RiderTua.com – Fabio Quartararo meraih kemenangan di GP Inggris pada 2021, tahun yang sama dimana rider asal Prancis itu menjadi juara dunia MotoGP bersama Yamaha. Kemenangan tersebut merupakan kemenangan kedua terakhir bagi rider berjuluk El Diablo itu bersama M1. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti masa kejayaan memudar dan bahkan memburuk dalam 3,5 tahun terakhir.
Setelah menjadi runner-up pada 2022, peringkat Quartararo di klasemen terus merosot tajam. Pada 2023 dia hanya menempati peringkat 10, lalu ke-13 pada 2024. Dia sempat frustrasi dan berniat meninggalkan Yamaha saat itu. Namun pabrikan yang bermarkas di Iwata Jepang itu berhasil meyakinkannya dan kemudian dia menandatangi perpanjangan kontrak untuk 2 tahun yakni 2025 hingga akhir 2026. Saat itu Yamaha merayunya dengan gaji fantastis yang mencapai 12 juta Euro (nyaris Rp 248 miliar) per tahun dan menegaskan akan memberikan Quartararo M1 yang kompetitif.
Fabio Quartararo ‘Close The Door’: Tidak Ada Negosiasi Perpanjangan Kontrak dengan Yamaha

Namun sayangnya, Yamaha gagal memberikan Fabio Quartararo motor pemenang. Mereka bahkan membangun mesin V4 seperti yang dipakai pabrikan lain di MotoGP dan mulai mengembangkannya tahun lalu. Dan tahun ini, Yamaha secara resmi mempensiunkan mesin Inline dan menurunkan mesin V4 untuk berkompetisi di MotoGP. Sayang seribu sayang, Yamaha gatot alias gagal total dengan mesin V4. Musim ini keempat pembalap termasuk Quartararo hanya mampu bertarung dan finis di posisi belakang.
Sebenarnya, Quartararo selalu menunjukkan performa kuatnya di sesi kualifikasi (Q2). Bahkan di GP Inggris tahun lalu, dia meraih pole position dengan membukukan catatan waktu 1:57,233 menit, sebuah rekor yang bertahan hingga hari ini. Sayangnya, hasil balapan membuatnya kecewa. Dalam sprint, dia terus kehilangan posisinya hingga terlempar ke posisi belakang. Sementara pada race utama, kemenangan yang sudah didepan mata sirna karena motornya mengalami masalah teknis (ride height device-nya rusak). Kegagalan ini menjadi pukulan lain yang mengikis keyakinan El Diablo akan masa depannya bersama Yamaha.
Sejak saat itu, rumor Quartararo bakalan hengkang dari Yamaha terus menyeruak. Namanya kerap dikaitkan dengan tim pabrikan Honda, yang saat itu kabarnya tidak akan memperpanjang kontrak Joan Mir dan Luca Marini. Dan benar saja, setelah balapan di Jerman Honda mengumumkan perekrutan Fabio Quartararo untuk 2027 hingga akhir 2028.

Quartararo menjelaskan, “Pada musim dingin lalu, kami melakukan pembicaraan dengan beberapa tim dan kami langsung mengambil keputusan bahkan sebelum musim ini dimulai. Pada akhirnya, keputusan itu paling banyak dipengaruhi oleh potensi teknis yang dimiliki masing-masing tim. Honda mampu menjawab semua pertanyaan saya, sehingga saya optimis dengan masa depan saya. Rencana jangka panjang mereka juga meyakinkan saya.”
“Saya menghabiskan seluruh karier saya bersama Yamaha, dan saya sangat berterima kasih kepada mereka. Namun sekarang sudah saatnya untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru, baik secara teknis maupun mental. Saya juga merasa perlu mencari suasana baru,” imbuh rider berusia 27 tahun itu.
Meski memiliki beberapa opsi, Quartararo menegaskan bahwa dia sudah mencoret Yamaha dan sama sekali tidak lagi menjadi opsi untuk masa depannya. “Tidak ada negosiasi dengan Yamaha,” tegasnya di Silverstone.
Satu juara dunia pergi, juara dunia lainnya datang. Ditinggal Quartararo pergi, Yamaha justru berhasil mengamankan kontrak 2 pembalap yang saat ini menjadi pembalap di peringkat 1 dan 2 di klasemen MotoGP yakni Jorge Martin (juara dunia MotoGP 2024) dan Ai Ogura (juara dunia Moto2 2024) untuk 2027 hingga akhir 2028.












