RiderTua.com – Luca Marini adalah satu-satunya pembalap Honda yang mampu menyelesaikan race utama hari Minggu hingga garis finis di Misano. Pertama Diogo Moreira crash di lap ke-3, kemudian Joan Mir masuk pit karena sakit, dan Johann Zarco crash di lap ke-25.
Start dari posisi ke-6, Marini turun ke posisi 7 dan berhasil mempertahankan posisinya tersebut hingga lebih dari 2/3 balapan (total 27 lap). Namun kemudian ban belakangnya bergetar hebat, yang membuatnya kesulitan. Pada akhirnya rider asal Urbino Italia itu disalip Fabio di Giannantonio di lap ke-25 dan di lap terakhir dia juga disalip Enea Bastianini. Marini harus puas finis di posisi ke-9 tertinggal hampir 23 detik di belakang pemenang Marc Marquez.
Luca Marini Disalip Fabio di Giannantonio di 2 Lap Terakhir: Diggia Pasti Membenciku!

Usai balapan Luca Marini mengatakan, “Yah, saya akan lebih senang jika finis di posisi ke-7. Saya mengerahkan segalanya untuk menahan Diggia. Pasti dia membenci saya! Karena kami menjalani balapan yang sangat buruk, saya menutup semua celah selama 15 lap agar dia tidak menyalip saya. Tapi itu satu-satunya cara untuk menahannya tetap di belakang saya.”
Saat mendengar komentar Marini tersebut, Diggia langsung menanggapi, “Tidak, tidak! Dia melakukan yang terbaik. Tentu saja, bagi dia dan Honda sangat penting untuk meraih posisi bagus. Apalagi bisa menahan laju Ducati.”
Diggia mengaku bahwa dirinya juga mengalami masalah saat itu. “Tapi dari sisi saya, saya benar-benar tidak punya senjata karena ada masalah pengereman. Jadi, saya menunggu dia melakukan kesalahan. Dia membalap dengan sangat luar biasa. Saya melihat dia memacu motornya dengan keras. Saya sempat berpikir, ‘sebenarnya saya bisa lebih cepat, tapi saya tidak bisa melaju lebih cepat!’ Jadi, jujur itu sangat fair,” ungkap rider tim VR46 Ducati itu.

Lalu Marini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada motornya. “Saat balapan tersisa 8 lap, saya mulai merasakan getaran hebat pada ban belakang karena ban tersebut bergeser pada peleknya. Jadi, saya tidak bisa lagi memiringkan motor secara maksimal akibat getaran itu. Saya sempat berusaha bertahan sebentar, tapi kemudian Diggia dengan mudah menyalip saya, begitu pula Enea,” jelas rider berusia 28 tahun itu.
Maro melanjutkan, “Saya sudah tidak punya senjata lagi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi bagaimanapun, saya sangat senang dengan akhir pekan ini karena performa kami sangat kuat. Saya selalu lebih cepat dibandingkan rekan-rekan setim saya, dan inilah hasil terbaik yang bisa saya capai.”
Marini menilai bahwa permukaan lintasan Misano yang memiliki daya cengkeram tinggi, cuaca yang panas, serta tenaga luar biasa dari motor prototipe 1000cc telah menyebabkan ban bergeser pada peleknya.

“Kami tidak bisa mengeluhkan soal ban, karena kami memang menuntut performa tinggi darinya. Hanya saja, kami harus mengoptimalkan paket motor yang kami miliki. Tentu saja, saya juga menekan ban belakang dengan keras saat berusaha mengejar Raul Fernandez dan menciptakan gap dengan para pembalap yang ada di belakang saya. Jadi, hal seperti itu memang bisa saja terjadi,” pungkas adik legenda MotoGP Valentino Rossi itu.
Usai menjalani 14 seri musim 2026, Marini bertahan di peringkat 11 dengan perolehan 96 poin dan masih menjadi pembalap Honda terbaik di klasemen. Tahun depan, dia akan pindah ke tim Tech3 KTM namun hingga kini tim milik Gunther Steiner tersebut belum mengumumkan siapa rekan setimnya. Kabarnya, pembalap Moto2 yang saat ini menempati peringkat 3 dalam klasemen Senna Agius menjadi kandidat terkuatnya.












