Home Otomotif Laba BYD Sepanjang 2026 Turun 20 Persen, Karena Apa?

    Laba BYD Sepanjang 2026 Turun 20 Persen, Karena Apa?

    Penjualan Mobil listrik BYD M6
    BYD M6

    RiderTua.com – Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah produsen otomotif di China mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan. Bahkan ini juga dirasakan oleh merek ternama disana, dan ini berpengaruh besar pada pendapatannya.

    β–ΆDaftar Isi

    Laba Sepanjang Paruh Pertama 2026 Turun Drastis?

    BYD boleh dibilang sebagai salah satu merek jempolan dari China di pasar global, karena mereka sukses melakukan ekspansi ke berbagai negara. Tak terkecuali Indonesia, dimana mereka membawa berbagai macam model ramah lingkungannya, dari hatchback listrik Atto 1 sampai MPV PHEV M6 DM yang sukses menarik perhatian banyak konsumen. Hasil penjualan yang didapat oleh lini produknya juga mampu memberikan pangsa tertinggi di pasar mobil listrik.

    BYD M9 Bandung
    BYD M9

    Sementara di kampung halamannya, mereka mengalami penurunan pada pendapatannya, dimana sepanjang semester pertama pendapatannya turun 7,13 persen. Laba bersihnya juga demikian, tapi penurunannya tembus 20,54 persen, dan ini cukup signifikan bagi merek asal China tersebut. Sebab seharusnya mereka nggak mengalami penurunan setinggi itu, dan tentu ada alasan jelas kenapa pendapatan dan labanya turun drastis sepanjang paruh pertama 2026.

    BYD menduga penurunan penjualan mobil ramah lingkungan atau NEV (new energy vehicle) di China menjadi biang kerok penurunan pendapatannya. Selain itu, mata uang juga mempengaruhi laba yang didapatnya, dan ini cukup merepotkan baginya untuk bisa mencetak hasil yang lebih tinggi dari tahun lalu. Apalagi konsumen sekarang mencari mobil yang setidaknya dibanderol cukup terjangkau, atau paling tidak masih memakai mesin konvensional yang dijual lebih murah lagi.

    Mobil SUV Merek mobil BYD Atto 3
    BYD Atto 3

    Diselamatkan Hasil Ekspor

    Akibat ini, penjualan mobilnya hanya tembus 1.808.511 unit saja di semester pertama 2026, turun 15,72 persen dari tahun lalu. Walau dengan penurunan penjualan dan pendapatan yang dialaminya ini, BYD masih bisa terbantu oleh hasil ekspor ke pasar global. Total 792 ribu unit mobil sudah dikirim ke sejumlah negara di periode yang sama, naik 67,8 persen dari tahun lalu, dan ini sudah menjadi hasil yang membantu menyelamatkannya dari kondisi tersebut.

    Selain hasil ekspor meningkat drastis, penjualan di awal semester kedua 2026 juga mulai meningkat hingga 21,76 persen, atau 419.211 unit terjual di China. Nampaknya mereka mulai memulihkan hasil penjualan yang didapatnya, termasuk pendapatan yang diterima dari penjualan mobilnya tersebut. Kalau performa penjualannya ini bisa dipertahankan sampai akhir tahun, mereka bisa memulihkan hasil yang didapatnya yang sempat menurun drastis.

    BYD Yangwang U9 Xtreme
    BYD Yangwang U9 Xtreme

    Sub-Brand Ikut Membantu Penjualannya

    Hasil yang didapatnya ini tidak hanya disumbangkan oleh produknya sendiri, tetapi juga produk dari sub-brand yang dipegangnya, yaitu Denza, Yangwang, dan Fangchengbao. Kalau dilihat, ketiga merek ini hanya menjual mobil kelas premium, tapi mereka sukses menghadirkan produknya di luar negeri, termasuk di Indonesia. Walau untuk sekarang hanya Denza yang berjualan disini, sementara salah satu produk Yangwang yang pernah ditampilkan setahun lalu belum juga dihadirkan, dan belum jelas bagaimana dengan Fangchengbao.

    Meskipun begitu, BYD masih bisa mencetak hasil penjualannya sendiri yang masih memuncaki pasar BEV di Indonesia dengan banyaknya lini model yang ditawarkannya. Atto 1 sampai M6 EV sudah menyumbang hasil yang begitu memuaskan, begitupun dengan model yang dirilis sebelumnya, walau hasilnya tidak sebanyak kedua model tersebut. Sementara M6 DM yang baru dijual sebagai mobil PHEV pertamanya mampu merebut posisi teratas di pasarnya dari salah satu produknya Chery yang sudah menguasai pasar PHEV dalam beberapa bulan terakhir.

    Mobil PHEV BYD M6 DM
    BYD M6 DM

    Tentu ini berarti mereka harus menghadapi ketatnya persaingan di dua pasar tersebut, dan mereka lebih fokus jualan mobil ramah lingkungan saja. Kalaupun ada potensi di pasar mobil konvensional, mereka ogah ikut-ikutan menjual model serupa agar mengejar kompetitor senegaranya. Sebab pasar BEV dan PHEV masih punya peluang cukup tinggi untuk ditingkatkan penjualannya, terlebih mobil PHEV kalah laris dari model HEV dan BEV.

    Entah apa nantinya mereka mau menambah lebih banyak model PHEV lainnya, atau justru memperluas lini mobil BEV-nya.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini