Bos Ducati Cukup Puas dengan Hasil dari Tiga Balapan

0

RiderTua.com – Bos Ducati cukup puas dengan hasil dari tiga balapan… Ducati mengawali MotoGP musim 2021 dengan cukup baik. Tim The Red berhasil merebut 5 kali podium, 2 kali pole position, dan dua ridernya berada di antara 4 teratas di Kejuaraan Dunia. Francesco ‘Pecco’ Bagnaia berhasil naik podium, setelah finis di tempat ke-3 di GP Qatar 1 dan finis ke-2 di GP Portugal. Johann Zarco 2 kali finis di tempat ke-2 di Qatar dan Jorge Martin finis ke-3 di GP Qatar-2. Ducati juga berhasil 2 kali menjadi pole position yakni Pecco di GP Qatar-1 dan Martin di GP Qatar-2. Sementara itu, dalam klasemen Kejuaraan Dunia, Pecco bertengger di peringkat 2 dengan 46 poin dan Zarco di peringkat ke-4 dengan 40 poin.

Bos Ducati Cukup Puas dengan Hasil dari Tiga Balapan

Tapi Ducati Corse selalu dibayangi Yamaha. Hingga balapan ketiga musim 2021, sejauh ini mereka belum meraih kemenangan satu pun. Belum lagi, mereka harus menggantikan Jorge Martin yang cedera parah (7 patah tulang di Portimao) hingga GP Mugello pada akhir Mei nanti.

Sementara itu, Jack Miller yang mulai pertama digadang-gadang sebagai pemimpin skuat The Red, hanya mampu menempati peringkat ke-12 di Kejuaraan Dunia dengan mengantongi 14 poin setelah dua kali finis di tempat ke-9.

Ducati juga gagal mencetak hattrick di Qatar (Dovi menang di sana pada 2018 dan 2019, balapan dibatalkan pada 2020). Kendati demikian, Zarco kembali dari sirkuit Losail sebagai pemimpin Kejuaraan Dunia (sebelum dikudeta Fabio Quartararo). Setelah tiga balapan, Ducati menempati posisi 2 (Bagnaia) dan 4 (Zarco) di kejuaraan pembalap. Dalam kejuaraan dunia merek, Ducati terpaut 15 poin dari Yamaha (75) yakni dengan 60 poin.

Paolo Ciabatti selaku Direktur Olahraga Ducati, dapat melihat kembali keseimbangan sementara yang cukup terhormat. Terutama karena Suzuki, Honda dan KTM terus terkendali. Sementara saingan berat mereka asal Italia Aprilia, sejauh ini juga tidak menimbulkan ancaman serius. Selain itu, tiga rookie-nya Enea Bastianini, Luca Marini, dan Jorge Martin bersaing memperebutkan penghargaan Rookie-of-the-Year melawan Lorenzo Savadori (Aprilia).

Dalam sebuah wawancara, Paolo Ciabatti mengatakan, “Tentu saja kami harus puas. Karena kami meraih dua kali pole position. Kami belum mencapai waktu terbaik di kualifikasi dengan Zarco sejak GP Brno 2020. Pembalap kami telah mencatatkan beberapa hal penting di 2021. Misalnya Bagnaia, yang mampu memastikan ‘lap terbaik’ di Sirkuit Losail pada Grand Prix pertama di Q2. Selain itu, kami memiliki dua pembalap yang naik podium di kedua balapan di Qatar.”

“Satu lagi di Portugal, dan kami juga memiliki posisi yang menjanjikan di kejuaraan. Jadi, sejauh ini keseimbangannya positif. Tetapi jika Anda bertanya kepada saya, ‘Apakah Anda ingin memenangkan balapan?’ Jelas saya akan menjawab dengan mantap ‘ya’.”

“Kami memiliki peluang untuk menang di kedua balapan di Qatar. Namun dalam jarak balapan, Vinales dan Quartararo berada dalam kondisi yang lebih baik di bagian terakhir balapan, jadi mereka yang menang. Selamat untuk mereka. Tetap saja, kita tidak perlu bersembunyi. Misalnya, Jorge Martin memimpin balapan kedua sebagai rookie selama 18 lap di Qatar. Itu sangat luar biasa,” imbuh sang bos.

Namun Martin yang merupakan Juara Dunia Moto3 2018 di Gresini Honda itu, mengalami cedera sangat parah saat crash horor pada hari Sabtu di FP3 di Portugal.

Sementara Pecco Bagnaia dipindahkan dari posisi pertama ke posisi ke-11 di grid, karena dia tidak mematikan gas di Q2 ketika bendera kuning dilambaikan. Hal itu membuat pembalap pabrikan Ducati dan juara dunia Moto2 2018 itu kehilangan kesempatan untuk menang.

Pramac Raih Kesuksesan

Duo Pramac bersama Zarco dan Martin berhasil memimpin Kejuaraan Dunia, satu kali pole position dan tiga kali naik podium pada tahun 2021. Sementara Jack Miller di tim pabrikan Lenovo, sejauh ini belum banyak meraih prestasi. Setelah dua kali finis di tempat ke-9 dan crash di balapan ketiga, dia hanya berada di urutan ke-12 di Kejuaraan Dunia.

Namun Paolo Ciabatti menegaskan, bahwa di Ducati Corse tidak ada kecemburuan antara skuat Lenovo dan Pramac. Tak mengherankan memang, mengingat Tim Pramac milik Paolo Campinoti sudah tampil dengan motor Desmosedici sejak 2005. Jadi saat ini, mereka menjadi tim satelit paling setia di kelas MotoGP, karena LCR baru tampil bersama Honda pada 2006.

Ciabatti melanjutkan, “Kesuksesan Pramac bukanlah masalah kecil bagi kami. Kita tahu seberapa dekat Ducati dan Pramac bekerja sama. Ducati menangani semua manajemen teknis di Pramac. Dan motornya benar-benar identik. Kami menganggap Pramac sebagai tim kedua kami. Kerja sama tidak bisa lebih dekat dari ini. Itu sebabnya kami sangat senang dengan kesuksesan yang diraih Pramac.”

“Jack mulai mengalami masalah dengan ‘arm pump’ di akhir balapan pertama. Dia kesulitan, dia mati rasa di jari-jari tangan kanannya, jadi dia tidak bisa mengatur waktu yang konsisten di paruh kedua balapan. Dia pikir, jika dia bisa sedikit lebih santai di balapan kedua, masalahnya akan berkurang. Tapi sakitnya malah semakin parah.”

“Jadi kami memutuskan, 2 hari lagi Jack akan menjalani operasi. Karena kejuaraan ini akan berlangsung lama. Pecco bisa saja naik podium pada balapan kedua di Qatar, jika saja dia tidak melakukan kesalahan di akhir balapan kandang secara langsung. Saat Ducati berada di posisi terdepan atau memimpin Kejauraan Piala, kami senang. Tidak peduli dari tim mana pembalap ini berasal,” pungkas bos asal Italia itu.

Leave a Reply