RiderTua.com – Marc Marquez mendominasi balapan lahir pekan di Sachsenring dengan meraih pole position, menang dalam sprint race dan race utama. Sementara itu, Ai Ogura juga menunjukkan performa yang luar biasa dalam balapan. Meski hanya finis ke-4 dalam sprint, namun rider asal Jepang itu mampu meraih podium setelah finis ke-2 tepat didepan rekan setimnya (Trackhouse Aprilia) Raul Fernandez yang finis ke-3. Dengan hasil apik tersebut, Marquez naik ke peringkat 3 dalam klasemen dan Ogura juga melesat ke peringkat 2. Mereka berdua hanya dipisahkan 4 poin saja.
Pengamat MotoGP Oscar Haro mengatakan, “Marc menjalani balapan yang bagus, terutama pada hari Minggu. Menurut saya, bahkan dia tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Di akhir balapan ban depannya mulai habis karena sejak awal dia terlalu menghemat ban belakang. Ini adalah sirkuit yang sangat cepat mengikis sisi kiri ban belakang. Karena terlalu fokus menghemat ban belakang, ban depannya justru habis duluan. Meski begitu, sebenarnya dia masih bisa melaju lebih cepat.”
▶Daftar Isi
Gestur ‘Perang Mental’ Marc Marquez di Podium kepada Ai Ogura Mirip Valentino Rossi?
Oscar Haro menambahkan, “Marc masih menyimpan kecepatan beberapa persepuluh detik. Dia tahu rival utamanya saat ini adalah Ogura. Saya rasa dia sudah menyadarinya. Saya suka sekali melihat Marc menyemprotkan sampanye ke Ogura. Ogura diam saja seperti orang Jepang pada umumnya dan seolah-olah berkata, ‘ya, silakan semprot saya’. Akhirnya Marc sendiri yang berhenti menyemprotnya. Semakin jelas bagi saya bahwa jika kondisinya terus seperti ini maka mereka berdua yang akan memperebutkan gelar dunia.”

Setelah tampil gemilang di Mugello, Aprilia terutama tim pabrikannya justru terus merosot di seri-seri berikutnya. “Saya rasa tim pabrikan Aprilia mengalami kemunduran yang cukup serius. Ya, memang sudah diprediksi akan terjadi. Seperti yang pernah dikatakan Fabio Di Giannantonio bahwa pada akhirnya ketika dalam 1 musim ada 44 balapan ditambah sesi latihan bebas, kualifikasi, dan tes pra musim maka wajar jika terjadi kemunduran di satu, dua, atau tiga balapan. Karena itulah faktanya, dan data statistik tidak akan bohong,” ujar Haro.
Haro menambahkan bahwa musim ini hampir semua pembalap pernah gagal mencetak poin. “Lihatlah klasemen MotoGP sekaran. Semua rider mengalami dua, tiga, atau empat kali DNF (tidak menyelesaikan balapan) di beberapa balapan. Ketika pembalap lain bernasib buruk, justru Marc mendapat keberuntungan. Dan Marc pernah mengalami masa-masa sulit, ketika semuanya berjalan buruk untuknya. Sekarang dia sedang menikmati masa keberuntungannya sebagai seorang juara. Bukan hanya karena dia memang juara tapi juga betapa hebatnya Marc. Tetapi juga karena Bezzecchi mengalami cedera, Martin jatuh, Aprilia tiba-tiba kesulitan, dan Di Giannantonio juga jatuh. Semua itu juga seperti keberuntungan bagi sang juara bertahan,” imbuhnya.
Haro juga terkesan dengan penampilan Ogura. “Ogura sekarang berada di peringkat 2 dalam klasemen. Bagaimana mungkin dia bukan kandidat juara dunia? Tentu saja dia adalah kandidat,” ujarnya.

Ducati Kembali Kuat
Soal performa Ducati yang kembali menguat, Haro mengatakan, “Ducati kembali membuat kemajuan. Tapi orang yang mampu mendorong Ducati hingga batas maksimal selalu sama. Karena baik Alex Marquez, Di Giannantonio, maupun Pecco Bagnaia (Finis ke-6) tidak mampu melakukannya. Pada akhirnya, orang yang mampu membawa tim maju ketika dia dalam performa terbaik dan semuanya berjalan lancar adalah Marc.”
Aprilia kehilangan posisi yang sebelumnya sangat kuat. “Kejuaraan menjadi rumit bagi tim pabrikan Aprilia. Ingat balapan di Mugello, saat itu dua pembalapnya berada di peringkat pertama dan kedua dalam klasemen. Sekarang lihat posisi mereka, sungguh disayangkan. Dan apa dampaknya? Situasi seperti ini justru bisa membuat tim satelit semakin pede, seperti yang terjadi pada tim Pramac 2 tahun lalu ketika Jorge Martin menjadi juara dunia. Ketika sebuah tim satelit lebih kuat daripada tim pabrikan, itu bisa membuat mereka semakin pede dan terus berkembang pesat,” lanjut Haro.
Oscar melanjutkan, “Saat ini, dua pembalap tim Trackhouse sangat kuat. Menurutku saat ini Marc sedang mewaspadai Ogura. Bukan hanya karena kecepatannya, tapi dari caranya memperlakukannya. Saya sangat menyukai psikologi olahraga. Misalnya, jika saya ingin menunjukkan bahwa Diego Lacave berada di bawah saya, maka saya akan berkata, ‘orang ini sangat cepat’ tetapi saya tidak akan menatap matanya. Perhatikan, seberapa sering Marc menatap mata Ogura. Tidak pernah! Karena dengan cara itu, tanpa disadari kita sedang meremehkannya.”

“Marc tahu ini. Perang mental seperti ini dulu digunakan Angel Nieto dan Valentino Rossi. Mereka sudah bisa mengalahkan rivalnya 1 detik lebih cepat hanya dari sikap mereka di paddoc. Mereka tahu siapa lawan yang berbahaya, lalu mereka akan menekan mental lawannya tersebut dan membuatnya merasa lebih rendah,” imbuhnya.
Haro kembali menyoroti adegan semprot sampanye di podium. “Kemudian Marc menyemprotkan sampanye ke telinga Ogura dan dia diam saja. Ogura seolah berkata, ‘silakan saja tapi saya tidak akan masuk ke permainan psikologismu,” tegasnya.
Kemudian Haro mengaitkan situasi tersebut dengan apa yang terjadi pada Martin ketika dia bersaing dalam perebutan gelar dunia. “Hal yang sama pernah terjadi ketika Jorge Martin sedang memperebutkan gelar dunia. Saat itu Marc menari-nari ketika dia mulai sering menang dengan Ducati, seolah mengajak Jorge ikut merayakannya. Dan Jorge tidak mau larut dalam permainan itu. Mengapa? Karena Marc adalah rivalnya,” jelasnya.
Haro menambahkan, “Marc sangat pandai melakukan ini. Ini pendapat saya. Marc terus menyemprot Ogura, tapi tidak menyemprot pembalap lain. Dan ketika Ogura diam saja dan tidak ikut bermain, itu karena dia orang Jepang. Seolah dia berkata, ‘silakan lakukan sekarang, tetapi begitu saya punya kesempatan saya akan membalasmu’.”
“Tetapi Marc tidak berhenti, dia terus menyemprotnya dengan sampanye, seolah-olah berkata, ‘ya, tapi aku akan terus melakukannya’. Ini adalah perang psikologis. Melihat cara Marc meremehkan hasil kerja Ogura, saya yakin itu semua disengaja. Itu bagian dari pekerjaan seorang pembalap,” imbuhnya.

Aprilia punya masalah serius yang harus diselesaikan. “Kita melihat bahwa Bezzecchi masih belum siap untuk memenangkan gelar dunia MotoGP. Kita juga melihat bahwa meskipun Martin sudah menjadi juara dunia 2 tahun lalu, dia tetap bisa melakukan kesalahan ketika ada tekanan. Ketika ‘serigala’ datang mengejar, dia membuat kesalahan seperti yang dia lakukan di Barcelona dan di beberapa sirkuit yang lain. Sementara Ai Ogura justru kebalikannya. Dia datang tanpa banyak sorotan,” jelas Haro.
Haro teringat obrolannya dengan Theo Martin, yang melatih Ogura di tim MSI ketika masih di Moto2. “Theo pernah bilang pada saya, ‘Oscar, awasi pembalap ini. Dia sangat profesional dan sangat bagus’. Dia selalu bekerja diam-diam di balik layar, seperti pembalap Jepang pada umumnya. Saya rasa semua yang sedang terjadi antara Marc dan Ogura, semua detail yang saya lihat, mungkin saja sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi saya melihatnya seperti itu. Karena Marc tahu bahwa lawan yang benar-benar berbahaya adalah Ogura, melihat bagaimana performa Aprilia, dan seperti apa karakter anak muda ini,” ungkapnya.
Marc Marquez Adalah Pembalap yang Tak Pernah Puas
Seberapa nyaman Marc Marquez di atas Ducati? “Menurut Davide Tardozzi motornya sudah siap, justru Marc yang belum siap. Istirahat selama 3 pekan sangat membantu Marc. Saya rasa setelah libur ini, menjelang Aragon, apalagi Aragon merupakan sirkuit yang sangat cocok untuknya, disanalah dia akan menunjukkan dominasinya. Sebenarnya dia sudah melakukannya di Sachsenring. Dia tahu bahwa Sachsenring adalah trek dimana dia berkali-kali menang bersama Honda, meskipun dia 6 kali jatuh di tahun terakhirnya bersama Honda,” jawab Haro.

Haro melanjutkan, “Kelebihan Marc adalah dia sudah sangat mengenal sirkuit ini sehingga perbedaan antar motor tidak terlalu berpengaruh baginya. Dia bisa mengganti motor hingga 3 kali hanya untuk memastikan kedua motor bekerja 100 persen tanpa kesalahan. Saat ini Marc dalam kondisi fisik dan mental yang cukup bagus untuk melakukan pekerjaan itu. Itulah pekerjaan yang selalu Marc lakukan di Honda.”
“Tapi di Ducati dia justru berhenti melakukannya. Padahal dulu kita sudah terbiasa melihat Marc beberapa kali melompat dari motor satu ke motor lain. Semua itu dilakukan demi mencari set-up terbaik agar terus berkembang. Pada akhirnya masalah terbesar Marc adalah dia orang yang tidak pernah merasa puas. Dia selalu ingin motornya lebih baik, terus berkembang, dan tidak pernah berhenti mencari peningkatan,” pungkas Oscar Haro.
Saat ini Marc Marquez berada di peringkat 3 dengan perolehan 190 poin hanya tertinggal 18 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin (Aprilia).












