RiderTua.com – Nicolo Bulega sukses mendominasi balapan Superbike di Magny-Cours Prancis. Setelah meraih pole position, rider Aruba.it Ducati itu memenangkan Race 1 pada hari Sabtu dan juga Race 2 pada hari Minggu meski balapan sempat dihentikan dengan red flag akibat crash yang dialami Tommy Bridewell.
“Melakukan dua kali start itu jauh lebih sulit, karena bagian tersulit dari sebuah balapan adalah saat start dan lap pembuka. Kalau kita melakukan kesalahan, balapan pun berakhir,” tegas Bulega.
Nicolo Bulega: Hanya Marc Marquez yang Bisa Balapan dengan Satu Setengah Lengan
Saat start kedua, Iker Lecuona sempat menyalip Nicolo Bulega dan memimpin balapan di lap-lap awal. Tapi seiring berjalannya balapan, rider Italia itu berhasil kembali menemukan ritme balapnya dan kemudian mengambil alih posisi terdepan dari rekan setimnya itu. Pada akhirnya, Bulega menang dengan keunggulan 5,420 detik atas Lecuona.

Bulega mengaku bahwa kunci kemenangannya adalah manajemen ban yang baik, dimana hal ini dipelajarinya dalam beberapa tahun terakhir. “Saya belajar banyak dari Alvaro Bautista dan Toprak Razgatlioglu. Sangat penting untuk tidak merusak ban, baik saat start maupun di pertengahan balapan serta memastikan ban mencapai suhu optimal setelah beberapa lap,” ungkap rider berusia 26 tahun itu.
Selain itu, Bulega juga menerapkan strategi pengendalian throttle (gas) yang sangat halus begitu balapan memasuki paruh kedua. Tapi dia juga mengakui bahwa gaya balap seperti ini terkadang membuatnya kehilangan waktu di awal. “Saat mendekati pertengahan balapan, saya selalu berusaha sangat halus dalam mengoperasikan gas demi menjaga kondisi ban belakang. Terkadang hal ini membuat saya kehilangan beberapa persepuluh detik, karena Iker selalu gas pol sepenuhnya,” jelasnya.
Pada hari Jumat, Bulega mengaku tidak puas dengan performa motornya. Kemudian dia dan timnya melakukan sejumlah perbaikan sebelum balapan. “Kami melakukan beberapa penyesuaian pada motor dibandingkan kemarin, dan performanya sedikit lebih baik. Namun, saya merasa masih ada yang kurang. Ada beberapa bagian di trek, di mana saya harus berpikir sangat keras bagaimana cara mengendarai motor,” ungkapnya.

Dengan tambahan 3 kemenangan di Magny-Cours, Bulega sekarang mengoleksi 44 kemenangan di Superbike, melampaui rekor yang ditorehkan Noriyuki Haga dalam daftar pembalap dengan kemenangan terbanyak sepanjang masa. “Sungguh luar biasa, melihat nama saya bersanding dengan pembalap hebat seperti Haga,” ujarnya.
Selain itu, Bulega kini juga membukukan 18 pole position sehingga semakin mendekati rekor legenda-legenda lain dalam sejarah WSBK. “Ini baru tahun ketiga saya di Superbike. Melihat nama saya bersanding dengan nama-nama besar, itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” imbuhnya.
Sementara itu, Bulega juga mengomentari foto yang diunggah Marc Marquez yang memperlihatkan kondisi lengan kanannya. Dia menegaskan betapa beratnya tuntutan fisik dalam balap motor profesional. “Kita tidak bisa membayangkan betapa sulitnya mengendarai motor balap. Terkadang orang bertanya, ‘mengapa Anda pergi ke gym jika yang Anda lakukan hanyalah mengendarai motor? Motorlah yang membawa Anda’. Padahal ini adalah olahraga yang benar-benar berat. Mungkin hanya Marquez yang bisa balapan dengan ‘satu setengah’ lengan,” tegasnya.

Ada beberapa orang yang membandingkan antara balap Superbike dengan Formula 1. “Tidak ada yang aneh jika Formula 1 lebih populer daripada Superbike, semua orang tahu itu. Saya berharap suatu hari nanti ajang ini bisa mencapai level yang sama dengan Formula 1. Namun saat ini, kita harus realistis dan kenyataannya belum seperti itu,” tegasnya.
Dengan 3 seri atau 9 balapan yang tersisa dan dengan selisih 146 poin dari Lecuona yang berada di peringkat 2, bisa jadi Bulega akan dinobatkan sebagai juara dunia WSBK musim ini saat balapan kandangnya di Cremona pada 25-27 September mendatang.
“Saya tidak merasa lebih santai, meski tahu saya tidak bisa memenanginya di sini (Magny-Cours). Pendekatan saya terhadap balapan akhir pekan tidak pernah berubah. Saya selalu berusaha memenangkan balapan karena bagi saya kemenangan itu sangat penting. Itulah target saya akhir pekan ini. Jika saya berhasil meraih gelar juara di Cremona, itu akan luar biasa. Karena balapan di Italia, saya orang Italia, dan saya membalap untuk Ducati,” pungkas Nicolo Bulega yang tahun depan pindah ke MotoGP bersama tim VR46 Ducati milik Valentino Rossi itu.
Baca: Jadi Selama Ini Benar: Marc Marquez ‘Membalap dengan Satu Tangan’?












