RiderTua.com – Menurut Carlos Checa, WSBK punya filosofi dan karakter unik yang masih mempertahankan kedekatan antara pembalap dan penggemar yang sulit ditemukan di MotoGP. Mantan pembalap itu menegaskan bahwa saat ini Superbike sudah menunjukkan level yang cukup tinggi. Meskipun motor Superbike punya keterbatasan secara teknis, namun perbedaan performa dengan motor MotoGP tidak terlalu jauh.
Tradisi di Superbike memungkinkan pembalap menjadi lebih dekat dengan para penggemar dibandingkan dengan MotoGP. “Itu mungkin karena jumlah penontonnya lebih sedikit. Jika pengunjungnya lebih banyak, paddock tidak akan cukup untuk menampung semua orang. Tapi saya rasa pendekatan ini sangat bagus. Memang jika jumlah penonton meningkat drastis, aksesnya mungkin akan lebih dibatasi. Tapi ini adalah pendekatan dan filosofi yang sangat berbeda dari MotoGP,” jelas mantan pembalap yang saat ini berusia 53 tahun itu.
▶Daftar Isi
Carlos Checa: Catatan Waktu di WSBK Hanya Terpaut 1 Detik dari Lap Terbaik Marc Marquez di Aragon, Tapi Superbike Tidak Dipromosikan Seperti MotoGP

Carlos Checa menambahkan, “Mungkin para pembalap merasa lebih nyaman dengan suasana ini. Jika saya seorang pembalap, saya akan merasa jauh lebih senang jika bisa lebih dekat dengan penggemar, tentu selama jumlah pengunjung masih dalam batas yang normal.”
“Hal baiknya adalah sekarang di WSBK ada Iker Lecuona, juga Alvaro Bautista. Albert Arenas dan Jaume Masia ada di Supersport, ada juga balapan wanita, dan sebagainya. Jadi, saya rasa ada banyak elemen menarik yang membuat kejuaraan ini semakin menarik bagi pengunjung untuk datang dan nonton balapan,” imbuhnya.
Saat ini ada upaya untuk membatasi jumlah pembalap Spanyol di MotoGP atau kelas balap yang lain. “Itu mustahil dilakukan. Pada akhirnya semua akan seperti ‘seleksi alam’. Siapa yang cepat akan bertahan, sebaliknya yang lambat akan tersingkir. Saya rasa tim tidak hanya terpaku pada satu kewarganegaraan. Mereka memilih berdasarkan bakat dan kemampuan. Jika kebetulan bakat terbaik berasal dari Spanyol, maka biarlah begitu,” ujar Checa.
Lalu Checa memberikan contoh yang cukup kontroversi. “Mereka sudah mencoba merekrut Somkiat Chantra, tapi faktanya itu adalah perekrutan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Yang direkrut harus pembalap-pembalap yang benar-benar siap. Tidak sembarang orang bisa mengendarai motor MotoGP, terutama di level mereka saat ini.”

Saat ini level Superbike sudah sangat tinggi dan hanya terpaut beberapa detik dari MotoGP. “Di Aragon, levelnya hampir sama dengan MotoGP. Jika melihat catatan waktu Bulega kemarin atau Jonathan Rea terkadang juga sangat cepat di Jerez, perbandingan selalu ada. Jelas ada persamaan dan perbedaan antara kedua kelas, tetapi jika dilihat dari catatan waktunya seringkali sangat dekat. Padahal motor Superbike lebih berat 11 kg, menggunakan cakram rem besi, dan masih punya beberapa batasan lainnya,” tegas Checa.
Mantan pembalap MotoGP dan WSBK itu menambahkan, “Pembalap WSBK hanya terpaut 1 detik dari catatan waktu terbaik Marc Marquez di Aragon, dan itu bukan selisih yang besar. Pada akhirnya semua bergantung pada regulasi, seberapa banyak kebebasan yang diberikan, dan juga bagaimana produk tersebut dipasarkan kepada publik. Jelas, Superbike tidak dipasarkan seperti MotoGP. Saat ini semua perhatian tertuju pada MotoGP. Pabrikan-pabrikan dan insinyur terbaik ada di MotoGP. Saya tidak yakin, apakah itu benar-benar baik untuk olahraga ini. Saya justru berharap motornya sedikit lebih sederhana.”
Toprak Datang ke MotoGP di Waktu yang Salah
Tahun ini ada seorang pembalap Superbike yang naik ke MotoGP yakni Toprak Razgatlioglu yang bergabung di tim Pramac Yamaha. Namun sejauh ini, juara dunia WSBK 3 kali itu tidak tampil dengan baik dan hasilnya masih mengecewakan. Apakah menurut Checa, keputusan Toprak ini terlalu berisiko pada karir balapnya?

Checa menjawab, “Mungkin saja keputusan itu bukanlah keputusan yang tepat, dan dia berani mengambil risiko yang terlalu besar. Idealnya, seharusnya dia datang tahun depan dimana ban MotoGP ganti Pirelli karena ban membuat perbedaan terbesar baginya. Selain itu, dia datang di saat Yamaha berada di titik terendah. Tidak ada yang menyangka Yamaha akan berada di level serendah ini.”
“Ketika sebuah proyek baru dimulai dari nol, akan terlalu optimis untuk berpikir bahwa proyek tersebut akan langsung berhasil dan seketika menjadi kompetitif. Ini tahun pertama Yamaha mengembangkan mesin V4. Mereka tidak mengembangkannya di Jepang, melainkan di Italia meskipun sekarang para insinyur Jepang terlibat dalam proyek tersebut.”
“Selain itu mereka juga menggunakan sasis yang memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan konsep sebelumnya. Sekarang mereka sedang membayar mahal konsekuensi dari proyek baru tersebut, mereka akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk meningkatkan kecepatannya dan untuk menempatkan semuanya ke posisi yang semestinya,” pungkas Carlos Checa merujuk pada masa kejayaan Yamaha di MotoGP yang berlangsung selama bertahun-tahun bersama pembalap andalannya Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo.







