RiderTua.com – Sobat pembaca setia RiderTua. Manajer tim Tech3 KTM, Nicolas Goyon langsung marah dan geram usai race utama hari Minggu GP Thailand. Dia merasa kecewa 2 pembalapnya Enea Bastianini dan Maverick Vinales selalu berada di barisan belakang sepanjang balapan akhir pekan di Buriram. Dalam sprint Bestia finis ke-17 dan Vinales ke-19, sementara dalam race utama masing-masing finis ke-12 dan 16..
Manajer Tim Tech3 KTM Marah dan Kesal: Vinales dan Bastianini Bahkan Tidak Mampu Mendekati Performa Acosta dan Binder di GP Thailand

Jelas ini jomplang sekali dengan hasil yang ditorehkan 2 pembalap tim pabrikan Red Bull KTM Pedro Acosta dan Brad Binder. Acosta menang dalam sprint dan Binder finis ke-6, dan dalam race utama Acosta finis ke-2 dan Binder ke-7. Padahal Bastianini dan Vinales menggunakan RC16 yang sama dengan mereka berdua.
Kedua pembalap Tech3 itu tertinggal 0,8 detik dari Acosta dalam perbandingan catatan waktu lap tercepat. Akibatnya, gap antara kedua tim tersebut belum pernah selebar ini. Tim Red Bull KTM yang dipimpin Aki Ajo menempati peringkat 1 dalam klasemen tim, sementara tim Tech3 yang dipimpin Nicolas Goyon hanya berada di peringkat 9.
Bahkan beberapa hari pasca balapan, Nicolas Goyon masih tampak kesal. “Langsung setelah balapan hari Minggu, saya benar-benar marah dan kesal. Tidak ada cara lain untuk menggambarkannya, jika kita tidak punya penjelasan untuk apa yang baru saja terjadi. Bahkan saya sendiri tidak bisa menjelaskan kepada Gunther Steiner (pemilik tim), mengapa motor yang sama, di satu tim berada di depan tapi di tim lain berada di belakang,” ungkap manajer asal Prancis itu.

Goyon menambahkan, “Yang pasti, seperti yang semua orang tahu, di MotoGP pembalap adalah faktor penentu. Saya memperkirakan 70 persen bergantung pada pembalap, 30 persen pada motor. Di Formula 1, mungkin kebalikannya. Di MotoGP, pembalap hebat dapat meraih hasil terbaik dengan motor yang kurang kompetitif dalam keadaan tertentu. Tapi tidak demikian di Formula 1.”
Goyon sadar bahwa saat ini timnya berada dalam sitausi yang sulit. Tim Tech3 punya basis yang sama dengan KTM tapi pembalapnya tidak mampu memaksimalkannya di GP Thailand. Padahal Vinales menjalani tes pramusim yang cukup baik di Sepang. Dan secara keseluruhan, persiapannya di musim dingin sudah sangat matang. Sungguh tak bisa dimengerti, mengapa dia ambyar selama balapan akhir pekan.
“Kami melakukan semua yang kami bisa untuk memberinya apa yang dia inginkan, tetapi kepercayaan dirinya pada motor tidak muncul. Kita hanya bisa berharap, kejadian itu hanya sekali saja. Karena pada tahap awal musim seperti ini, tim tidak boleh terlalu sering gagal mencetak poin,” tegas Goyon.

Situasi ini juga penting mengingat bursa transfer pembalap mulai memanas. Selama balapan di luar Eropa berikutnya, banyak keputusan yang akan dibuat. Meskipun Vinales sudah memenangkan 10 balapan MotoGP, namun jika dia tidak juga mampu meraih poin maka dia akan kesulitan mendapatkan kontrak yang bagus untuk 2027.
Situasi Enea Bastianini juga tak jauh beda dari Vinales. Goyon mengatakan, “Enea belum lupa cara balapan. Start dari posisi ke-20 lalu finis di posisi ke-12 adalah pencapaian fantastis tersendiri. Tapi situasinya persis sama seperti tahun lalu, hanya saja dia masih mampu finis di 10 besar pada 2025.”
“Masalah di FP1 juga sama seperti tahun lalu, sehingga sangat sulit untuk melihat kemajuan yang nyata. Tapi kami tetap positif, karena di Sepang Enea membuat kami terkesan dengan sikap dan penampilannya di lintasan. Kami akan melakukan segalanya bersama-sama untuk tampil lebih baik di Brasil,” pungkas Nicolas Goyon merujuk pada seri berikutnya GP Brasil yang akan digelar pada 20-22 Maret mendatang di sirkuit Ayrton Senna.








