RiderTua.com – Pedro Acosta berbicara secara blak-blakan terkait dampak kedatangan Marc Marquez di tim Ducati Lenovo, yang membuat performa Pecco Bagnaia loyo dan turun drastis. Rider Red Bull KTM itu menegaskan bahwa kalau kita berbagi motor, data, dan tim yang sama dengan pembalap sekelas Marquez maka tidak ada ruang untuk mencari-cari alasan jika kita kalah darinya.
Ketika dua pembalap berada dalam satu tim dengan motor, perlengkapan, dan kesempatan yang sama maka yang menentukan hasil akhir hanyalah performa masing-masing pembalap. “Tidak ada alasan. Ketika kita berada di garasi yang sama, dengan motor yang sama, sangat sulit untuk mencari pembenaran,” tegas Acosta.
Pedro Acosta Kritik Pecco Bagnaia: Tidak Ada Alasan Ketika Kita Dikalahkan Rekan Setim

Pedro Acosta menambahkan bahwa bergabungnya Marc Marquez ke Ducati pada 2025 mengubah dinamika internal tim secara drastis. Sebelum The Baby Alien datang, Pecco Bagnaia merupakan pembalap andalan Ducati yang berhasil meraih juara dunia MotoGP sebanyak 2 kali untuk pabrikan asal Borgo Panigale itu. Rider Italia itu selalu unggul dari rekan setimnya seperti Jack Miller dan Enea Bastianini. Tapi sejak Marquez datang, semuanya berubah.
Acosta mengatakan, “Ketika seseorang seperti Marc datang, semuanya naik ke level yang lebih tinggi dan tekanan juga meningkat. Orang luar tak sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tim. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi performa seorang pembalap sepanjang musim. Mulai dari rasa percaya diri hingga kemampuan beradaptasi dengan motor baru.”
“Banyak yang bilang bahwa mungkin Pecco merasa tertekan dengan kehadiran Marquez di dalam garasi. Apalagi, dia gagal mempertahankan gelar dunia melawan Jorge Martin di tahun sebelumnya. Sulit menentukan faktor mana yang paling berpengaruh, namun jelas situasi tersebut sangat berat untuk pembalap,” imbuh juara dunia Moto3 2021 dan juara dunia Moto2 2023 itu.

Acosta juga menegaskan bahwa mempertahankan status sebagai pembalap utama dalam sebuah tim bukanlah hal yang mudah. ”Tidak mudah untuk selalu menjadi nomor 1 lalu dikalahkan oleh rekan satu tim sendiri. Tidak ada alasan,” tegas rider berusia 22 tahun itu.
Banyak pengamat yang menilai bahwa sangat sulit untuk mengelola 2 pembalap papan atas dalam tim yang sama. Dan Marquez terus memperkuat posisinya sebagai tolok ukur di Ducati sekaligus menyingkirkan Pecco dari statusnya sebagai pembalap utama.
Di saat Marquez tampil sangat gemilang, Pecco justru sedang berjuang menemukan kembali performa terbaiknya. Dalam situasi seperti ini, kesalahan sekecil apapun akan disorot dan langsung dibanding-bandingkan dengan rekan setim. Bikin tambah gondok bukan???

Setelah mendominasi akhir pekan di Hungaria, Marquez naik ke peringkat 5 dalam klasemen tertinggal 81 poin dari pemimpin klasemen Marco Bezzecchi (Aprilia), sementara Pecco masih bercokol di peringkat 7.






