RiderTua.com – RiderTua readers, ada update penting dari berbagai sumber. Carlos Ezpeleta ikut menyoroti bursa transfer pembalap yang sudah mulai panas bahkan sebelum musim 2026 dimulai. Satu-satunya kesepakatan yang sudah resmi diumumkan sebelum musim berjalan adalah perpanjangan kontrak Marco Bezzecchi dengan Aprilia untuk 2027 dan 2028 yang resmi diumumkan saat tes pramusim di Sepang.
Negosiasi dan manuver di balik layar sudah banyak dilakukan baik dari pihak pembalap maupun pabrikan atau tim. Kegelisahan ini cukup bisa dimengerti. Sebab setelah musim 2026, MotoGP akan mengalami perubahan besar dimana aturan yang baru mulai diterapkan pada 2027 dan sebagian besar kontrak pembalap juga habis akhir tahun ini.
Tapi ada satu ayng tidak akan berubah yakni hanya ada 5 pabrikan, 11 tim, dan 22 pembalap reguler di MotoGP. Menurut promotor MotoGP, formula ini diharapkan tetap dipertahankan setidaknya hingga 2031. Oleh karena itu dinamika antara pabrikan, tim satelit, dan pembalap sebenarnya sudah bisa diprediksi.
Carlos Ezpeleta: MotoGP Butuh Sistem Transfer Resmi Pembalap? Apakah Kita Benar-benar Punya Masalah dengan Itu?

Saat ini semua pihak sedang berlomba-lomba mengamankan kesepakatan terbaik sebelum bursa transfer benar-benar ditutup. Kemungkinan besar Fabio Quartararo menjadi pembalap pertama yang akan mengumumkan kepindahannya dari Yamaha ke Honda. Meski RC231V 2026 belum ada bukti akan kompetitif pada 2027, namun El Diablo tetap optimis dengan proyek pabrikan berlogo sayap emas itu.
Keputusan Quartararo akan memicu reaksi berantai. Jorge Martin dirumorkan akan meninggalkan Aprilia dan berniat menggantikan posisi Rider Prancis itu di tim pabrikan Yamaha. Pertanyaannya, apakah Martinator mampu memimpin proyek pengembangan Yamaha M1 V4 yang di awal musim 2026 masih belum menunjukkan performa terbaiknya? Apakah dia mampu bersabar dengan motor yang belum kompetitif?
Kepindahan Martin membuat Aprilia bereaksi dengan merayu Pecco Bagnaia untuk diduetkan dengan sahabatnya Marco Bezzecchi. Dan pihak Ducati juga dikabarkan sudah bernegosiasi untuk mendapatkan Pedro Acosta untuk menggantikan Pecco.

Namun pada akhirnya, ini semua tentang kepentingan strategis jangka panjang pabrikan, perencanaan karier pembalap, dan anggaran tim yang sangat bervariasi. Seperti diketahui, gaji pokok pembalap mulai dari beberapa ratus ribu euro hingga puluhan juta euro untuk pembalap seperti Marc Marquez atau Fabio Quartararo.
Salah satu cara untuk mengendalikan dinamika transfer yang terlalu cepat dan perbedaan gaji yang tidak proporsional alias jomplang adalah dengan sistem transfer resmi seperti yang diterapkan di olahraga profesional lainnya. Dalam sistem tersebut biasa sudah mencakup periode resmi negosiasi kontrak, batsa waktu transfer, dan gaji minimum. Jika sistem seperti ini diterapkan di MotoGP, maka ‘ledakan’ transfer di MotoGP tidak akan terlalu liar seperti saat ini.
Pertanyaannya, apakah masuk akal untuk menerapkan sistem ini di MotoGP sebagai bagian dari perubahan besar untuk 2027? Selaku Direktur Olahraga MotoGP Carlos Ezpeleta menjawab, “Apakah kita benar-benar punya masalah? Saya rasa itulah yang harus kita pahami terlebih dahulu. Saat ini, belum ada konsensus yang jelas mengenai hal ini.”

Dengan lebih detail, Carlos menjelaskan, “Kami pernah membahas masalah ini dan membuat proposal, tentang bagaimana cara agar pasar transfer punya aturan yang jelas dan periode waktu yang tetap. Namun faktanya, hal itu cukup rumit. MotoGP bukanlah sistem yang benar-benar tertutup, karena perpindahan tidak hanya terjadi di kelas utama saja namun juga berkaitan dengan kelas Moto3 dan Moto2 serta Superbike yang juga berperan dalam transfer.”
“Jelas, tim dan pabrikan sudah mulai memikirkan untuk menemukan semacam sistem. Tetapi seperti yang saya katakan, pendapat mereka masih terpecah. Apakah perlu diatur atau tidak, dan apakah saat ini memang ada masalah. Selain itu, di cabang motorsport lain juga belum ada perkembangan menuju sistem sepetti ini.”
“Kita tidak boleh lupa bahwa fokus utama MotoGP bukanlah bursa transfer pembalap. Bagi kami, ini tentang memanfaatkan seluruh platform sebaik mungkin. Terlepas dari bursa transfer pembalap, peraturan teknis baru, kalender balapan, dan semua elemen lainnya, bagi kami musim ini punya nilai yang sama atau bahkan lebih besar dibandingkan musim lainnya.”

“Ya, kami sebagai penyelenggara tidak dapat sepenuhnya mengabaikan aktivitas transfer pembalap dengan semua rumor dan spekulasinya. Secara umum, sebenarnya memungkinkan saja untuk mengembangkan sebuah sistem bursa transfer yang lebih terstruktur,” pungkas putra CEO Dorna Carmelo Ezpeleta itu.










