Rossi, Marquez, Quartararo: ‘Neraka’ bagi Team-Mate

1

RiderTua.com – Rekan setim dengan motor yang sama persis sebenarnya adalah lawan terkuat setiap pembalap. Lawan pertama selalu rekan satu tim. Itu mungkin klise, tapi seperti kebanyakan itu benar dalam kejuaraan MotoGP. Di tingkat Kejuaraan Dunia tidak ada ruang untuk persahabatan bagi pembalap paling sukses. Meski mereka bisa menjalin persahabatan di luar trek, namun rekan setim adalah neraka bagi setiap pembalap. Apalagi jika ada salah satu rider ada yang lebih diperhatikan pabrikan. Ada banyak nama seperti: Phil Read, Barry Sheene, Wayne Rainey, Mick Doohan, Valentino Rossi, Marc Marquez dan Fabio Quartararo. El Diablo sejatinya akan menciptakan ‘neraka’ bagi Vinales dua tahun kedepan, namun akhirnya Vinales memilih mundur, meskipun alasan utamanya bukan masalah rekan setim, karena kemungkinan besar arah pengembangan M1 akan selaras dengan gaya balap Quartararo..

Rossi, Marquez, Quartararo: Neraka bagi Rekan Setim

Rekan setimnya yang kalah akan lelah secara mental. Dihina, diabaikan, dipermalukan, dan dipinggirkan. Jika dilakukan dengan benar, rekan tim tersebut akan ‘dikalahkan’ sebelum balapan dimulai. Dalam sejarah balap, ada banyak pembalap yang pantas mendapatkan gelar ‘rekan dari neraka’. Ada Phil Read, di MV Agusta, Read kemudian merongrong legenda balap Giacomo Agostini dengan sukses sehingga ‘Ago’ terpaksa tersingkir. Tetapi pembalap asal Italia itu berhasil membalasnya ketika dia memimpin Yamaha meraih gelar 500cc pertama pada tahun 1975, di depan MV Agusta dari Read.

Sementara itu, Barry Sheene merongrong sejumlah calon pembalap di Suzuki. Kecerdasan, pesona, dan pengaruhnya pada media membuatnya mudah untuk menang secara personal. Dengan karakter yang kuat dan perhatian yang tak henti, dia mengamankan motor terbaik untuk dirinya dari tahun ke tahun.

Wayne Rainey, korban terbesarnya adalah John Kocinski, yang menjadi rekan setimnya di Yamaha sebagai juara dunia 250cc pada tahun 1991. Wayne mulai dari awal untuk merusak setiap langkah yang dia ambil dan dia berhasil melakukannya.

Mick Doohan memastikan rekan setimnya di Honda tidak berkutik. Meski tidak mencolok karena juara dunia 5 kali itu memiliki bakat yang cukup. Tidak perlu berusaha keras mengalahkan rekan setimnya.. Namun dia tidak pernah memaafkan Alex Criville karena merebut hampir dua kemenangan darinya pada tahun 1996.

Valentino Rossi yang seperti Sheene, memanfaatkan pesona dan kedekatannya dengan media, dengan ahli menghancurkan serangkaian rival di motor lain, terutama Sete Gibernau dan Max Biaggi. Sebagai perbandingan, rekan satu timnya adalah mangsa yang mudah sampai Jorge Lorenzo datang. Terjadi rivalitas sengit karena mereka memakai ban dengan merek yang berbeda (Michelin vs Bridgestone). Akhirnya Lorenzo bisa tertawa. Rossi melarikan diri ke Ducati.

Fabio Quartararo, meskipun sedikit mempengaruhi keputusan Vinales pergi dari Yamaha.. Secara mental pengembangan akan selarans dengan El Diablo.. Dan Vinales bisa mendga dia akan terpinggirkan juga pada akhirnya dalam pengembangan..

Sekarang Pol Espargaro yang diam-diam dijepit ke sudut oleh Marquez di setiap kesempatan. Informasi yang enggan dibagikan, ditambah pengaruh juara dunia 8 kali di Honda, yang memastikan Marc memiliki pilihan pertama untuk motor yang lebih baik di Honda.. Pol akan menikmati panasnya garasi Honda…

1 COMMENT

Leave a Reply