Johann Zarco: Ducati Melakukan Terlalu Banyak Pekerjaan Dibanding Pabrikan Jepang

RiderTua.com – Johann Zarco: Ducati melakukan terlalu banyak pekerjaan dibanding pabrikan Jepang… Pada balapan pembuka musim MotoGP di Qatar, dengan menunggangi Desmosedici GP21 Enea Bastianini (Gresini-Ducati) berhasil merayakan kemenangan pertama di kelas utama. Di sisi lain, sejak awal balapan, rekan-rekannya yang menunggangi GP22 baru malah mengalami kesulitan. Sebelum balapan di Mandalika, Johann Zarco berbicara tentang keseimbangan yang sulit antara ‘gaya Yamaha’ dan inovasi Ducati.

Johann Zarco: Ducati Melakukan Terlalu Banyak Pekerjaan Dibanding Pabrikan Jepang

Ketika Zarco ditanya, apa masalahnya? Pembalap asal Prancis itu menjawab, “Itu pertanyaan yang bagus. Saya tidak tahu, mungkin keseluruhan sistem tidak bekerja dengan sempurna. Ducati begitu kuat di awal tahun lalu karena kami unggul dengan strategi yang berbeda saat start. Kemudian pabrikan lain meningkat, terutama di paruh kedua musim, pembalap lain juga start dengan sangat kuat.”

“Hal ini membuat lebih sulit untuk benar-benar mengambil keuntungan. Dan ketika kita mencoba untuk menemukan keuntungan yang lebih besar, terkadang kita malah mundur selangkah. Itulah yang terjadi dalam kasus saya. Performa mumpuni, tetapi perlu lebih konsisten untuk membuatnya start dengan baik setiap saat.”

Sebelum GP Indonesia di Mandalika, pembalap berusia 31 tahun itu mengaku, “Saya bisa start dengan sangat cepat, tetapi saya hanya berhasil 2 dalam 10 upaya. Jika saya ikut balapan dengan 2 dari 10 ini, risikonya besar dan hasilnya tidak akan bagus. Saya mencoba menyesuaikan diri selama beberapa bulan, tetapi saya tidak konsisten. Saya kehilangan banyak waktu di sana, tapi itu juga bukan ‘drama’ besar. Selain itu, semuanya cukup terkendali.”

“Saya akan menghadapi balapan akhir pekan dengan cukup santai dan tenang, karena saya tahu di sebagian besar area kami bisa lebih baik. Saya sedang menyesuaikan gaya balap saya dan kami akan menggunakan strategi yang berbeda untuk start sehingga saya dapat menemukan jalan terbaik,” kata Juara Dunia Moto2 dua kali itu.

BTW, dengan 8 poin yang dikumpulkan Zarco di Qatar setelah finis di tempat ke-8 , dia meningkatkan penghitungannya menjadi total 620 poin sejak debutnya di MotoGP pada tahun 2017. Dia sekarang menjadi pembalap Prancis dengan poin Kejuaraan Dunia terbanyak di MotoGP di depan Christian Sarron (616,5 poin) dan Fabio Quartararo (604 poin). Dengan total 2001,5 poin, Zarco menjadi pembalap Prancis pertama dalam sejarah GP yang memecahkan rekor 2000 poin.

Zarco mengatakan, “Balapan di Qatar cukup menarik dalam hal kecepatan. Saya bekerja pada pendekatan yang berbeda untuk menjadi lebih kuat selama akhir pekan, terutama pada hari Minggu. Saya melakukan pekerjaan yang sangat baik pada hari Sabtu. Hari Jumat juga baik-baik saja, saya hanya kehilangan terlalu banyak waktu. Tetap saja, kecepatan saya tidak cukup baik untuk meraih podium dan Ducati tidak sekuat tahun lalu.”

Beberapa Masalah

“Kami memiliki beberapa masalah yang tidak dapat kami selesaikan selama akhir pekan. Kami mengerjakannya, tetapi dalam balapan itu menjadi jelas bahwa kami tidak cukup siap untuk meraih podium, meskipun Enea memenangkan balapan dengan Ducati. Paket baru kami, yang tidak saya keluhkan karena saya merasa cukup bagus, belum terlalu cepat. Saya membawa semua informasi ini dan itulah sebabnya sekarang saya merasa baik-baik saja. Saya benar-benar percaya pada pekerjaan yang akan saya lakukan dan peningkatan yang ingin saya ciptakan. Saya akan menjangkaunya, tetapi saya tidak menempatkan diri saya di bawah tekanan apa pun,” imbuh rekan setim Jorge Martin itu.

Ketika ditanya tentang kritikan pembalap pabrikan Pecco Bagnaia terhadap pendekatan Ducati (saya bukan tes rider), Zarco mengatakan, “Sulit, itulah pekerjaan berat seorang pembalap pabrikan. Sebagai tim Pramac, kami juga memiliki banyak hal untuk diuji karena kami mendapatkan dukungan pabrik. Tetapi ketika kita adalah bagian dari merek seperti Ducati, kami tahu kami dapat mencoba banyak hal. Mungkin lebih dari apa yang dilakukan pabrikan Jepang.”

“Ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, tampaknya kita memiliki keuntungan dan mengendarai ombak. Tetapi ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik, maka kita mulai berpikir mungkin kita melakukan terlalu banyak dan jika kita harus lebih berpegang pada apa yang kita lakukan, itu baik. Tapi ketika kita melakukannya, kita melakukannya dengan gaya Yamaha, tapi mungkin mereka tidak melakukannya dengan cukup pada mesin. Ini selalu tentang keseimbangan itu.”

“Tentu, jika kami melakoni lebih banyak tes, kami akan memiliki lebih banyak waktu dan kami dapat mengatakan, ‘Oke, sekarang kami akan melakoni 3 hari hanya untuk persiapan’. Tapi kami hanya punya waktu 2 hari di Malaysia dan 3 hari di Mandalika, meski 3 hari di sini berakhir seperti hari uji coba karena kami menghabiskan 2 hari untuk membersihkan trek. Itu membuatnya sulit untuk menghadapi situasi ini,” pungkas Johann Zarco.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives