RiderTua.com – Audi membuka kemungkinan untuk melepas sebagian saham tim Formula 1 di masa depan. Namun, langkah tersebut bukan sekadar soal mencari tambahan dana. CEO Audi, Gernot Döllner, sudah menetapkan batas yang jelas: calon mitra boleh masuk, tetapi kendali tim tidak akan dilepas.
Saat ini pabrikan Empat Cincin itu memiliki 70 persen saham tim, sementara 30 persen lainnya dimiliki QIA. Struktur tersebut menjadi dasar bagi kemungkinan masuknya investor tambahan apabila Audi nantinya memutuskan untuk menjual sebagian sahamnya.
Minat dari investor disebut sangat besar. Meski demikian, Döllner menegaskan raksasa Otomotif Jerman itu tidak berada dalam posisi yang harus terburu-buru mengambil keputusan.
▶Daftar Isi
Audi masih menjalankan rencana jangka panjang
Di balik pembicaraan mengenai saham, proyek F1 Audi sendiri disebut masih berjalan sesuai rencana. Pengelola tim sebelumnya menetapkan dua tahun pertama sebagai periode untuk belajar dan memantapkan diri. Setelah itu, Skuad Jerman itu ingin menaiki tangga peta kekuatan Formula 1 secara bertahap.
Target berikutnya mulai mengarah pada hasil yang lebih konkret. Döllner menargetkan satu atau dua podium mulai 2028, sebelum tahap akhir rencana mereka adalah bertarung memperebutkan gelar juara dunia mulai 2030.
Döllner menyebut perjalanan tersebut dengan istilah pemasaran “Challenger, Competitor, dan Fighting for Championship.”
Menurutnya, Tim Pabrikan Jerman itu saat ini masih berada di jalur yang benar. Perkembangan dasarnya sesuai dengan arah yang sudah ditetapkan, meski tim juga akan menghadapi beberapa kemunduran.
Kemunduran tersebut bahkan sudah dirasakan pada musim ini. Namun, bagi Döllner, yang paling penting adalah gambaran besar dari target tetap berdiri dan tim terus mengikuti jalur yang telah dibuat.

Krisis VW tidak mengubah proyek F1 Audi
Kondisi sulit yang sedang dihadapi Volkswagen, termasuk penutupan pabrik dan pengurangan tenaga kerja, juga disebut tidak memengaruhi proyek Formula 1 ‘The Four Rings’ itu.
Pabrikan Jerman itu justru memiliki target agar proyek tersebut bisa menghasilkan uang dalam jangka menengah. Sebelum mencapai titik itu, kebutuhan dana untuk mengejar target ambisius tetap akan disediakan.
Döllner menegaskan bahwa dengan susunan yang telah dipilih, posisi Pabrikan Empat Cincin solid dan rencana yang ada akan terus dijalankan tanpa perubahan.
Karena itu, proyek F1 tidak dipertanyakan meski terjadi krisis di dalam grup perusahaan.
Pada saat yang sama, secara teori Raksasa Otomotif Jerman itu memang memiliki opsi untuk menjual sebagian saham tambahan. Dana dari langkah tersebut dapat digunakan untuk menutup kebutuhan finansial tim.
QIA sudah menjadi bagian dari struktur tim
Kesepakatan awal dengan QIA (Qatar Investment Authority) telah diselesaikan pada awal 2025. Dana kekayaan negara Qatar tersebut mengambil sekitar sepertiga saham tim, meski pabrikan otomotif Jerman itu tidak pernah mengonfirmasi secara resmi besaran transaksi tersebut. Pendapatan dari penjualan saham itu digunakan untuk investasi penting pada infrastruktur di Hinwil.
Kini, ketika kemungkinan investor tambahan kembali dibicarakan, Döllner tidak ingin menutup opsi tersebut. Kepada auto motor und sport, ia menjelaskan bahwa struktur dengan pabrikan Otomotif Jerman itu sebagai pemegang saham mayoritas dan partisipasi Qatar memungkinkan langkah serupa dilakukan kembali.
Namun, jika keputusan tersebut benar-benar diambil, prosesnya harus dilakukan secara terstruktur dengan persiapan waktu yang memadai.

Investor boleh masuk, kendali tidak boleh lepas
Di sinilah syarat Döllner menjadi bagian penting dari rencana pabrikan berlogo ‘The Four Rings’ itu. Menurutnya, ada aturan yang jelas bagi mitra baru yang mungkin masuk. Raksasa Otomotif Jerman itu tidak akan menyerahkan kendali tim dalam kondisi apa pun.
Döllner menilai terlalu banyak pihak yang terlibat justru dapat merusak proses pengambilan keputusan. F1 membutuhkan kepemimpinan yang cepat dan tegas, bukan sistem di mana setiap langkah harus dikoordinasikan dengan seluruh pemegang saham.
Karena itu, mitra baru harus memberikan kepercayaan kepada Audi untuk menentukan tim manajemen yang menjalankan operasi balap.
Dibutuhkan satu kepemimpinan yang dapat mengambil keputusan tanpa harus meminta persetujuan seluruh pemegang saham untuk setiap langkah.
Binotto mendapat kepercayaan penuh
Prinsip tersebut juga berkaitan dengan cara pabrikan yang bermarkas di Neuburg-Hinwil itu ingin menjalankan tim F1 secara lincah dan mandiri. Döllner memberikan kepercayaan penuh kepada pemimpin proyek sekaligus Team Principal, Mattia Binotto.
Ia bahkan mengingat pengalaman masa lalu ketika sebuah tim motorsport harus menjelaskan hasil balapan kepada jajaran direksi pada rapat hari Senin. Bagi Döllner, proses semacam itu tidak memberikan manfaat selain membuang waktu.
Karena itu, pola tersebut bukan bagian dari prinsip kepemimpinannya di Audi. Peluang penjualan saham tambahan dengan demikian tetap terbuka. Namun, jika investor baru benar-benar masuk, Audi ingin memastikan struktur kepemimpinan tetap jelas dan kendali operasional tidak terpecah.
Bagi proyek yang menargetkan podium mulai 2028 dan persaingan gelar dunia pada 2030, struktur tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan yang sejak awal sudah dirancang oleh Skuad Jerman itu.













