RiderTua.com – Halo pembaca setia RiderTua, memang model BEV menjadi solusi untuk mengurangi emisi secara signifikan. Hanya saja performa penjualannya tidak bisa dipertahankan dalam waktu cukup lama kalau insentifnya sudah tidak berlaku lagi.
Hasil Penjualan BEV Bulan Lalu Alami Penurunan
Penjualan untuk mobil listrik di pasar global turun 11 persen sepanjang Februari 2026. Tentu ini cukup mengejutkan, sebab seharusnya penjualannya tidak mengalami penurunan selama kuartal pertama tahun ini, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mungkin ada yang penasaran mengapa penjualan mobil jenis ini menurun secara global.

Penyebabnya tidak lain karena insentifnya yang tidak diberlakukan di sejumlah negara, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di China. Akibatnya, penjualan mobil BEV dan PHEV disana menurun hingga 34 persen, dan ini sudah cukup signifikan dari yang dibayangkan. Sebab seharusnya penjualannya tidak mengalami penurunan yang begitu drastis kalau melihat dari banyaknya model yang ditawarkan.
Tapi dengan insentifnya yang dihentikan, harganya kembali seperti semula dan konsumen akan mencari mobil lainnya dengan harga lebih terjangkau. Sementara itu, mobil hybrid makin banyak dicari karena harganya lebih murah dan perawatannya lebih mudah ketimbang BEV dan PHEV. Meski ini bisa tergantung dari modelnya, dan model HEV juga semakin banyak pilihannya.

Penjualan Tanpa Insentif
Mobil listrik memang sempat menjadi tren, tapi tren ini muncul karena insentif yang diberikan membuat harganya lebih terjangkau. Sementara di Indonesia, mobil jenis ini masih punya banyak peminat, dengan BYD Atto 1 yang menjadi model terlaris di pasarnya. Namun belum jelas apakah penjualannya bisa mencapai puluhan ribu unit seperti tahun lalu, karena insentifnya sudah dihentikan sejak awal tahun ini.

Sementara produsen otomotif terus menambah lini produk yang dijualnya, dengan berbagai pilihan yang disediakan. Tidak sedikit diantaranya dijual dengan harga terjangkau, tapi karena ada banyak pilihan di pasarnya, perang harga tidak bisa dihindari lagi. Walau dampak serius dari perang harga BEV ini masih belum terlihat di Indonesia, setidaknya untuk sekarang.








