RiderTua.com – Nama Senna Agius belakangan ini kerap jadi bahan pemberitaan di tengah panasnya pasar pembalap MotoGP. Rider yang saat ini menempati peringkat 3 dalam klasemen Moto2 itu dikabarkan menjadi kandidat kuat untuk menempati satu kursi rookie yang disiapkan tim Tech3 KTM. Dia akan menjadi rekan setim Luca Marini tahun depan.
Sebelumnya, manajernya Chaz Davies optimis bahwa Agius akan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya jika mengendarai motor yang lebih bertenaga. “Tentu saja. Chaz benar sekali. Sepanjang karir balap saya, setiap kali saya beralih ke motor yang lebih besar, saya langsung meningkat drastis. Bahkan ketika pertama kali mengendarai motor Moto2 pun, saya merasa langsung cocok,” ungkap rider asal Australia itu.
Senna Agius: Gaya Balap Saya yang Mengandalkan Roda Belakang Mirip Casey Stoner, Beda dengan Kebanyakan Pembalap Eropa

menambahkan, “Dan saya tahu, saya akan siap jika beralih ke motor yang lebih besar (MotoGP) tahun depan. Gaya balap saya juga cocok untuk itu. Itulah tatrget saya. Saya yakin saya sudah siap. Saya tidak bisa berbuat lebih dari itu saat ini. Saya sepenuhnya fokus pada Moto2 dan berusaha melakukan pekerjaan terbaik yang saya bisa.”
Pertanyaannya, mengapa Agius merasa lebih cocok dengan motor yang lebih bertenaga? Agius menghabiskan sekitar 10 tahun berlatih di flat track, di mana pembalap dituntut mampu mengendalikan motor melalui roda belakang saat melibas tikungan. Prinsip-prinsip dasar inilah yang kemudian membentuk gaya balapnya hingga saat ini.
Rider berusia 21 tahun itu menjelaskan, “Saya berlatih flat track selama 10 tahun. Sejak awal saya belajar mengendalikan motor melalui roda belakang. Ketika kemudian memasuki Kejuaraan Dunia, saya sadar bahwa meskipun kemampuan saya di kejuaraanΒ nasional balap aspal sudah cukup baik, namun level pembalap di Spanyol dan Eropa jauh lebih tinggi. Mereka mulai balapan sejak usia yang masih sangat muda. Mereka tidak terlalu memikirkan bagaimana mengendalikan motor dengan roda belakang. Pembalap Eropa sangat kuat dalam pengereman dan lebih mengandalkan roda depan.”

Agius menilai gaya balapnya mirip legenda asal Australia Casey Stoner, yang dikenal punya gaya balap yang cukup unik. “Casey pernah menjelaskannya dengan sangat baik terkait kariernya. Dia selalu mengendalikan motor dengan roda belakang, karena menurutnya cara itu lebih aman dan mengurangi risiko selip roda depan. Pada saat yang sama, dia juga mengatakan bahwa pembalap Eropa jauh lebih mengandalkan roda depan. Itu persis sama dengan yang saya rasakan,” ujarnya.
Agius menekankan bahwa kini gaya balapnya sudah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. “Saya sudah membuat kemajuan besar dalam aspek itu dan sekarang mampu tampil kompetitif. Saat ini saya punya banyak cara berbeda untuk menjadi lebih cepat. Tetapi kemampuan berbelok dengan mengandalkan roda belakang, datang secara alami kepada saya,” ungkapnya.
Dulu Agius selalu tampil kuat ketika balapan di sirkuit yang berlawanan arah jarum jam (anti-clock) karena lebih cocok dengan gaya balapnya.
Di masa lalu, Agius paling diuntungkan di sirkuit berlawanan arah jarum jam, yang sesuai dengan gayanya. “Memang benar, saya lebih menyukai sirkuit berlawanan arah jarum jam. Tetapi akhir-akhir ini, perbedaan antara trek berlawanan arah jarum jam dan searah jarum jam hampir tidak berpengaruh lagi bagi saya. Apa yang dibilang Casey bertahun-tahun yang lalu soal perbedaan antara pembalap Australia dan pembalap dari negara lain, persis seperti yang saya hadapi hari ini dan yang saya rasakan sendiri,” pungkasnya.
Memasuki peruh kedua musim 2026, Agius berada di peringkat 3 tertinggal 59,5 poin dari pemimpin klasemen sekaligus rekan setimnya di tim LIQUI MOLY Dynavolt Intact GP Manuel Gonzalez. BTW, nama Manu juga sempat masuk menjadi kandidat untuk memperebutkan 1 kursi rookie di tim Tech3 KTM.












