Home MotoGP Michele Pirro Ungkap Momen Ketika Dia Menyadari Potensi Luar Biasa Marc Marquez

    Michele Pirro Ungkap Momen Ketika Dia Menyadari Potensi Luar Biasa Marc Marquez

    Michele Pirro - Marc Marquez
    Michele Pirro - Marc Marquez

    RiderTua.com – Michele Pirro pertama kali bergabung dengan Ducati pada 2012 atau tepat setelah Valentino Rossi menjalani musim yang buruk bersama pabrikan asal Borgo Panigale itu selama 2 tahun. Namun sebelumnya Ducati berhasil menjadi juara dunia pada 2007, runner-up pada 2008, dan 2 kali menempati peringkat 4 pada 2009 dan 2010 berkat Casey Stoner. Tatkala Stoner memutuskan pindah ke Honda pada 2011, saat itulah Rossi masuk ke Ducati tapi sayangnya gagal mengeluarkan kemampuan terbaik Desmosedici selama 2 tahun dan kemudian balik lagi ke Yamaha pada 2013.

    Kemudian Ducati bangkit lagi bersama Andrea Dovizioso, Pecco Bagnaia (sukses mempersembahkan 2 gelar dunia), dan sekarang Marc Marquez yang mengantarkan mereka meraih gelar dunia MotoGP tahun lalu. Itulah sebabnya, Pirro menjadi saksi mata seluruh proses transformasi Ducati di MotoGP.

    Michele Pirro Ungkap Momen Ketika Dia Menyadari Potensi Luar Biasa Marc Marquez

    Pecco Bagnaia - Michele Pirro - Marc Marquez
    Pecco Bagnaia – Michele Pirro – Marc Marquez

    Setelah membalap untuk tim Gresini di MotoGP, Michele Pirro menerima tawaran untuk menjadi tes rider Ducati pada 2012. Awalnya, dia yakin pekerjaan tersebut bisa menjadi semacam batu loncatan untuk kembali menjadi pembalap utama di MotoGP. Karena rider Italia itu sangat yakin dia masih kompetitif dan masih sangat layak sebagai pembalap profesional ketimbang hanya sebagai tes rider.

    Pirro mengaku saat pertama kali bergabung, kondisi Ducati sangat kacau dan rumit. Akuisisi Ducati oleh Audi Group membawa banyak perubahan pada organisasi perusahaan. Orang-orang bekerja ‘sak karepe dewe’ dengan arah masing-masing. Setiap divisi memiliki ide dan pandangan sendiri mengenai cara mengembangkan motor, sehingga tidak ada satu pun visi yang jelas. Menurut Pirro, itu adalah masa paling sulit yang dialami Ducati. “Saat itu benar-benar kacau. Semua orang ingin membawa proyek ke arah yang menurut mereka paling benar. Organisasinya sangat berantakan,” ungkapnya.

    Kondisi inilah yang akhirnya membuat Ducati merekrut Gigi Dall’Igna pada 2013. Pirro mengaku bahwa awalnya hubungannya dengan insinyur asal Italia itu tidak bagus. Sebagai pembalap, jelas Pirro ingin sering turun ke balapan. Tapi di sisi lain, Dall’Igna lebih memprioritaskan pembangunan proyek jangka panjang dibandingkan hasil instan.

    Michele Pirro - Marc Marquez
    Michele Pirro – Marc Marquez

    Itulah yang membuat Pirro sempat kesal pada Dall’Igna, karena dia lebih sering berkutat dengan jadwal tes yang padat jadi tidak punya banyak kesempatan tampil sebagai pembalap di MotoGP. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya Pirro sepenuhnya paham alasan di balik semua keputusan itu.

    Menurut Pirro, sejak pertama kali datang Dall’Igna selalu menekankan bahwa membangun fondasi tim yang kuat jauh lebih penting daripada mengejar hasil cepat. Ada satu ucapan Dall’Igna yang sangat diingat Pirro. “Kehilangan seorang pembalap jauh lebih mudah daripada kehilangan seseorang yang memiliki pengalaman sebesar dirimu dalam mengembangkan motor,” ujar insinyur yang saat ini berusia 59 tahun itu. Ucapan tersebut membuat Pirro menyadari betapa pentingnya perannya sebagai tes rider bagi pengembangan Ducati.

    Salah satu yang paling diingat Pirro adalah tes pertama Ducati pada 2015 di Latina. Di sanalah seluruh tim baru memahami bahwa era baru telah dimulai. “Ketika kami tiba di Sepang, kami sadar bahwa Ducati benar-benar telah berubah. Semua pecapaian kami selama 10 tahun terakhir berawal dari motor itu,” ujarnya.

    Pirro menegaskan bahwa kesuksesan Ducati bukan hanya berkat Gigi Dall’Igna semata, tapi juga para insinyur yang sebelumnya sudah lama bekerja di Ducati. Tapi Dall’Igna mampu menyatukan seluruh tim sehingga semua bekerja menuju arah yang sama. “Para insinyur tidak lebih buruk dari sebelumnya. Sebagian besar orang yang bekerja di divisi teknik bahkan masih orang-orang yang sama. Perbedaannya adalah Gigi berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik dari setiap orang dan membuat semua orang bekerja ke arah yang sama,” tegas Pirro.

    Michele Pirro - Marc Marquez - Pecco Bagnaia
    Michele Pirro – Marc Marquez – Pecco Bagnaia

    Pirro menganalogikannya dengan dengan sebuah perahu, “Kalau ada satu orang saja yang mendayung ke arah yang berlawanan, perahu akan mulai menyimpang dari jalurnya. Dall’Igna berhasil menghilangkan perbedaan arah di dalam tim dan membangun metode kerja yang didasarkan pada disiplin, kontinuitas, dan kepercayaan.”

    Pirro juga menyebut jasa besar Claudio Domenicali, Paolo Ciabatti, dan Davide Tardozzi dalam membangun fondasi proyek Ducati hingga menjadi sukses seperti beberapa tahun terakhir. Dia bahkan menegaskan bahwa mengelola manusia jauh lebih sulit daripada mengembangkan motor MotoGP.

    Beberapa waktu yang lalu, Michele Pirro menjalani operasi usai crash saat melakukan tes di Imola. Awalnya Pirro ingin terus melanjutkan pekerjaannya, namun Ducati memutuskan agar dia secepatnya dioperasi. Keputusan mempercepat operasi merupakan kesepakatan antara Pirro dan Gigi Dall’Igna (general manajer Ducati Corse). Mereka memanfaatkan waktu ketika aktivitas pengetesan tidak terlalu padat, agar dia dapat kembali dalam kondisi terbaik untuk menghadapi program tes yang sangat sibuk.

    “Kami ingin terus memiliki proyek yang sukses, tak hanya sekarang tapi juga di masa depan. Kami sudah memenangkan banyak hal dengan motor 1000cc. Sekarang saya juga ingin membantu Ducati memenangkan balapan pertama di era 850cc,” ujarnya.

    Michele Pirro - GP25 - Marc Marquez
    Michele Pirro – GP25 – Marc Marquez

    Terkait Marc Marquez, Pirro mengungkapkan bahwa dia pernah balapan melawan Baby Alien saat di Moto2. Sejak saat itu dia terkesan dengan kecepatan Marquez. “Saat menjalani tes, saya mengamati gaya balapnya. Dari situlah saya yakin, kalau dia sudah bisa beradaptasi maka tidak ada satu pembalap yang bisa mengimbanginya,” tegas Pirro.

    Begitupun tatkala Marquez naik ke MotoGP. Meski belum bisa menjadi yang tercepat di semua sektor namun kemampuannya dalam mengendalikan motor sangat luar biasa. “Saat itu kita berpikir bahwa begitu dia beradaptasi, dia akan tak terhentikan,” imbuh Pirro.

    Pirro juga menyebut bahwa Casey Stoner adalah pembalap yang unik. Pembalap asal Australia itu praktis berkendara tanpa bantuan elektronik, hanya mengandalkan instingnya terhadap gas dan rem belakang. Sementara pembalap lain banyak dibantu kontrol traksi atau anti-wheelie, Stoner lebih suka melakukan semuanya secara manual. Bahkan Pirro sempat mencoba salah satu mapping atau set-up Stoner di Sepang dan mengaku bahwa dia nyaris tidak bisa menyelesaikan satu lap. “Ban Michelin langsung habis dalam satu lap begitu keluar dari pit. Dia melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan rider lain,” imbuhnya.

    Pirro menambahkan bahwa gaya balap ekstrem inilah yang membuatnya sangat sulit untuk menggunakan umpan balik Stoner untuk mengembangkan motor. Sementara pembalap lain seperti Andrea Dovizioso atau Jorge Lorenzo, justru mampu memberikan feedback yang berguna untuk membangun Ducati agar menjadi motor yang lebih seimbang, lebih mudah dikendarai, dan bisa tampil kompetitif di tangan banyak pembalap.

    Michele Pirro - Casey Stoner
    Michele Pirro – Casey Stoner

    Stoner mampu mengeluarkan performa dari motor yang praktis hanya dia yang bisa menguasainya. Bagi Pirro, pencarian keseimbangan itu justru menjadi salah satu rahasia besar di balik kesuksesan Ducati selama 10 tahun terakhir.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini