RiderTua.com – Nggak terasa M6 EV sudah dijual di pasarnya cukup lama, jadi jangan heran kalau modelnya di pasar mobil bekas atau mobkas lumayan banyak. Tapi kebanyakan model bekasnya lumayan baru, itupun dengan harga tidak jauh berbeda dengan harga model baru.
M6 EV Bekas Dibanderol ‘Terjangkau’
Mobil MPV BYD M6 tetap diandalkannya sampai sekarang, terbukti dengan dirilisnya versi PHEV-nya bulan lalu dan disambut baik di pasarnya. Meski belum dijual, M6 DM sudah menarik perhatian banyak orang karena menjadi model yang paling dinantikan kehadirannya sejak didaftarkan disini. Terlebih modelnya menjadi mobil PHEV pertama yang dijualnya di Indonesia.

Karena belum dijual, maka hanya versi listriknya yang tersedia, baik model anyar maupun bekas bisa dipilih sesuai kantong. Kalau nggak mau membeli model barunya karena terlalu mahal, model bekasnya bisa jadi pilihan bagus, tapi resikonya tergantung dari kondisi unitnya. Apalagi dengan odometer yang berbeda-beda, bisa jadi jarak tempuhnya melebihi 1.000 km atau bahkan kurang dari itu.
BYD M6 EV yang dijual di dealer dibanderol mulai dari Rp 383 juta sampai Rp 433 juta, tapi harga bekasnya berada di sekitar angka Rp 300 jutaan. Kebanyakan model bekas M6 dijual dengan harga kurang dari Rp 350 juta, jadi masih lebih terjangkau dari model barunya, dan ini bisa menjadi pilihan bagus bagi konsumen yang mencari model lebih murah. Tapi sekali lagi ini tergantung dari kondisi unit maupun jarak tempuh yang sudah dilalui.

Incaran Banyak Orang
Banyak orang yang mencari mobil seperti M6 karena menjadi mobil MPV listrik entry level pertama di Indonesia. Sementara rivalnya menjual mobil hybrid murah, BYD lebih memilih menjual MPV listrik karena segmennya yang masih kosong, dan ini bisa menjadi kesempatan emas baginya untuk mengisi pasarnya dengan model unggulannya. Hasilnya, M6 EV mendapat sambutan baik di pasarnya, bahkan menjadi mobil listrik terlaris sepanjang tahun 2024.
Sejauh ini, mobil listrik bekas semakin banyak jumlahnya, dan kebanyakan harga jualnya anjlok karena garansi baterai atau masalah lainnya. Tapi tidak dengan M6, dimana harganya masih cukup stabil meski sudah dijual kembali oleh pemilik lamanya, dan banderolnya justru sedikit lebih terjangkau. Ini bisa menjadi sesuatu yang bagus, meski ini tergantung dari ketersediaan stoknya, bisa-bisa ada yang kehabisan unitnya gara-gara tidak di-restock.

Mobil Listrik Bekas
Sebelumnya banderol mobil listrik bekas tidak begitu seberuntung BYD M6, karena harganya yang bisa berbeda jauh dari model barunya. Wuling Air EV yang dibanderol Rp 200 jutaan anjlok menjadi Rp 100 juta setelah dijual kembali, begitupun dengan Hyundai Ioniq 5 dan model lainnya. Inilah yang membuat konsumen ogah membeli mobil listrik, karena dikhawatirkan harga jual kembalinya bisa anjlok cukup tajam ketimbang mobil jenis lainnya.
Tetap saja, mobil listrik masih dicari banyak konsumen Indonesia karena tidak menghasilkan banyak emisi ketimbang mobil bermesin konvensional. Terlebih di tengah kondisi dimana harga bahan bakar cukup mahal, mobil ramah lingkungan menjadi solusi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk mengisi bensin. Tapi lebih baik mobil listrik, mengingat pemilik nggak perlu mengisi bensin, cukup mengisi daya baterainya saja.

Mungkin masih ada yang ogah membeli model BEV karena harga jual kembalinya, tapi tidak untuk M6. Modelnya kini mencetak kenaikan penjualan sepanjang tahun ini, bahkan mampu mengungguli penjualan Atto 1 yang sempat menjadi model BEV terlaris tahun lalu. Sementara Sealion 7 juga kembali populer di pasarnya, meski dengan penjualan yang masih punya selisih lebih sedikit dari M6.
Memilih mobil listrik bekas memang nggak dilarang, sih, tapi kondisi unitnya masih harus diperiksa agar aman dikendarai. Siapa tahu ada kerusakan pada salah satu komponennya, dan kalau kerusakannya tidak ditangani bisa-bisa membahayakan penggunanya. Garansi baterainya juga bisa diperiksa, apakah masih berlaku atau tidak.






