RiderTua.com – Jorge Lorenzo mengaku tidak terkejut dengan dominasi Marc Marquez di Sachsenring akhir pekan lalu. “Jika ada satu sirkuit di mana dia harus mendominasi, itu jelas adalah Sachsenring. Sekarang dia sudah membukukan 10 kemenangan, menyamai rekor (Giacomo) Agostini di Imatra. Tetapi kali ini terutama di sprint race, dia tampak kesulitan. Dia harus hati-hati mengatur tenaganya dan menangani seluruh situasi dengan sangat baik. Cedera yang dialaminya membuat para rivalnya yang rata-rata lebih muda darinya, selalu menunggu dia membuat kesalahan,” jelas mantan pembalap MotoGP yang pensiun pada 2019 itu.
Lorenzo melanjutkan, “Dan Marc tidak lagi mendominasi, seperti saat masih balapan bersama Honda dan dalam kondisi fisik terbaiknya. Sekarang dia harus pintar mengatur tenaganya, tetapi pada akhirnya dia berhasil melewati semuanya dengan baik. Dia mencetak 37 poin. Dari sisi perolehan poin, sulit baginya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik karena rival utamanya melakukan banyak kesalahan. Dia memasuki summer break dengan selisih poin yang sangat dekat dengan pemimpin klasemen.”
Jorge Lorenzo: Peringatan untuk Pembalap Lain, Marc Marquez Masih Punya 3 Kartu Truf di Sisa Musim Ini

Jorge Lorenzo menambahkan, “Marc Marquez masih punya 3 ‘kartu truf’ yang tidak dimiliki pembalap yang lain. Yaitu 3 sirkuit yang punya layout berlawanan arah jarum jam atau banyak tikungan kirinya seperti Aragon, Phillip Island, dan Valencia sebagai balapan pamungkas. Kalau hingga balapan di 3 sirkuit tersebut tingkat persaingan di klasemen mepet banget, maka dia bisa punya keunggulan yang signifikan. Dan pembalap lain tidak punya keunggulan khusus yang benar-benar membuat perbedaan.”
“Menurutku ketika Marc tampil di sirkuit dengan banyak tikungan kiri seperti 3 sirkuit ini, dia punya peluang menang antara 80 dan 90 persen. Namun di sirkuit dengan banyak tikungan kanan, persaingannya jauh lebih seimbang. Musim ini menjadi sangat menarik,” imbuhnya.
Lorenzo juga menyoroti crash yang dialami Fabio Di Giannantonio dan Alex Marquez di Sachsenring. “Crash Di Giannantonio, salah satu dari sedikit insiden tahun ini. Kita bisa melihat bahwa setelah mencapai sudut kemiringan maksimum, dia mulai melepaskan rem. Dia memasuki tikungan dengan kecepatan yang terlalu tinggi dan momentum yang terlalu besar. Akibatnya, saat berbelok ke kiri beban yang diterima ban depan terlalu berat sehingga kehilangan grip, lalu dia terjatuh,” jelasnya.

Mantan rider yang kini menjadi pengamat MotoGP itu melanjutkan, “Alex sebenarnya memasuki tikungan dengan tenang dan lebih lambat daripada kakaknya Marc. Tetapi karena gaya balapnya, bagian depan motornya tetap saja kehilangan grip meskipun saat masuk tikungan dia lebih lambat ketimbang Marc. Itu sangat mengejutkan bagi saya, tetapi begitulah yang terjadi.”
Lorenzo terkesan dengan penampilan Ai Ogura di GP Jerman akhir lalu. “Momen terbaik dalam balapan adalah aksi Ogura. Dia menekan rem dua kali, lalu melepaskannya untuk menyamai posisi Raul (Fernandez) sebelum mengambil racing line bagian dalam tikungan. Itu manuver yang sangat bagus. Meskipun dalam tayangan tidak terlalu jelas, dia bahkan sempat melirik Raul,” ujarnya soal duo tim Trackhouse Racing itu.
Soal Marco Bezzecchi, Lorenzo mengatakan, “Saat itu, sebelum menjalani operasi, saya sempat berpikir dia sudah kehilangan peluang dalam perebutan gelar dunia musim ini. Tidak ada yang menyangka Bezzecchi akan mengalami begitu banyak masalah, dan dia sangat tidak konsisten. Padahal sebelumnya Aprilia mendominasi di hampir semua sirkuit. Sementara Ducati juga berhasil membuat langkah maju, meskipun saya tidak tahu persis apa perubahannya. Memang sekarang mereka menggunakan winglet belakang yang baru.”

“Ketika kita berada dalam situasi yang jelas-jelas tidak menguntungkan seperti kasus Bezzecchi sebelum crash, lalu kita melihat pembalap lain lebih cepat 0,2 detik meskipun kondisi fisik sedang tidak fit karena cedera tulang rusuk, kita tetap ingin mengejar mereka. Di situlah faktor risiko mulai berperan.”
“Marc sangat jarang melakukan kesalahan. Tetapi sebelum menjalani operasi atau pasca balapan di Le Mans, dia juga berada dalam posisi yang tidak menguntungkan melawan Aprilia. Saat itu dia tertinggal dari Ogura, Bezzecchi, dan juga Martin. Dia ingin finis ke-5 atau bahkan ke-4, tapi justru terjatuh dan cedera,” imbuh mantan rider asal Mallorca Spanyol itu.
Menurut Lorenzo, Ogura punya kemampuan unik yang jarang dimiliki pembalap. “Bagi saya, salah satu kelebihan terbesar Ogura adalah dia nyaris tidak pernah terjatuh. Seperti yang kita lihat saat dia masih di Moto2, cedera yang dideritanya berasal dari satu-satunya crash yang dialaminya saat itu. Dia adalah pembalap yang nyaris tidak pernah melakukan kesalahan. Setiap pembalap pasti pernah melakukan kesalahan. Biasanya itu terjadi karena merasa kalah bersaing dan berusaha memaksakan diri melebihi kemampuan yang sebenarnya,” jelasnya.
Lorenzo juga mengaku mendukung sistem kualifikasi di MotoGP saat ini. Menurutnya, sistem saat ini jauh lebih baik ketimbang era MotoGP zaman dulu. “Menurut saya, sistem lama sangat tidak fair. Memang saya tidak mengalaminya sendiri. Tetapi di akhir atau di pertengahan tahun 80-an, biasanya ada 4 atau 5 motor identik yang berada di baris yang sama di grid,” jelasnya.

Putra Chicho Lorenzo itu melanjutkan, “Dan ketika motor melaju di lintasan, praktis tidak ada perbedaan apakah dalam kualifikasi berada di posisi pertama atau ke-4. Sekarang justru kebalikannya. Di Formula 1, selalu ada dua pembalap dengan gap yang cukup besar. Dan sejak dulu kualifikasi memang sangat menentukan. Dan sekarang di MotoGP, pengaruh posisi start semakin besar dan nyata. Menurutku itu justru bagus.”
Soal Pedro Acosta, Lorenzo mengatakan, “Dia pasti akan berusaha meraih kemenangan dengan KTM, meski sangat sulit. Namun dia harus pintar agar terhindar dari cedera dan tidak memaksakan diri melebihi batas kemampuannya, yang tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Dengan motor seperti itu, kalau dia ingin bersaing melawan Aprilia atau Ducati maka dia harus mengambil risiko yang lebih besar dan menjaga semuanya tetap terkendali. Mengendalikan momentum sangatlah tidak mudah.”












