RiderTua.com – Bro sekalian pembaca RiderTua, ada cerita menarik hari ini. Chicho Lorenzo merupakan salah satu sosok penting dalam dalam pengembangan pembalap Spanyol. Ayah dari legenda MotoGP Jorge Lorenzo itu mendirikan sekolah balap di sirkuit Albaida, dekat Valencia. Bukan hanya sekedar tempat latihan balap biasa, tapi bisa dibilang sekolah milik Chicho adalah ‘pabrik bakat’ pembalap di Spanyol..
Chicho Lorenzo: Kesuksesan Marc Marquez di Dunia Balap Bukan Karena Bakat, Tetapi Karena Karakter dan Ambisi
Murid-muridnya yang sukses di kejuaraan dunia antara lain Joan Mir (juara dunia MotoGP 2020 yang saat ini membalap di tim pabrikan Honda Castrol), Augusto Fernandez (sebelum menjadi tes rider Yamaha dia merupakan pembalap MotoGP usai memenangkan juara dunia Moto2 pada 2022), dan Izan Guevara (meraih juara dunia Moto3 pada 2022 dan kini membalap di Blu Cru Pramac Yamaha di Moto2).

Selain mereka, Jorge Martin (juara dunia Moto3 pada 2018 dan juara dunia MotoGP 2024 dan saat ini membalap untuk tim pabrikan Aprilia) dan Pedro Acosta (juara dunia Moto3 2021 dan juara dunia Moto3 2023 dan saat ini membalap untuk tim pabrikan KTM) juga pernah menimba ilmu di sekolah balap milik Chicho.
Pada 2007, Chicho Lorenzo mendirikan sekolah balap khusus untuk anak-anak di Mallorca Spanyol. Tak lama kemudian, dia membuat kompetisi bernama Liga Interescuelas, sebuah ajang yang mempertemukan murid dari berbagai sekolah balap yang ada di Spanyol. Dari sekitar 200 pembalap yang ikut berpartisipasi, ada 26 pembalap muda yang berhasil mencapai Kejuaraan Dunia. “Kemudian kami membuat Liga Interescuelas. Berkat kompetisi ini, 26 dari sekitar 200 pembalap mencapai Kejuaraan Dunia,” ujarnya.
Biaya latihan di sekolah milik Chicho terbilang sangat terjangkau bagi anggota klub motor. “Jika Anda anggota klub motor ini, biayanya 30 euro atau sekitar Rp 600 ribu per hari. Dibandingkan dengan negara lain seperti Italia, disana biayanya terlalu mahal. Ini artinya, para pembalap muda di Spanyol punya kesempatan besar untuk berlatih secara teratur,” inbuhnya.

Metode latihan yang diterapkan Chicho tidak hanya sekadar mengendarai motor. Latihan ini fokus pada teknik, gerakan tubuh, dan mentalitas atau karakter pembalap. “Yang pertama adalah teknik. Pembalap memiliki dua jenis gerakan yaitu tangan dan kaki untuk mengaktifkan gas, rem, dan kemudi. Kemudian gerakan tubuh. Tubuh membantu motor untuk melakukan apa yang diinginkan pembalap. Dan kemudian yang sangat penting adalah mentalitas atau karakter. Itu juga yang kami latih,” ujarnya.
Pendekatan Chicho terhadap pembalapnya bersifat individual. Setiap pembalap muda menerima bimbingan untuk mengetahui kelemahan mereka dan cara untuk memperbaikinya. “Saya bekerja di bagian teknis. Saya tidak menyukai sirkuit yang besar. Saya memberi tahu pembalap, apa kelemahan mereka dan di mana mereka perlu meningkatkannya,” kata Chicho.
Menurut Chicho, peran dan dukungan keluarga terutama ayah sangat penting. “Peran ayah sangat penting, sangat krusial. Kepercayaan dari ayah dan keluarga sangat diperlukan. Tanpa itu, pekerjaan ini tidak dapat dilakukan. Filosofi ini bisa dilihat dalam karier pembalap seperti Jorge Martin, Maverick Vinales, dan Marc Marquez. Kepercayaan diri adalah fondasi kuat untuk mencapai level tertinggi,” jelasnya.

Chicho Lorenzo menyoroti satu pembalap muda yang punya kemampuan yang luar biasa. “Romano Fenati adalah pembalap paling berbakat dalam 25 tahun terakhir. Namun bakat saja tidak cukup, bakat harus diiringi oleh mentalitas dan disiplin yang tepat. Jika tidak punya bakat yang luar biasa, kita tidak dapat mencapai ini. Dia masih berusia 16 tahun. Tetapi Romano tidak memiliki mentalitas yang membantunya,” tegasnya.
Bagaimana dengan Marc Marquez? “Bukan, itu bukan bakat lebih ke karakter dan ambisi. Dia tahu bagaimana hidup untuk ini, dia hidup 24 jam sehari untuk profesinya. Dalam olahraga yang sangat kompetitif ini, 1 orang menang dan 20 orang kalah. Kita harus sangat fokus dalam hidup. Jika tidak, itu pasti gagal,” jawab Chicho.
Soal Toprak Razgatlioglu yang berasal dari Superbike, Chicho yakin bahwa proses adaptasinya ke MotoGP akan sangat sulit. “Tidak ada juara dunia Superbike yang benar-benar sukses di MotoGP. Dia sudah berusia 30 tahun dan dia datang terlambat. Seharusnya dia datang pada usia 20 atau 22 tahun,” ujarnya.

Mulai akhir tahun lalu, putranya Jorge Lorenzo berperan sebagai pelatih pribadi dari Maverick Vinales. Sebagai ayah, Chicho senang dengan hal itu. “Saya senang. Saat pensiun, dia tidak ingin tahu apa pun lagi soal balap. Sama sekali tidak! Dan bagi saya itu sangat disayangkan, karena dia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat dia sumbangkan di sini. Itu fantastis. Ini hidupnya, dunianya, dan profesinya. Saya yakin dia dapat melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ujarnya.
Menariknya, Chicho mengaku bahwa dia justru banyak belajar sari sang putra. “Saya lebih banyak belajar dari putra saya, daripada putra saya belajar dari saya. Ini memberi saya pengalaman dan pengetahuan untuk bekerja dengan anak-anak lain, dengan filosofi yang berbeda,” pungkasnya.










