RiderTua.com – Hingga tahun ini masih ada banyak merek otomotif dari luar negeri yang berdatangan ke Indonesia, dan tidak sedikit diantaranya merupakan merek asal China. Bahkan sebagian besar juga sudah menjual mobil ramah lingkungan, baik itu hybrid, listrik, maupun PHEV.
Merek China Semakin Mendominasi Pasar Roda Empat
Suzuki menjadi salah satu merek yang harus menghadapi serbuan pendatang dari luar negeri di Indonesia, dan mereka berusaha menjegal kompetitornya dengan melakukan berbagai cara. Seperti menghadirkan penyegaran untuk XL7 dan Fronx beberapa waktu lalu di GIIAS 2026, meski XL7 kebagian model facelift-nya. Tapi sepertinya ini belum cukup untuk bisa menahan gempuran model anyar di pasar roda empat, apalagi di pasar mobil ramah lingkungan.

Sejauh ini, merek mobil asal China kebanyakan menjual mobil ramah lingkungan disini, baik itu mobil hybrid, plug-in hybrid atau PHEV, maupun listrik (BEV). Kini sejumlah merek mulai menjual model EREV atau REEV yang punya jarak tempuh lebih dari 1.000 km menggunakan tenaga dari mesin bensin dan motor listrik. Ini bisa menjadi solusi bagi konsumen yang mencari mobil dengan jarak tempuh jauh tanpa harus bolak-balik mengisi bensin dan baterainya.
Belum lagi harga yang ditawarkan kebanyakan cukup terjangkau untuk mobil seperti ini, jelas merek asal Jepang maupun dari negara lain bisa tertinggal lebih jauh dari kompetitornya. Jelas ini mengkhawatirkan karena lama kelamaan merek China yang terus mendominasi pasar mobil ramah lingkungan dengan produk-produk yang ditawarkannya bertambah jumlahnya tiap tahun. Sehingga merek lainnya bisa tersingkir kalau tidak bisa melawan balik dominasi yang semakin kuat tersebut.

Harga Terlalu Mahal?
Masalahnya tidak sedikit merek luar China masih menjual mobil ramah lingkungan di Indonesia dalam bentuk CBU. Tentu tidak mengherankan kenapa harganya bisa tembus lebih dari Rp 500 juta, bahkan sampai tembus Rp 1 miliar untuk model seperti Toyota bZ4X sebelum produksi lokal. Suzuki juga termasuk di dalamnya, karena e Vitara yang dirilis tahun lalu dibanderol Rp 750 jutaan, terlalu mahal untuk mobil seperti ini.
Tapi jelas mereka tidak fokus ke satu pasar saja, dan mereka juga tetap menawarkan mobil mild hybrid atau MHEV disini. Model seperti XL7 hingga Grand Vitara sudah kebagian varian tersebut dan mencetak hasil penjualan yang cukup bagus, meski sebenarnya mobil MHEV bukan model full hybrid. Namun mobil seperti ini bisa menjadi pilihan alternatif bagi konsumen yang belum mau membeli mobil hybrid, dan harganya juga lumayan terjangkau.

Terus Dipantau
Walau Suzuki belum mau menambah model baru lainnya selain model MHEV, mereka akan terus memantau perkembangan di pasar mobil ramah lingkungan lainnya. Kalau ada potensi di pasarnya, mereka bisa saja membawa mobil selain MHEV maupun BEV ke Indonesia. Jelas ini tergantung dari permintaan dari konsumen, apakah mereka mau model PHEV atau BEV selain yang ditawarkan di lini produknya sejauh ini.
Tetap saja, kalau mereka mau modelnya laris terjual, minimal modelnya dibanderol dengan harga yang ramah di kantong. Kalau tidak, mereka tetap tidak bisa menyaingi kompetitor asal China yang menjual banyak mobil murah, bahkan menyaingi merek senegaranya sekalipun. Sebab Honda sudah mulai menjual mobil listrik murah disini melalui Super One, mski unitnya masih dibatasi untuk melihat reaksi konsumen terhadap harga resminya.

Sementara itu, Toyota membawa mobil listrik keduanya di Indonesia sejak tahun lalu melalui Urban Cruiser EV, yang sebenarnya merupakan model rebadge dari e Vitara. Namun banderolnya juga nggak jauh berbeda dengan kembarannya Suzuki tersebut, apalagi modelnya masih didatangkan langsung dari luar negeri, bukan dirakit lokal seperti bZ4X. Tidak heran mengapa modelnya hanya terjual puluhan unit sepanjang tahun lalu.
Sepertinya Suzuki masih mencari waktu yang tepat untuk menambah lebih banyak produk ramah lingkungannya disini. Apapun itu, mereka akan terus memantau perkembangan pasarnya.












