak-atik mulai hari pertama latihan, “Sulit dipercaya bahwa kita tidak menyentuh apa pun di motor. Mulai FP1 hingga Q2 setingan motor tidak diutak-atik.”… Itu artinya paket motor yang tidak bermasalah sangat berpengaruh bagi pembalap. Seri sebelumnya di GP Inggris, motor dia bagus tapi dikhianati oleh ban dan melorot ke P-14.. Francesco ‘Pecco’ Bagnaia naik ke kelas utama sebagai juara dunia Moto2 pada 2019. Tetapi berbeda dengan Fabio Quartararo, pembalap asal Italia itu punya masalah dengan start.

Bagnaia menyelesaikan 2 tahun pertamanya di MotoGP (Pramac Ducati), hanya menempati peringkat 15 dan16 di klasemen Kejuaraan Dunia. Sebagai pembalap pabrikan Ducati, murid VR46 itu akhirnya meraih kemenangan pertama yang telah lama ditunggu-tunggu di kelas utama pada hari Minggu di Aragon. Namun tak ada gading yang tak retak, “Saya membuat 4 kesalahan dalam balapan di Aragon. Dua kali di tikungan-7 dan dua kali di tikungan-8 (sektor-2 di Lap:16,20,21,23),” katanya..

Mulai Hari Pertama Motor Pecco Tidak Diutak-atik!

Usai balapan, pembalap berusia 24 tahun itu menegaskan, “Setiap pembalap membutuhkan waktunya. Saya mengalami banyak masalah di tahun pertama. Selain di Phillip Island, di mana saya finis ke-4 tetapi tertinggal 15 detik dari pembalap terdepan. Tahun kedua dimulai dengan baik, tetapi terkadang saya juga tidak secepat itu.”

“Tahun ini saya cepat, tetapi kadang-kadang saya masih tidak punya peluang untuk menang. Di kualifikasi Portimao, bendera kuning berkibar. Di Mugello saya crash setelah saya bikin kesalahan. Sering kali ada ‘something’ yang hilang. Ketika saya kompetitif sepanjang waktu dan bisa cepat, saya malah kehilangan kesempatan untuk menang. Itulah alasan, mengapa kemenangan ini terasa semakin manis,” katanya antusias di MotorLand pada hari Minggu.

Kemudian Pecco ditanya, apakah kesuksesan pertamanya di kelas premier juga merupakan kemenangan terbaiknya? Dimana pembalap kakak Carola Bagnaia itu total memenangkan 10 balapan di dua kelas kecil?.. “Saya pikir ini adalah kemenangan terbaik saya. Karena ketika saya masih kecil, saya sering melihat pembalap MotoGP. Seiring bertambahnya usia, saya melihat pertarungan Vale, Pedrosa dan Lorenzo. Ketika saya masuk ke kejuraaan dunia, ada Marc, Dovi, Vale dan Lorenzo. Mimpi selalu menang di MotoGP. Dan menang melawan salah satu pembalap dengan gelar MotoGP terbanyak selalu menyenangkan, meski dia tidak dalam kondisi 100 persen. Karena pembalap di level Marc, selalu sangat kuat,” imbuhnya menegaskan dengan mata bersinar.

Pembalap pabrikan Ducati itu tidak melihat balapan Aragonnya berjalan sempurna. “Saya pikir saya membuat 4 kesalahan dalam balapan. Dua kali di tikungan 7 dan dua kali di tikungan 8, tapi itu bukan kesalahan besar, saya hanya agak melebar,” ujarnya menganalisis perfromanya dan tidak bisa menahan senyum.

Dia dan timnya akan bekerja dengan sempurna sepanjang akhir pekan di Misano. “Tidak akan mudah untuk mengulang akhir pekan seperti ini. Sulit dipercaya bahwa kita tidak menyentuh apa pun di motor. Saya ingin secepat itu lagi di Misano, saya suka treknya dan saya akan mencoba lagi,” lanjutnya.

Runner-up MotoGP itu tidak mau terlalu memperhatikan peringkat secara keseluruhan. “Saya hanya fokus pada diri sendiri dan menjadi secepat di Aragon lagi. Dan berada sejauh mungkin di depan dalam balapan. Saya tidak perlu memikirkan Fabio Quartararo. Saya tertinggal 53 poin, yang harus saya lakukan adalah mencoba untuk selalu unggul. Saya tidak bisa memikirkan klasemen, saya hanya harus memacu setiap saat dan juga mendapatkan poin setiap saat. 53 poin itu masih banyak, dan itu tidak mudah. Tetapi kami punya keinginan besar untuk menang, dan kemenangan ini merupakan dorongan motivasi lainnya untuk balapan berikutnya,” pungkas Pecco Bagnaia.

1 COMMENT

Leave a Reply