RiderTua.com – Casey Stoner memuji dominasi Marc Marquez yang luar biasa dan ia kembali mengkritik secara terbuka penggunaan elektronik yang menurutnya sudah terlalu berlebihan di motor MotoGP modern. “MotoGP sekarang tidak lebih aman dibanding dulu,” tegasnya..
Casey Stoner memang jarang nongol di paddock MotoGP, tetapi setiap kali hadir, ia berbicara blak-blakan tanpa basa-basi… Dalam sesi wawancara dengan media di Red Bull Ring, Stoner memuji Marquez, yang sering dibandingkan dengannya jika bicara soal bakat murni di lintasan..
▶Daftar Isi
Casey Stoner: Marquez Sekarang Lebih Berbahaya, Tapi Bukan Tanpa Kelemahan..

“Saya mungkin masih punya peluang melawan Marc yang dulu, tetapi kalau sekarang Marc memiliki sesuatu yang lebih,” kata mantan pembalap dengan nomor 27 itu, menegaskan bahwa gaya balapnya di masa lalu sangat kuat, saat semua pembalap masih mengandalkan feeling tanpa banyak bantuan elektronik seperti sekarang…
“Marc tahu cara mengendarai motor tanpa semua kontrol ini karena dia memiliki memori dan insting dari gaya balap masa lalu. Hal yang sama juga saya lihat pada Dani Pedrosa… dia bisa berpartisipasi sebagai pembalap wildcard dan tetap cepat,” tambah Stoner, yang juga menyinggung momen sulit yang dialami Pecco Bagnaia di garasi tim pabrikan Ducati.

“Ketika seseorang seperti Marc datang dan melakukan hal-hal yang tidak kamu duga, jelas itu sulit diterima.. Tapi saya rasa bukan hanya Bagnaia yang kesulitan melawan Marc… tetapi seluruh grid juga merasakannya..” katanya..
Dia lanjutkan..”Dulu, setiap pembalap memiliki peluang untuk menang, tetapi sekarang tidak ada yang benar-benar merasa memiliki banyak peluang, kecuali dalam balapan yang aneh, seperti Le Mans,” kata Stoner sambil mengingatkan bahwa Marquez tumbuh di era motor yang jauh lebih sederhana dibanding mesin MotoGP saat ini…
“Sekarang pembalap cukup memutar gas dan biarkan para insinyur mengurus sisanya. Marc, di sisi lain, tahu di mana harus memposisikan diri, kapan harus membuka gas, dan bagaimana merawat ban. Elektronik memang bisa menutupi banyak masalah, tapi Marc tetap mampu melampauinya dan mendapatkan sesuatu yang lebih dibanding pembalap lain,” ujar pembalap Australia itu.

Kehadiran Stoner di Austria juga bertepatan dengan diperkenalkannya sistem kontrol stabilitas baru dari Magneti Marelli, pemasok elektronik resmi prototipe MotoGP. Teknologi yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi risiko kecelakaan akibat selip mendadak di roda belakang. Namun bagi Stoner, langkah itu justru terasa aneh…. ini tidak masuk akal..!
“Motor sekarang punya hampir 300 tenaga kuda, kamu bisa membuka gas penuh dan tidak terjadi apa-apa. Pembalap terbaik akhirnya mengendarai motor yang paling mudah dikendalikan. Dan saya tidak peduli, saya tidak suka itu. Waktu saya masih jadi test rider saja, mereka bahkan melarang saya memakai kopling saat masuk tikungan karena katanya bisa membingungkan sistem elektronik,” jelasnya, dengan gaya blak-blakan…

“Saya justru melihat kecelakaan paling parah terjadi di era MotoGP sekarang. Elektronik membuat pembalap terlalu percaya diri dengan ban belakang. Tetapi semakin aman bagian belakang, semakin tidak aman bagian depan. Jadi menurut saya olahraga ini tidak lebih aman dibanding dulu,” tambah Stoner, yang juga menyindir biaya pengembangan aerodinamika yang makin membengkak dalam beberapa tahun terakhir.
“MotoGP sering bicara soal penghematan biaya, tapi aerodinamika justru salah satu hal paling mahal untuk dikembangkan.. Kita melihatnya di Formula 1, misalnya, atau di balap sepeda. biayanya langsung melonjak gila-gilaan,” pungkas Stoner.

Jadi Apa Kelemahan Marc Menurut Stoner..?
Menurut Casey Stoner, sebenarnya Marc Marquez bukan pembalap tanpa cela (punya kelemahan), hanya saja banyak rival sudah lebih dulu “kalah mental” sebelum duel dimulai. Stoner melihat kelemahan Marquez bukan pada talenta atau keberaniannya, melainkan pada situasi tertentu seperti ketika feeling ban depan mulai hilang atau motor tidak sepenuhnya cocok dengan gaya balap agresifnya yang sangat bergantung pada front-end.
Namun menurutnya, masalah terbesar justru datang dari para pesaing sendiri yang terlalu fokus bereaksi terhadap Marquez, bukannya mencari cara menyerangnya sejak awal. Singkatnya, celah itu sebenarnya ada, tapi sering tidak dimanfaatkan karena banyak pembalap sudah menganggap Marquez seperti “bos terakhir” yang sulit ditaklukkan..










