RiderTua.com – Biasanya Daihatsu Sigra yang selalu memimpin penjualan di pasar LCGC Indonesia tiap tahunnya. Tapi sekarang penjualannya disalip oleh kembarannya sendiri, termasuk rival beratnya dari Honda, dimana keduanya terjual lebih dari 8 ribu unit hingga bulan lalu, itupun dari satu varian saja.
Calya Varian Ini yang Paling Laku di Pasarnya
Belakangan ini segmen mobil LCGC masih belum mencetak hasil penjualan cukup tinggi dengan penurunan yang masih terjadi sampai sekarang. Memang cukup sulit bagi produsen mobil di Indonesia untuk meningkatkan penjualannya ini kalau mobil listrik murah makin banyak jumlahnya. Jelas ini membuat penjualan di segmen LCGC terganggu, walau ada juga faktor lainnya seperti harganya yang terus merangkak akibat ditiadakannya insentif.

Soal mobil terlaris, biasanya Daihatsu Sigra yang menjadi model terlaris tiap tahunnya, dan performa penjualannya juga cukup bagus. Walau terkadang Honda Brio Satya juga bisa merebut posisi teratas darinya, tapi ini hanya bertahan sementara sebelum Daihatsu kembali mendominasi di pasarnya. Namun kalau melihat dari total penjualan mobil LCGC hingga bulan Mei 2026 berdasarkan variannya justru membuktikan sebaliknya, karena varian Toyota Calya ini yang paling laris.
Mungkin ada yang nggak percaya dengan hasil ini, sebab biasanya Calya selalu berada di bawah Sigra dan Brio Satya. Tapi penjualannya dari bulan Januari hingga Mei 2026 sudah tembus 8.828 unit, itupun hasilnya ini didapat dari varian bermesin 1.200 cc G M/T. Meskipun begitu, hasil tersebut sudah membuatnya unggul tipis dari Brio Satya varian E CVT yang terjual 8.732 unit, selisih sekitar 100 unit.

Harga Beda Jauh
Kalau melihat dari harganya, Calya 1.2 G M/T ternyata dibanderol lebih terjangkau ketimbang Brio Satya E CVT. Sebagai perbandingan, mobil LCGC Toyota ini dibanderol Rp 178,8 juta, sedangkan varian Brio Satya dijual dengan harga Rp 206,7 juta, lebih mahal Rp 32 jutaan dari Calya. Tapi sepertinya harganya yang tembus Rp 200 jutaan ini tidak membuat konsumen mengurungkan niatnya untuk mendapatkan LCGC dari Honda tersebut.
Meski harganya tembus Rp 200 juta, sepertinya Brio Satya varian ini masih punya banyak peminat di segmennya sampai sekarang. Jelas sebagai satu-satunya model yang melawan dominasi Toyota dan Daihatsu di segmen LCGC, Brio Satya bisa menjadi pilihan bagus bagi konsumen yang bosan dengan pilihan yang itu-itu saja. Memang karena pilihan di segmen ini hanya terbatas pada lima model, itupun empat diantaranya berupa produknya Toyota dan Daihatsu.

Penjualan Masih Menurun?
Meski dengan hasil yang cukup bagus ini, segmen mobil LCGC masih mengalami penurunan penjualan, dimana hanya ada 48.754 unit saja yang terjual dari bulan Januari sampai Mei 2026. Hasil ini menurun 17 persen dari tahun lalu di periode yang sama dengan hasil mencapai 58.506 unit. Ini untuk penjualan retail, sementara penjualan wholesales turun 23 persen, dari 59.737 unit menjadi 46.055 unit, dan selisih penjualannya tersebut sudah terlihat jelas.
Segmen LCGC yang dulu bukanlah yang sekarang, karena kini tren pasarnya mengarah ke mobil ramah lingkungan. Apalagi mobil listrik murah makin banyak dijual di pasarnya, meski ada juga mobil hybrid dan PHEV murah yang ditawarkan, membuat banyak orang beralih ke mobil jenis ini. Belum lagi dengan harga bensin yang meningkat, penjualan mobil secara keseluruhan juga ikut terganggu, jadi tidak hanya mobil LCGC saja.

Kalau sudah begini, produsen sudah tidak bisa berbuat apapun, terlebih segmennya tidak seperti dulu dimana ada banyak pilihan yang ditawarkan. Kini hanya tersisa lima mobil LCGC yang ditawarkan tiga merek mobil berbeda, dengan Brio Satya yang melawan Sigra-Calya dan Agya-Ayla sendirian. Tapi performa penjualannya sejauh ini masih bisa membendung lawannya di segmennya.
Mobil murah jelas menjadi jenis mobil yang paling laku di Indonesia, namun mobil ramah lingkungan kini yang paling banyak dicari.






